Tradisi Ciptagelar di Sukabumi Mampu Pertahankan Kampung Adat

Abah Ugi/AHMAD RAYADIE/PR

SEBAGAI wilayah yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur,  Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, berada di Kampung Sukamulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi memiliki  berbagai  keistimewaan. Kampung Gede adalah sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur.

Berdasarkan data yang diperoleh, di Kasepuhan Ciptagelar jumlah warga kasepuhan sebanyak  15.795 jiwa atau 3.833 KK. Sementara warga kasepuhan yang berada di Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar sebanyak 338 jiwa terhimpun dalam 76 KK.

Secara geografis Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar  memiliki wilayah administrasi mencakup tiga wilayah. Wilayahnya meliputi, Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi

Kampung adat yang mempunyai ciri khas. Tidak hanya bentuk rumah, tapi  tradisi yang masih  memegang teguh adat istiadat. Kedua ciri khas tersebut  menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan  Pemerintah Belanda  sempat memberikan penghargaan  dalam hal ekologi.

Kasepuhan adat Ciptagelar  merupakan kampung adat  yang berada dikesatuan adat Banten Kidul. Kasepuhan Adat Ciptagelar masih memegang kuat adat dan tradisi yang diturunkan diperkirakan  sejak 640 tahun  lalu.  

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh melalui jalur  darat dengan lintasan  dari pesisir Pantai Selatan Palabuhanratu menuju  Desa Sirnaresmi di Kecamatan Cisolok. Selain  tidak beraspal,  lintasan hanya bisa dilalui kendaraan offroad dan kendaraan roda dua gunung. Jarak  diperkirakan lebih dari 14 kilometer berada di areal kawasan  hutan.

Keberadaan kampung adat berada 27 km  dari pusat kota kecamatan Cisolok. Sedangkan dari pusat pemerintah kota Sukabumi diperkirakan mencapai 103 Km. Sedangkan  dari Bandung  dengan jarak tempuh mencapai 203 km ke arah Barat.

Kampung adat Ciptagelar dipimpin Sepuh Girang Abah  Ugi Sugriwa Raka Siwi. Abah Ugi memegang tampuk kepemimpinan kasepuhan setelah ayahandanya,  Encup Sucipta  atau yang dikenal dengan  Abah Anom meninggal dunia. Dia memimpin saat masih berusia 23 tahun.  

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul  berada di daerahan agraris. Sebagian besar masyarakatnya, berprofesi bertani. Kendati ada sebagian kecil berprofesi selain petani, seperti berdagang, buruh dan pegawai. Tapi  warga yang berada dikawasan Taman Nasional Gunung Halimun sama sekali tidak meninggalkan lahan pertanian.

 “Sebagian besar warga berprofesi  petani. Terutama warga yang berada di disekitat kampung adat, masih memegang teguh adat dan  tata cara bertani tradisional  bertani,” kata juru bicara Kasepuhan Ciptagelar, Yoyok Yogasmana

Ada beberapa pantangan dalam  mengolah dan bercocoktanam, kata Yoyok Yogasmana, selain harus mengolah secara tradisional. Juga warga  Kasepuhan Ciptagelar dilarang menjual beras atau padi. Sehingga tidak aneh Kasepuhan Ciptagelar mampu berswasembada pangan hingga beberapa tahun kedepan. 

“Padi  merupakan kehidupan, bila  seseorang menjual beras atau padi, berari menjual kehidupannya sendiri. Padahal kehidupan  berarti sama halnya berbicara hidup yaitu berbicara nyawa,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan yang lainya untuk mendapatkan uang , kata Yoyok Yogasmana, warga kampung adat memiliki sumber-sumber penghasilan yang lain. Mereka  beternak, berdagang, membuka usaha atau menjadi pegawai.  “Sumber penghasilan itulah,  bisa dijual belikan untuk memperoleh uang. Hanya saja,  menjual  beras kami sangat melarang keras,” katanya.

Selain itu, kata Yoyok Yogasmana, warga Kasepuhan Cipta Gelar menggunakan strategi tanam serentak dengan melihat tanda-tanda astronomi.  Termasuk menggunakan pola tanam  dengan menggunakan strategi menanam padi serentak.  

Langkah tersebut sangat efektif, kata Yoyok Yogasmana,  sehingga siklus hama  dapat dihindarkan.  Komunalitas ini membuat agenda tanam dapat dilakukan secara serentak dan efektif meskipun hanya sekali panen dalam setahun

“Karena serentak jadi hamanya sedikit dan hanya sekali waktu saja. Dan kalaupun ada tikus, masyakat kamung adat menganggap tikus bukanlah hama melainkan merupakan bagian dari kehidupan warga Cipta Gelar. Dan itu tidak perlu dibunuh hanya dihindarkan,” kata  Yoyok Yogasmana.

Kasepuhan Ciptagelar untuk memenuhi kebutuhan pangannya, kata Yoyok Yogasmana,  melakukan cara atau sistem pertanian menanam padi setahun sekali   tanpa menggunakan mekanisme pertanian yang modern. Petani hanya  menggunakan pola-pola tradisional untuk tata cara bercocok tanam. “Termasuk tidak menggunakan mesin traktor, gilingan padi hingga cara memanen. Apalagi menggunakan pupuk kimia menjadi pantangan para petani,” katanya.

Yoyok Yogasmana mengatakan  Kasepuhan Ciptagelar memiliki  jenis padi hingga mencapai 120 jenis. Walaupun hanya sekali panen dalam setahun kasepuhannya   memiliki 8.000 lumbung padi. Ribuan lumbung tersebut merupakan stok  bagi  30.000 warga hingga 3 tahun kedepan. “Jadi kami mah teu keeung ku beas (warga tidak pernah resah dengan beras---red),” katanya.

Selain itu,  masyarakat adat   di Kampung Ciptagelar  dipandang sebagai kelompok masyarakat yang mampu menyeimbangankan antara manusia dengan alam. Terutama dalam hal pengelolaan hutan yang berada disekitar pemukiman sebagai salah satu sumber kehidupan. Salah satunya, tatanan yang tidak dapat ditinggalkan dalam pengelolaan pertanian.

Meskipun sebagai kelompok masyarakat yang masih kuat memegang teguh menjaga adat istiadat leluhur. Namun tidak menampik kemajuan teknologi. Bahkan  teknologi, kini telah dinikmati sebagai bagian tatanan dilingkungan masyarakatanya.

Masuknya lsitrik  dari hasil kepiawaan merakit alih teknologi yang dilakukan sosok Abah  Ugi Sugriwa Raka Siwi. Sehingga kini tekologi mampu  membawa kampung adat dapat menikmatin modernisasi. Sehingga tidak perlu heran, meski  berada ditengah tengah pegunungan, warga Ciptagelar tidak pernah kehilangan informasi. “Dengan mengusai teknologi, kami tidak lagi bisa dibobodo deui,” kata Ugi Sugriwa Raka Siwi .

Dari hasil kemampuan menyerap tekologi, kata Ugi Sugriwa Raka Siwi, warganya kini mampu menikmati listrik. Dengan mengoptimalkan keberadaan sungai yang berada di sekitar pemukiman warga menggerakan turbin pembangkit listrik sehingga ratusan warganya mampu menikmati listrik. 

“Walaupun masih sangat sederhana, tapi Kasepuhan Ciptagelar sudah  memiliki stasiun TV lokal sendiri yang diberi nama Ciga TV,” katanya.

Pada prinsipnya, kata Ugi  Sugriwa Raka Siwi,  warga Kasepuhan Ciptagelar tidak menutup diri terhadap inovasi dari luar. Tapi keberadaaannya harus diselaraskan dengan kehidupan kampung adat. Seperti penggunaan barang-barang elektronik.  Namun prinsif teguh menjaga tradisi dan budaya pendahulu dapat menjadi penyeimbang tatanan kehidupan agar tidak tergerus dan terbawa arus modernisasi.

“Ada istiadat tidak boleh hilang, tetapi tetap tidak meninggalkan perkembangan tekhnologi. Jadi, jika mengurangi tidak boleh tetapi kalau menambah tidak apa-apa,” katanya.

Perkembangan zaman dan teknologi tidak sedikitpun mempengaruhi masyarakat Ciptagelar dalam menjalankan sisten penggarapan pertanian khususnya padi. Tidak hanya masyarakat dikampyng ini mampu mempertahankan tradisi leluluhur dalam hal menanak nasi.

Jika sebagian masyarakat bisanya lebih memilih memafaatkan kemajukan teknologi pertanian yang kian berkembang. Namun tidak bagi masyarakat Ciptagelar. Mereka secara turun teurun tetap menjaga dan melstarikan  tradisi leluhur.

Bahkan dikampung adat  ini juga sangat begitu hormat dalam memperlakukan padi. Bahkan mereka menyimpa ditempat khusus yang disebut dengan Leuit atau lumbung padi yang dibangun dan ditempat secara khusus.

“Terutama  adat istiadat dalam pertanian secara tradisional. Adat  turun temurun memang harus tetap dipertahankan dan tidak akan merubahnya. Tapi  warga adat  tetap terbuka dengan tekhnologi lain,” katanya

Tata cara lainnya yang masih dipegang kuat yaitu tradisi memasak nasi. Secara turun temurun masyarakat di kampung ini mengolah beras menjadi nasi dengan cara tradisonal. Yaitu menggunakan berbagai jenis peralatan memasak seperti Aseupan, atau tempat yang terbuat dari bambu berbentuk kerucut yang disimpan diatas wajan atau seeng dengan menggunakan energi pemanas dari tunggku berbahan kayu bakar.

Sementara nasi yang dihidangkan dimasukan kedalam boboko atau bakul yang sebelumnya sudah dikasih daun pisang sebagai alas. Menjaga tradisi leluhur menjadi kewajiban setiap masyarakat adat yang tidak dapat ditukar sampai kapanpun dalam menjaga dan melestarikan pertanian, Khususnya padi.

Selain itu, menjadi kekuatan tradisi di kampung Gede Kasepuhan Cipta gelar yaitu, bentuk bangunan yang sangat kental dengan nuasa alam. Berbahan kayu atau bambu dan beratp daun rumbia atau ijuk. Secara teroritail daerah berada diantara tiga kabupaten. Yaitu, Bogor, lebak banten dan Sukabumi.

Keteraturan dan keseimbangan alam semesta merupakan sesuatu yang mutlak. Adanya malapateka atau bencana menurut pandangan warga kasepuhan adalah sebagai akibat keseimbangan dan keteraturan alam semesta terganggu. “Sementara tugas  manusia adalah memelihara dan menjaga keseimbangan hubungan berbagai unsur yang ada di alam semesta ini,” katanya.***

Baca Juga

Bencana Alam Meluas ke Daerah Aman

SUKABUMI, (PR).- Bencana  tanah longsor dan puting beliung di Kabupaten Sukabumi, Senin, 5 November 2018, terus meluas. Bahkan belum genap sepekan, telah teriventarisasi bencana alam meluas hingga terjadi di sebelas kecamatan.

Ribuan Warga di Sukabumi Sepakat Menolak LGBT

SUKABUMI, (PR).- Ribuan warga menggelar aksi menolak Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) di Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi. Mereka membaur menjadi satu menolak perilaku penyimpangan seks.