Buah Impor Terindikasi Mengandung Formalin

ODAH penjual buah-buahan di Pasar Jatiwangi sedang menjajakan barang dagangannya. Naiknya harga buah-buahan impor akibat pengaruh harga dolar.*
Ilustrasi Buah Impor/TATI PURNAWATI/PR

CIREBON, (PR).- Sejumlah buah impor yang dijual di beberapa supermarket dan pasar modern di Kota Cirebon terindikasi mengandung formalin dan pestisida.

Indikasi tersebut diperoleh dari hasil tes cepat yang dilakukan Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan, terhadap sejumlah sampel buah-buahan yang dijual di supermarket dan pasar modern.

Buah yang terindikasi mengandung zat-zat berbahaya tersebut diantaranya apel dan jeruk.

Menurut Sekretaris Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan, Ripin Ependi, secara rutin pihaknya melakukan pengecekan cepat, terhadap buah dan sayuran yang dijual di sejumalh pasar modern yang ada di Kota Cirebon.

"Secara rutin, dua kali sebulan kami melakukan pengecekan," kata Ripin, Senin, 20 Maret 2017. Sampel tersebut diambil dari 11 lokasi berbeda yang ada di Kota Cirebon.

Hasil tes cepat yang dilakukan, katanya, ada sejumlah buah yang terindikasi mengandung formalin dan pestisida. Menurut Ripin, untuk pestisida, dalam ambang batas tertentu masih ada yang diperbolehkan.

"Tapi kalau formalin, sama sekali tidak boleh," kata Ripin.

Untuk itu, lanjut Ripin, pihaknya telah membuat surat kepada pengelola supermarket dan pasar modern tersebut untuk menegur supplier.

"Pembinaan dan himbauan terus kami lakukan," kata Ripin.

Sementara itu Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan, Elmi Masruroh, mengungkapkan, rata-rata pengelola supermarket dan pasar modern tidak mengatahui, buah-buahan terutama buah impor, yang dijualnya mengandung zat-zat berbahaya.

"Setelah dilakukan tes cepat, ternyata ada yang terindikasi, mereka juga kaget," katanya. Pengelola supermarket dan pasar modern tersebut menurut Elmi, menyambut baik tes yang dilakukan.

Menurutnya, pihak penjual rata-rata justru tidak tahu, soal indikasi kandungan formalin dan pestisida. Makanya dengan adanya tes, mereka mengaku akan lebih berhati-hati lagi menjual produknya.

"Termasuk menegur dan mewanti-wanti supplier buah," kata Elmi.

Dengan adanya hasil itu, Elmi kembali meminta masyarakat lebih menggalakkan lagi mengonsumsi buah-buahan lokal. "Buah-buan lokal justru lebih aman," kata Elmi.

Menurutnya, karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk distribusinya, sehingga penggunaan zat-zat pengawet maupun berbahaya lainnya tidak perlu digunakan.***

Baca Juga

Lebih dari 4,2 Juta Warga Jabar Hidup Miskin

CIREBON,  (PR).- Sedikitnya 4,2 juta atau setara 8,71% warga Jawa Barat hidup dalam kemiskinan. Dari angka tersebut,  1 juta jiwa diantaranya adalah lansia miskin yang harus mendapat perlindungan sosial.