Belasan Ton Makanan Kedaluwarsa Siap Diedarkan Lagi

Sita Makanan Kedaluwarsa/ANI NUNUNG/PR
KABID Perlindungan Konsumen Disperindag Jawa Barat, Bismark (kanan), Kasi Penyidikan BBPOM Bandung Edi Kusnadi (kedua kanan, jongkok), dan sejumlah anggota tim terpadu memeriksa makanan dan minuman kedaluwarsa di gudang milik Teguh di RT 8/RW 3 Desa Setu, Wetan Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon Kamis 16 Februari 2017.

SUMBER, (PR).- Dua gudang makanan dan minuman yang sudah kedaluwarsa di Desa Weru Kidul dan Setu Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, digerebek tim gabungan Kamis 16 Februari 2017. Dari gudang itu, sebanyak 15 ton makanan, minuan, bumbu dapur, serta berbagai jenis minyak dinyatakan tak layak konsumsi karena kedaluwarsa.

Tim gabungan itu terdiri dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung, Balai Standarisasi dan Pengendalian Mutu Barang Disperindag Jabar, dan Polda Jabar. 

Saat penggerebekan dilakukan, bau menyengat sedikit asam langsung menyeruak hingga ke luar gudang. Berbagai makanan ringan, mulai dari cokelat, permen, biskuit, keripik kentang, sampai mi instan, kecap, susu kental maupun bubuk, berbagai minuman ringan dan bersoda, minyak zaitun, bumbu siap pakai, dan lainnya, disita BBPOM setelah Teguh menandatangani berita acara penyitaan.

Sebagian kemasan makanan itu dikelupas bungkus luarnya, sehingga tidak diketahui merek dan tanggal kedaluwarsanya. Bahkan untuk mi instan, dikeluarkan dari bungkusnya dan disatukan dalam satu plastik besar.

Pemilik gudang dituduh telah melanggar UU Pangan Nomor 18/2012 dan UU Perlindungan Konsumen Nomor 8/1999. Teguh, pemilik gudang, mengaku membeli semua jenis makanan dan minuman kedaluwarsa itu dalam karung-karung, seharga Rp 1.000 per kilogram. Makanan dan minuman itu, menurut dia, datang dari sejumlah pasar di sekitar Cirebon. Ia kemudian menjual lagi seharga Rp 1.500 per kilogram. "Atau kalau belinya dipilih-pilih dan dipilah-pilah seharga Rp 3.000 per kilogram," jelasnya.

Teguh mengaku, pembeli makanan kedaluwarsa adalah para peternak. "Katanya untuk makanan ternak," kilahnya. Namun, ketika ditanya kalau untuk ternak, kenapa bungkusnya harus dilepas, Teguh hanya terdiam.

Menurut Kabid Perlindungan Konsumen Disperindag Jabar, Bismark, penyitaan oleh BBPOM merupakan tindak lanjut dari investigasi yang dilakukan Disperindag Jabar, sepekan sebelumnya.

"Begitu kami mendapat laporan warga soal gudang penyimpanan makanan dan minuman kedaluwarsa, kami langsung turun menginvestigasi. Namun karena kami tidak memiliki kewenangan penyidikan dan penyitaan, akhirnya BBPOM yang menindaklanjutinya," kata Bismark yang ditemui di lokasi penggerebekan.

Sementara Kasi Penyidikan BBPOM Bandung Edi Kusnadi menyatakan, meski ada dugaan pelanggaran terhadap dua UU tersebut, status Teguh masih sebagai saksi. Selain Teguh, salah seorang pegawainya Adi dan Didi, Ketua RT setempat juga ikut dimintai keterangan sebagai saksi. "Kami akan memeriksa dulu saksi-saksi termasuk Teguh yang diduga pemilik barang tersebut," katanya.

Sedangkan dari gudang milik Umar di RT 1/RW 3 Blok Makmur Desa Weru Kidul, BBPOM tidak melakukan penyitaan, karena di kemasan makanan ringan yang diproduksinya tertera nomor Perizinan Industri Rumah Tangga.

Menurut Kasi Penyidikan BBPOM Bandung Edi Kusnadi, pihaknya harus memastikan dulu legalitas PIRT ke Dinas Kesehatan setempat. "Nanti setelah ada konfirmasi dari Dinkes, baru kami bisa mengambil sikap. Soal nanti misalnya diketahui nomer registrasi izinnya palsu, akan semakin memberatkan pemilik usaha," katanya.

Padahal, di gudang milik Umar, selain menyimpan makanan kedaluwarsa seperti kacang telur, permen, susu bubuk, dan lainnya, juga terdapat usaha pengemasan makanan ringan. Makanan ringan dengan merek Fujiyani berupa kacang telor, kacang kulit, susu bubuk putih yang sudah dikombinasi dengan susuk bubuk cokelat, dan remah-remah keripik.

Pengemasan makanan ringan dilakukan di gudang dua lantai yang luar biasa kotor dan berbau asam menyengat. Bahkan, bangunan Musala Al Barokah yang dibangun Umar di depan gudang miliknya, bukannya untuk beribadah, melainkan dimanfaatkan untuk tempat mengemas makanan ringan.

Menurut Jayadi, salah seorang karyawan, pemilik usaha, Umar sedang di Jakarta. Namun, saat sejumlah tim terpadu sibuk melihat-lihat isi gudang, Jayadi tiba-tiba menghilang.

Menurut salah seorang warga sekitar, sebenarnya warga sudah mengadukan usaha makanan ringan tersebut ke aparat desa, kecamatan bahkan kabupaten sejak lama.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon Deni Agustin mengungkapkan, sebenarnya sejumlah pemilik usaha sudah diberi peringatan, namun tetap membandel. "Makanya dengan adanya penyitaan semua makanan dan minuman kedaluwarsa itu, mudah-mudahan jadi jera," katanya.***

Baca Juga

Ratusan Ribu Naskah Kuno Nusantara Dikuasai Asing

CIREBON, (PR).- Terdapat ratusan ribu naskah kuno dari seluruh wilayah nusantara ternyata dikuasai pihak asing. Tidak hanya dikuasai secara lembaga, namun juga perseorangan.