Prostitusi Rumahan: Saat Stigma Jadi Dilema di Pagaden

Salah satu sudut perkampungan di Kecamatan Pagaden, Subang/YUSUF WIJANARKO/PR

Hari ke-3

-6.456337, 107.812611

SULIT menceritakan fakta yang saya temui di sini jika harus tetap mengindahkan norma dan etika benar-salah maupun baik-buruk. Jadi, saya sampaikan saja apa adanya.

Prostitusi terjadi secara terselubung tetapi sekaligus juga terang-terangan. Terselubung karena berlangsung di tengah permukiman warga dan bukan di lokalisasi.

Terang-terangan karena kegiatan itu diketahui warga termasuk orang tua si perempuan pekerja seks komersial.

Contoh paling umumnya, saat sang anak perempuan tengah berduaan dengan tamu di dalam kamar, ibu-bapaknya menyuguhkan minuman beralkohol dan makanan untuk tamu tersebut.

Semuanya berlangsung di dalam rumah mereka. Seringnya, praktik prostitusi dilakukan di dalam kamar yang hanya dibatasi dinding triplek dengan kamar ibu-bapaknya, tidak peduli siang atau malam.

Keberadaannya benar benar sulit terdeteksi. Jika dilihat sepintas, pemukiman itu tampak seperti pemukiman pada umumnya. Padat tapi tidak terlalu kumuh dengan banyak gang sempit bak labirin. Di sela-selanya masih terdapat beberapa petak kebun.

Kenyataan itu saya dapati ketika tengah beristirahat di warung kecil dalam perjalanan dari Pagaden menuju Blanakan. Melihat saya memanggul tas besar, seorang pengojek menghampiri dan berkata, "Ojek Mas?" Sebentar ia diam lantas kembali bertanya dengan suara lebih pelan "Apa mau dianter jajan? Tenang Mas, aman kok soalnya ini di rumah."

Pagaden dikenal punya stigma negatif dan 'jajan' pasti berkonotasi negatif pula. Pertanyaan si tukang ojek memancing rasa penasaran. Untuk menghindari kesalahpahaman, saya putuskan memperkenalkan diri setransparan mungkin dan meminta diantarkan ke lokasi yang dimaksud untuk sekadar wawancara.

Melihat air mukanya, semula saya mengira tukang ojek yang mengaku bernama Iwan itu akan menolak. Namun rupanya ia bersedia mengatar.

Dipertemukanlah saya dengan seorang PSK berumur 20 tahun berinisal R yang bersedia diwawancarai. Lebih dari itu, ibunya yang berinisial F (37) pun ternyata mau ditanyai. Perjanjiannya, selain tidak berkenan disebut identitas jelas, mereka juga tidak ingin alamat desa tempat tinggalnya dibocorkan.

"Bapaknya tidak ada. Sedang berjualan," ucap F membuka obrolan di ruang tamu. Kami duduk beralaskan karpet merah lusuh yang sepertinya belum pernah dicuci sejak dibeli entah kapan. Saya meminta pintu depan rumah dibuka lebar selain untuk menghindari kecurigaan warga juga karena udara Subang yang panas.

Beberapa pekan sebelum kedatangan saya, R baru berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik dengan gaji yang dianggap masih kurang. Di luar jam kerja, ia hampir selalu berada di rumah mengurus pekerjaan rumah tangga. Rutinitas itu sudah dijalaninya setahun belakangan. Sempat ia bekerja di Karawang tetapi kurang kerasan.

Menit-menit pertama obrolan begitu canggung dan kaku. Setelah ngalor-ngidul berbasa-basi, mereka mulai terbuka. Tanpa merasa perlu ada yang harus ditutup-tutupi, R berujar jika tarifnya Rp 400 ribu sekali kencan. Ia menolak semua ajakan kencan di luar rumah dengan alasan keamanan dan kenyamanan.

"Tak usah buru-buru, sampai besok juga boleh. Nanti makan dan minum disediakan," katanya polos.

Sementara F berkisah, bertahun tahun lalu, keberadaan praktek prostitusi rumahan itu masih bisa dikenali dengan adanya lampu kecil warna-warni maupun musik yang diputar lumayan keras sebagai penandanya. Kini, hal itu hilang dan semua dilakukan secara lebih rapi dan tersembunyi.

Berjalan kaki sejauh sekitar 5 km dengan beban 15 kg lebih membuat pundak dan kaki jenuh. Saya meminta izin tinggal lebih lama untuk beristirahat serta membersihkan badan dan lagi-lagi mereka tidak keberatan.

Lebih lama saya di sana, lebih banyak yang mereka ceritakan.

Baginya tak masalah sang anak menjadi PSK karena ia melakukan hal serupa saat masih muda bahkan setelah R lahir. Suaminya pun merestui.

"Kalau ada pekerjaan lain yang gajinya cukup, kami akan kurangi (praktik prostitusi) ini tapi tidak mungkin ditinggalkan sama sekali karena bayarannya lumayan," tutur F.

R lantas menyambung penjelasan ibunya, "Banyak perempuan seumur saya yang juga melakukan hal ini. Pekerjaan lainnya ada yang menjadi penjaga toko, buruh pabrik, pedagang, pembantu rumah tangga. Ada juga beberapa TKI yang baru pulang dari luar negeri karena habis masa kontraknya."

Keduanya lebih banyak menatap TV yang ada di ruang tamu itu sehingga kami jarang melakukan kontak mata selama mengobrol.

Pria nakal dari luar kota adalah pangsa pasarnya. Tarif yang mereka patok pun bervariasi bergantung berapa yang ditetapkan mucikarinya. Kisarannya antara Rp 200-700 ribu. Jika ada mobil berplat nomor luar Subang yang menepi, hampir bisa dipastikan akan selalu ada warga yang menghampiri dan berperan menjadi perantara.

"Di rumah rumah seperti ini jauh lebih aman daripada saya harus nongkrong di Pantura sana. Biasanya tamu juga datang siang. Jarang ada yang malam." R berceloteh.

Bagi PSK yang sudah punya anak, si anak diungsikan terlebih dahulu kerumah kerabat atau tetangga selama transaksi seks terjadi.

Pembicaraan berakhir ketika R harus berangkat menjemput ayahnya menggunakan sepeda motor. Saya pun kembali bergegas melanjutkan perjalanan sebelum sore menjelang.

Saat singgah di Mapolsek Pagaden, Kapolsek Pagaden Kompol Ojat Sudrajat menerangkan, hal itu sudah terjadi berpuluh tahun dan masih berlangsung sampai sekarang. Persebarannya hampir di semua desa di Pagaden dan Pusakanagara.

Karena terselubung, pengawasan dan pemberantasannya sangat sulit. Semua tindakan itu nyaris menjadi sia-sia. Aktivitas itu telah menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun hingga kemudian dianggap biasa.

"Lain halnya dengan prostitusi di kawasan Pantura. Sekali razia, puluhan PSK langsung tergiring dengan mudah," ucapnya.

Karakteristik sosial masyarakat Subang terbagi menjadi tiga golongan berdasarkan wilayah. Masyarakat di wilayah Subang Selatan lebih religius dan peka terhadap isu moral.

Masyarakat di Subang tengah termasuk Pagaden cenderung cuek. Di Subang Utara yang berbatasan dengan laut, masyarakatnya selain cuek juga kurang punya empati. Begitulah tatanan sosial masyarakat Subang dari sudut pandang polisi.***

Baca Juga

Alternatif Baru Bandung-Subang, Naik Damri via Tol

SUBANG, (PR).- Angkutan umum dari Kabupaten Subang menuju Bandung ada alternatif baru. Jika biasanya harus melalui jalur Lembang, kini menggunakan jalan tol menyusul dioperasikannya bus Damri.