Petani Ujungjaya Mulai Menanam Padi

Petani Ujungjaya Mulai Menanam Padi
ADANG JUKARDI/PRLM
PETANI tengah mengolah lahannya untuk ditanami padi menyambut musim hujan pada musim tanam Desember 2015-April 2016 di areal pesawahan di Kampung/Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya, Minggu (20/12/2015).*

SUMEDANG, (PRLM).-Para petani di Kecamatan Ujungjaya, menyambut musim hujan saat ini dengan mengolah lahan sawahnya. Mereka mulai mencangkul, menyiapkan benih padi, pupuk dan obat-obatan pestisida.

Petani mulai menggarap sawahnya untuk menanam padi pada musim tanam Desember 2015 hingga April 2016 nanti atau rata-rata 100 hari. Mereka menanam padi, setelah beberapa bulan sebelumnya membiarkan lahan sawahnya tidak ditanami karena berbarengan dengan musim kemarau panjang.

“Saya membiarkan lahan sawahnya gamblung (tidak ditanami) karena lahan sawahnya tadah hujan. Di sini tidak ada saluran irigasi, sehingga kami hanya mengandalkan air hujan untuk bertani padi. Nah, dengan musim hujan yang sekarang, waktunya mulai menanam padi lagi. Semua petani di Ujungjaya, umumnya mulai menanam padi, setelah musim tanam sebelumnya terjadi kemarau panjang,” ujar salah seorang petani di Ujungjaya, Safrudin (45) ketika ditemui di lahan sawahnya di Kampung/Desa Keboncau, Kec. Ujungjaya, Minggu (20/12/2015).

Menurut dia, dirinya mulai mengolah lahan sawah miliknya sendiri seluas 350 bata (tumbak). Ia akan menanam benih padi “nengsih” yang dibibitkannya sendiri. Bahkan ada beberapa petani lainnya yang sudah lebih dulu menanam padi, termasuk dengan cara diaseuk.

Cara diaseuk, yakni benih padi yang ditanam langsung dengan melubangi tanahnya dengan kayu, tanpa mengolah terlebih dahulu lahan sawahnya. Cara tersebut, tak beda dengan menanam jagung atau jenis palawija lainnya.

“Cuma kelemahan diaseuk, waktu panennya lebih lama dan sulit. Karena tanahnya tidak dicangkul, sehingga lahannya banyak ditumbuhi rumput. Dampaknya, pertumbuhan padinya tersendat sehingga waktu panennya lebih lama. Kalau saya, menanam padinya seperti biasa atau ditandur. Setelah lahannya diolah, baru ditanami benih padi,” tutur Safrudin.

Dikatakan, menanam padi dengan ketersediaan air di musim hujan, hasil panennya diyakini maksimal. Dari lahan sawah 350 bata, hasil panennya bisa mencapai 3 ton GKG (gabah kering giling).

Akan tetapi, jika suplai airnya kurang, hasilnya bisa menurun hanya 2 ton GKG. Apalagi sawah tadah hujan, pengairannya hanya mengandalkan air hujan.

Parahnya lagi, di daerah Ujungjaya cukup banyak sawah petani yang tadah hujan. Padahal, Kecamatan Ujungjaya merupakan lumbung padi di Kabupaten Sumedang.

“Jadi kendala utama para petani di Ujungjaya, yakni masalah air. Kenapa musim tanam sebelumnya di Ujungjaya banyak yang gagal panen, penyebabnya karena kekurangan air. Akibat airnya kurang sehingga di Ujungjaya dalam setahun hanya dua kali panen. Kalau ketersediaan pupuk mencukupi dan pasokannya lancar. Cuma harganya saja yang mahal. Saya pakai pupuk urea kujang Rp 190.000 per kuintal. Begitu juga dengan pestisida, pasokannya cukup lancar. Untuk harga gabah keringnya pun cukup normal Rp 500.000 per kuintal,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Samsudin (55) petani lainnya mengatakan, karena kekurangan air, sehingga di musim kemarau kemarin banyak sawah yang dibiarkan gamblung. Sampai-sampai, untuk menanam palawija pun sangat sulit.

“Jangankan menanam padi, mau menanam palawija saja susah. Memang ada beberapa jenis palawija yang tahan kering dan bisa menjadi tanaman penyela di lahan sawah. Akan tetapi, karena tak ada air sehingga lahan sawahnya tak bisa ditanami apa pun. Seandainya masih ada air sedikit di musim kemarau, kami bisa menanam palawija, seperti jagung, kedelai, mentimun, terung dan kacang-kacangan,” tuturnya.

Guna mengatasi kekurangan air di areal pesawahan Ujungjaya terutama di musim kemarau, kata dia, solusinya membuat sumur pantek dengan kedalaman sekira 20 meter. Bahkan di musim hujan, sumur pantek bisa menyimpan air resapan untuk persediaan air di musim kemarau.

Di areal pesawahan di Ujungjaya sudah ada beberapa sumur pantek hasil bantuan Pemkab Sumedang. Namun, kalau petani membuat sendiri, terkendala biaya.

Biaya pembuatan sumur pantek sekitar Rp 2-3 juta. Itupun belum termasuk biaya membeli mesin diesel untuk menyedot airnya, termasuk bahan bakar solar.

“Cukup besar biayanya kalau petani membuat sumur pantek sendiri. Petani nggak punya uangnya, kecuali kalau pemerintah mau membantu. Kami sangat mengharapkan bantuan pemerintah untuk membuat sumur pantek. Itu satu-satunya cara yang paling efektif untuk mengatasi kekurangan air di areal pesawahan Ujungjaya. Kalau memakai pompa air, kurang efektif karena debit air sungai dan mata air di musim kemarau, pasti menyusut. Bantuan pemerintah sangat dibutuhkan oleh petani, untuk mempertahankan Ujungjaya sebagai lumbung padi di Kabupaten Sumedang,” ujar Samsudin. (Adang Jukardi/A-89)***

Baca Juga