TMMD Bangun Jalan, Rumah, dan Musala

DANREM 0617 Majalengka menyerahkan peralatan singkup dan pengki secara simbolis kepada anggota TNI, Hansip dan masyarakat untuk pengerjaan pembangunan jalan pada TMMD di Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Kamis (8/10/2015).*
TATI PURNAWATI/PRLM
DANREM 0617 Majalengka menyerahkan peralatan singkup dan pengki secara simbolis kepada anggota TNI, Hansip dan masyarakat untuk pengerjaan pembangunan jalan pada TMMD di Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Kamis (8/10/2015).*

MAJALENGKA,(PRLM).- Seluruh proyek pembangunan yang dikerjakan oleh TNI harus lebih maksimal dan lebih baik dibanding pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor, nilai lebih dari pekerjaan harus dirasakan betul oleh masyarakat.
Bila terjadi adanya indikasi tindak korupsi pada pengerjaan pembangunan maka pihak kepolisian dan kejaksaan diminta untuk segera melakukan penyelidikan dan penyidikan serta memprosesnya secara hukum.

Hal tersebut disampaikan Danrem Sunan Gunung Jati Cirebon, Kol Inf Sutjipto, saat membuka pelaksanaan TMMD di Desa Padabeunghar, Kecamaran Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Kamis (8/10/2015).

TMMD di Kabupaten Majalengka membangun satu ruas jalan desa antara Blok Heuleut, Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi menuju Ibu kota desa setempat sepanjang 2,7 km dengan lebar 2,5 meter melibatkan 140 personel TNI dari berbagai kesatuan dibantu masyarakat desa sebanyak 80 orang.

“Selain pembangunan jalannya bahu jalan juga diperbaiki untuk memudahkan masyarakat saat berlalulintas,” ungkap Danrem.

Selain membangun jalan TMMD juga akan membangun satu musala, dan tiga rumah warga yang saat ini kondisinya tidak layak huni serta telah membangun satu buah MCK untuk masyarakat setempat. Disamping itu pembangunan nonfisik berupa pelayanan KB dan kesehatan serta penyuluhan hukum dan wawasan kebangsaan.

Menurut Dandim 0617 Majalengka Let Kol Inf Priandy Budi Purnawan pelaksaan TMMD tersebut akan berlangsung selama 27 hari kedepan, namun pelaksanaannya sendiri sudah mulai dikerjakan lebih awal untuk mengerjar target waktu pelaksanaan.

Bupati Majalengka Sutrisno berharap TMMD yang terus berlangsung untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antara TNI dengan masyarakat.

“Pembangunan dengan melibatkan TNI dan masyarakat akan menumbuhkan rasa memiliki bagi masyarakat, sebaliknya bila dibangun oleh pemborong rakyat tidak pernah peduli, kondisi ini mungkin karena masyarakat ikut terlibat dalam pengerjaannya sehingga ada rasa memilikinya cukup tinggi.” ungkap Sutrisno yang menyarankan pemborong saat mengerjakan proyek agar tidak hanya beroreientasi pada keuntungan namun juga mengedepankan kualitas pekerjaan seperti halnya yang dilakukan TNI.

Pada acara tersebut Bupati juga menyerahkan bantuan tambahan biaya transportasi bagi masing-masing sebesar Rp 15.000. Semula biaya transport TNI selama kegiatan hanya sebesar Rp 10.000 per hari.

Sementara itu sejumlah masyarakat Blok Heuleut, Desa Padabeunghar mengaku gembira degan pembangunan ruas jalan tersebut, karena akan memperlancar arus lalulintas warga yang selama ini harus melintasi jalan rusak tidak beraspal. Terlebih bila musim penghujan jalan sulit dilintasi, sehingga bila ingin menuju ibu kota desa warga harus memutar jalan melintasi tiga desa tetangga sejauh kurang lebih 10 km.

“Dengan jalan bagus seperti ini biaya trasportai juga murah, kalau ingin ke desa juga jaraknya dekat,” ungkap tokoh pemuda setempat Jana Supriana.
Hadir pada acara pembukaan Ketua DPRD Majalengka, Kapolres Majalengka, Kepala Kejahkaan Negeri Majalengka, Danyon 321 Galuh Taruna, Dandanud Sugiri Sukani, Ketua PN Majalengka, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Majalengka.(Tati Purnawati/A-147)***

Baca Juga

Tradisi Membuat Bubur Sura Sarat Nilai Kebersamaan

MAJALENGKA,(PR).- Bulan Muharram atau bulan Suro warga di Desa Pasindangan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka hingga kini masih tetap memiliki tradisi membuat bubur sura.

Proyek Dikerjakan Asal-asalan, Bupati Garut Mengeluh

GARUT, (PR).- Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengeluhkan proyek pembangunan yang dikerjakan secara asal-asalan oleh kontraktor nakal. Selain hasil pembangunan yang tidak memuaskan, proses pengerjaannya pun sering tidak tepat waktu.