Berita dari PR CETAK
BANDUNG, (PRLM).- Penghentian minyak tanah bersubsidi di wilayah Bandung meresahkan beberapa masyarakat. Bahkan di beberapa wilayah, minyak tanah justru menghilang.
Selain di wilayah kota, minyak tanah juga menghilang di Kab. Bandung Barat. Seperti halnya di wilayah Kampung Maribaya, Kec. Lembang, kondisi tersebut mengakibatkan para warganya harus beralih ke kayu bakar.
Seperti yang dirasakan Agus, warga RT 03 RW 05, Desa Langan Sari, Maribaya. Sejak awal Agustus, Agus sudah sudah sulit memperoleh minyak tanah. Kalaupun minyak tanah ada, Agus mengatakan bahwa harga jual di pasaran cukup tinggi hingga mencapai Rp 6.000,00 per liter.
“Karena harga yang terlalu mahal, sudah seminggu ini saya menggunakan kayu bakar,” ujar Agus, Kamis (21/8). Sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan kayu bakar tersebut, Agus biasa mencari ke wilayah sekitar desa atau ke hutan Ir. Djuanda (Dago) dengan mencari kayu kering ataupun ranting yang bisa ditemuinya.
“Mau gimana lagi, untuk orang seperti saya yang penghasilannya Rp 15.000,00 per hari, jelas sangat sulit untuk beli gas. Saya biasa mencicil untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Uang jumlah tersebut saya gunakan untuk membeli beras sebanyak dua liter dan minyak tanah satu liter,” ungkap Agus.
Meski Agus telah mendapat jatah kompor gas konversi, ia mengakui belum dapat menggunakan kompor tersebut. “Sekarang ini saya enggak mampu beli gas karena untuk sehari-hari saja penghasilan saya tidak cukup,” tuturnya.
Hal yang sama juga dirasakan Enden, seorang perajin tahu dari Desa Langan Sari. Enden mengatakan bahwa kini ia beralih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar produksi. “Tidak ada pilihan lagi, saya tidak mungkin tidak berproduksi. Kemarin saja saya sudah libur produksi selama empat hari,” tuturnya.
Untuk itu, Enden mengatakan, ia mengunakan uang modal minyak tanahnya sebesar Rp 500.000,00 untuk membeli kayu bekas potongan mebel. Dengan uang sebanyak itu, Enden mendapatkan kayu bakar sebanyak satu mobil pick up. Menurut dia, jumlah tersebut bisa digunakan untuk persediaan bahan bakar selama empat hingga lima hari produksi.
Meski dengan menggunakan minyak tanah uang tersebut hanya bisa digunakan untuk kebutuhan produksi selama tiga hingga empat hari. Enden mengatakan bahwa biaya lain-lain untuk kayu bakar relatif lebih mahal. “Sebelum kita menggunakan kayu bakar, kita harus memotong-motong kayu agar dapat digunakan sesuai ukuran. Selain itu, kita juga harus mengeluarkan biaya untuk mengangkut ke rumah. Belum lagi asap yang dikeluarkan dari pembakaran,” jelasnya.
Meski begitu, Enden mengaku belum tertarik untuk menggunakan gas sebagai bahan bakar. “Saya belum coba untuk memakai gas. Tapi melihat dan mendengar cerita dari orang-orang, saya takut kalau menggunakan gas dan takut bisa meledak dan akhirnya menyebabkan kebakaran,” ucapnya khawatir. (CA-169/A-147)***