DALAM perjalanan antara Palabuanratu dan Sukabumi, baru-baru ini, selintas terlihat oleh saya selembar spanduk di tepi jalan. Isinya memamerkan seorang figur yang dikatakan siap maju untuk jadi gubernur.

Reklame politik adalah hiburan tersendiri buat saya. Kelokan tajam dan lubang-lubang aspal di sepanjang jalansejenak dapat dilupakan. Gambar dan tulisan politik adalah pelarian tersendiri dari komponen power steering yang bocor begitu kami turun dari belantara berkabut Gunung Halimun.

Dalam Pilgub, parpol diuji tidak hanya piawai memperlihatkan kebesaran suara berupa peraihan kursi, tetapi harus menunjukkan kemampuan membaca kehendak rakyat. Konsep demokrasi yang ideal yang menyatakan suara parpol adalah suara rakyat akan terjawab dengan calon yang mereka sodorkan. Terlebih Parpol diberikan kebebasan untuk memilih figur calon tidak dari kader internal saja, tetapi juga di luar parpol. Parpol pun memiliki kebebasan untuk mengembangkan metode rekruitmen calon, sehingga survei pun digadang-gadang untuk membaca kehendak rakyat. Apakah survei itu obyektif dan apakah dijadikan indikator utama dalam menentukan calon ataukah “petunjuk” DPP yang lebih berkuasa, akan terbukti dalam hasil Pilgub.  

Surat Pembaca

Kolom

PR Info

Epaper Pikiran Rakyat