Tayang di Bioskop, Jalan Cerita Mortal Engines Dikritik

Mortal Engines/ISTIMEWA

MULAI tayang di bioskop Indonesia, film “Mortal Engines” menawarkan visualisasi yang nyata dengan efek terbaik. Film layar lebar karya Christian Rivers ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Philip Reeve.

Mengambil latar kondisi bumi pasca-apokaliptik, “Mortal Engines” menggambarkan masyarakat yang hidup di masa itu membangun kota di atas sebuah kendaraan, seperti mobil raksasa yang mampu melaju di daratan. Film ini menceritakan London sebagai salah satu kota terbesar yang bergerak.

Rabu 5 Desember 2018, Kantor Berita Antara menulis, “Jalan ceritanya tidak mudah ditebak, sehingga semakin membuat penonton penasaran dengan akhir filmnya”. Sejumlah aktor dan aktris pendatang baru, seperti Hera Hilmar, Robert Sheehan, serta Jihae, melengkapi peran apik aktor senior Hugo Weaving di “Mortal Engines”.

Melansir situs Internet Movie Database (IMDb), “Mortal Engines” mendapat rating sebesar 8.1 dari 10. Film yang lebih cepat dirilis sembilan hari dari negara asalnya, Amerika Serikat, ini pun mendapat respons sejumlah penulis.

Staf pengajar di sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta, Himawan Pratista, memberi ulasannya soal film bergenre Sci-Fi ini. Di situs montasefilm.com, Himawan mengutarakan pandangannya soal efek visual “Mortal Engines”.

“Bicara soal efek visual memang tak perlu komentar lagi karena semua disajikan sangat menawan,” tulis Himawan. 

Ia memaparkan bahwa tak aneh bila “Mortal Engines” sarat efek visual. Sang sutradara, kata Himawan, adalah sahabat sineas kawakan, Peter Jackson, yang biasanya menangani efek visual dalam film-film karya Jackson.

“Jackson sendiri bertindak sebagai produsernya. Dengan bermodal bujet sebesar US$ 100 juta dan Peter Jackson sebagai produser, apakah film ini mampu bersaing dengan karya-karya film fantasi besarnya, sebut saja Trilogi The Lord of the Rings?” ujarnya.

Dia pun lantas memberikan kritikannya, menyamakannya dengan aksi kejar-kejaran di film “Mad Max Fury Road”. Menurutnya, tak ada drama yang cukup untuk membuat penonton masuk ke dalam kisahnya.

“Tak ada sisipan humor yang mampu membuat kita tertawa. Semua serba melelahkan karena sajian aksi dan efek visual yang begitu dominan, cepat, dan tanpa jeda. Ini membuat mata dan pikiran menjadi teramat capek,” tulisnya.

Alur cerita “Mortal Engines” juga diulas Kathryn Schroeder, penulis situs filmfracture.com. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan bahwa film ini terasa tergesa-gesa bila dibandingkan dengan novel aslinya.

“Mortal Engines terlepas dari visualnya yang kecil dan tidak memiliki rasa waktu atau tempat yang konsisten. Waktu cerita yang sebenarnya bergerak terlalu cepat, lokasi membingungkan, jarak kurang realisme, dan logistik tersesat,” kata Kathryn.

Menurutnya, kondisi tersebut memperburuk bahwa setiap aktor dalam film tersebut melakukan pekerjaan hebat dengan apa yang mereka miliki. “Jika mereka punya lebih banyak kesempatan, Anda bisa membayangkan kemungkinannya,” ucapnya.

Terlepas dari kritikan yang didapat, “Mortal Engines” memang layak untuk ditonton. Khususnya bagi mereka penggemar film dengan efek-efek menakjubkan.***

 

Baca Juga