Semarak Pesta The Paps di Jakarta, Campur Aduk Reggae dengan Jazz hingga Punk

The Paps/MUHAMMAD IRFAN/PR

REGGAE menjadi salah satu musik yang cocok sebagai penghantar dansa di kerumunan. Tetapi bagaimana kalau reggae yang dimainkan berjibaku dengan remangnya nada psikedelik atau sedikit sentuhan jazzy bahkan hentakan punk? Unit reggae asal Bandung, The Paps mampu mengejawantahkannya!

Harlow Brasserie di kawasan Kuningan, Jakarta lah yang menjadi saksi dari aksi kuartet Dave Syauta (vokal), Sagit (gitar), Papap (drum), dan Oki (bass). Tampil urakan sebagaimana mereka biasanya, dalam showcase bertajuk "De La Show" yang digelar Minggu 9 September 2018, The Paps menyajikan sebuah pertunjukan intim yang mampu menggoyang penonton Jakarta lewat belasan kanon yang ditembakkan dari instrumen mereka.

Acara dimulai sejak pukul 20.00 dengan penampilan DJ Bckwrds yang memainkan lagu-lagu berkarakter Jamaican Sound. DJ yang juga gitaris band rock Teenage Death Star ini memberi pemanasan yang cukup hangat bagi penonton yang terlihat sudah hilir mudik di Harlow.

Usai Bckwrds, 'adik tingkat' The Paps, Rub of Rub didapuk untuk membuka panggung "De La Show". Band beranggotakan Rizwan (gitar. vokal), Abay (gitar, synthesizer), Atma (bass), dan Al Zona (drum) langsung menghentak dengan lagu-lagu yang berasal dari mini album mereka, "Ruang Waktu" (2018). Sedikit masalah teknis pada sound tak mengurangi aksi mereka yang juga membawakan ulang beberapa lagu lawas seperti "Get Ready" dari Sublime, "Legalize It" dari Peter Tosh, hingga "Your Love is King" dari Sade yang direpresentasikan ulang oleh mereka dengan gaya dub/psikedelik yang menjadi karakter dari kuartet ini.

Rub of Rub turun panggung, The Paps mulai mempersiapkan setnya. Menemani tata suara yang sedang diatur, di belakang deck, DJ Lion Rock dari Asia Afrika Soundsystem mengepung venue lewat sentuhan-sentuhan suara Jamaikanya. Beberapa lagu dimainkan, tiga dari empat personel The Paps kemudian masuk panggung. DJ Lion Rock menghentikan aksinya yang langsung ditimpali oleh tembang instrumental pembuka dari The Paps, "Palestine".

Sebagai pembuka, lagu yang ada di album "Soul" (2017) ini cukup mampu mengumpulkan penonton merapat di sekitaran sound system yang memang tak berbatas antara penampil dan penonton. Dave pada vokal kemudian masuk dan langsung menggebrak dengan lagu lama mereka, "Perlahan Tenang". Penonton yang sudah hafal dengan setiap bait di lagu ini pun menciptakan koor bersahutan dengan Dave yang tampil enerjik di panggung.

Ajak penonton beringas berdansa

Seperti disebut di bagian awal tulisan ini, The Paps memiliki karakter yang cukup unik dalam meracik reggae versinya. Di dua lagu ini saja misalnya, alunan psikedelik sudah sangat terasa. Apalagi jika mendengar versi rekaman dari "Perlahan Tenang" yang memiliki bagian keyboard di tengah lagu dan sedikit mengingatkan kita pada gaya-gaya psikadelik 60-an.

Masih memanasi panggung, The Paps kemudian melanjutkan setnya dengan "Have Fun Around". Diambil dari album pertama mereka "Hang Loose Baby", band yang dibentuk sejak 2003 ini membuat crowd semakin tak terkendali. Dan jika dua lagu awal mendapat sentuhan psikedelik, maka "Have Fun Around" punya karakter punk ala Johnny Rotten (Sex Pistols) yang cukup kuat pada sektor vokal Dave yang memang serak. Bagian lirik "Have fun around take all your time" yang mengiringi bagian reff pun jadi santapan empuk penonton untuk dibuat koor.

Sejumlah lagu kemudian mengalir dari panggung "De La Show". Kadang komplotan The Paps menurunkan tensi dengan memberi lagu-lagu yang cukup mendayu seperti "Sementara", "Never", atau "When We Meet", mengajak penonton untuk semakin bergoyang lewat lagu yang lekat dengan nuansa skankin seperti "Turn Me On" atau "Dibuai", hingga ber-moshing ria lewat lagu yang punya hentakan cukup keras seperti "Fana".

Dave sebagai pengendali kerumunan pun memang piawai menciptakan ikatan dengan penonton. Dia tidak hanya menari ke sana kemari sambil memejamkan mata, berdansa agogo, atau melompat, tetapi juga mampu berinteraksi membuat panggung "De La Show" semakin tiada batas. Belum lagi Sagit yang juga cukup pandai mengisi panggung dengan candaan khasnya.

Total 13 lagu mereka mainkan malam itu dengan lagu "Lebih Dari" yang menjadi penutup. Dimulai dengan kegamangan vokal dan bass, lagu ini ditutup dengan raungan gitar dan hentakan drum cepat yang lagi-lagi, sangat bernuansa punk! Penonton pun semakin beringas, melepas The Paps yang langsung meninggalkan panggung.

"De La Show" pun berakhir klimaks dan disambung dengan penampilan DJ Nisu. The Paps menjadi penghantar keriaan yang sangat baik. Meminjam lirik mereka dalam lagu "Perlahan Tenang", The Paps membawa penonton melintas cahaya, menembus asap nirwana.***

You voted 'sedih'.

Baca Juga

Menyaksikan Kebengalan Libertines

Nama kuartet The Libertines di Indonesia boleh jadi tak lagi segemilang satu atau dua dekade ke belakang.