Menyaksikan Kebengalan Libertines

The Libertines/HODGEPODGE SUPERFESTIVAL 2018

Nama kuartet The Libertines di Indonesia boleh jadi tak lagi segemilang satu atau dua dekade ke belakang. Unit garage rock bengal asal London ini memang pernah kocar kacir pasca-problem di internal band yang membuat satu per satu personelnya hengkang dan membuat proyek masing-masing sejak 2004. Mereka lantas reuni pada 2014. Dan, empat tahun setelahnya, fans Indonesia berkesempatan menyaksikan kebandelan mereka secara langsung!

Adalah Hodgepodge Superfestival 2018 yang menjadi tempat Libertines memanjakan para fans-nya yang kebanyakan mengikuti karir bermusik mereka sejak "Up the Bracket" (2002) dan "The Libertines" (2004). Digelar oleh Java Festival Profuction di Allianz Ecopark Ancol, Jakarta, The Libertines menjadi penampil utama di hari pertama fetival yang digelar sejak Sabtu hingga Minggu, 1-2 September 2018.

Naik panggung sekitar pukul 22.30 WIB, Libertines langsung menyapa para penggemarnya yang sudah setia menunggu sejak uji suara dilakukan. Kebandelan para personelnya langsung terasa ketika Pete Doherty, gitaris, vokalis band ini menyapa penonton sambil melempar payung yang dia bawa dari belakang panggung. Aksi ini pun jadi rebutan penonton yang memang sudah histeris sejak para personel Libertines satu per satu naik pentas.

Doherty tampil necis menggunakan stelan jas slim-fit yang membalut tubuh jangkung kurusnya. Sedikit kontra dengan Carl Barat (vokal/gitar) yang terlihat sangat rocker dengan jaket kulit dan newsboy cap. Sementara basis John Hassal memilih ber-outfit sederhana, drummer Garry Powel justru bertelanjang dada seolah siap berkeringat menghentak seluruh set-nya di tengah panasnya udara Jakarta. "Delaney" pun dimainkan.

Lagu pertama yang diambil dari album the best mereka "Time for Heroes" (2007) ini langsung menyulut penonton untuk melompat dan ikut menyanyi bersama di bawah komando Doherty dan Barat. Belum mau menurunkan tensi, "Barbarian" dari album reuni "Anthemns for Doomed Youth" (2015) dipilih menjadi lagu kedua.

Sedikit masalah pada gitar Doherty, membuat mereka harus berhenti jelang lagu ketiga. Kesempatan ini digunakan oleh Barat untuk meyapa penonton. Dia dan bandnya mengaku sangat senang bisa tampil pertama kali di Indonesia dan mendapat sambutan yang hangat dari fansnya

"Jakarta terima kasih telah menerima kami disini, kami The Libertines,” kata Barat yang langsung mendapat aplaus dari penonton. Lagu ketiga "Fame & Fortune" kemudian digeber mengiringi lagu-lagu lain yang membuat para penonton tak henti menyanyikan lagu-lagu dari kelompok yang terbentuk sejak 1997 ini.

Aksi panggung yang urakan tapi kenes memang jadi kunci dari penampilan Libertines. Dengan sound gitar kasar dan lead amatir yang tak selalu sempurna, Libertines membawa kegilaan punk ala Pistols di era 70-an pada generasi yang besar di era millenium.

Belum lagi romantisme duo frontman Doherty dan Barat di atas panggung yang menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap penontonnya. Mereka berbagi microphone, saling senggol, bersulang segelas bir, dan mempertontonkan keakraban yang menegaskan merekalah dynamic duo-nya kuartet ini. Layaknya Marr dan Morrissey di The Smiths, Damon dan Coxon di Blur, atau Jagger dan Keith Richard di Rolling Stones. Mereka memiliki kedekatan batin dan musikalitas meski tak lepas dari pertengkaran yang tak jarang berlangsung sengit.

Sejumlah hits mereka pun turut ditampilkan malam itu dan membuat koor penonton semakin menjadi. Seperti lagu "Boys in the Band", "Can't Stand Me Now", "What Katie Did", "Death on the Stairs", atau "Waterloo" yang membuat Barat harus beranjak sejenak ke piano di belakangnya tapi kemudian kembali ke gitar untuk memainkan bagian lead-nya saja. Sementara di lagu "Can't Stand Me Now", Doherty sempat melemparkan harmonika yang dia mainkan ke penonton yang lagi-lagi langsung menjadi rebutan.

Lagu "Good Old Days" yang dimainkan setelah solo drum cukup panjang dari Garry Powell kemudian menjadi lagu terakhir sebelum akhirnya satu per satu personel Libertines meninggalkan panggung.

Merasa pesta belum usai, fans Libertines mulai mengelu-elukan idolanya agar kembali naik pentas. Mereka meneriakkan kata "we want more" atau sesekali menciptakan koor dari lagu "Time for Heroes". Tak lama berselang, Libertines kembali ke panggung dan menggebrak dengan "Up the Bracket".

Total 19 lagu mereka mainkan malam itu dengan enam lagu yang dimainkan saat encore seperti "What a Waster", "Music When the Lights Go Out", "Time for Heroes", Don't Look Back into the Sun", hingga "I Get Along?" yang menutup panggung. Di akhir set, Barat menggendong Garry Powell dan membawanya mengelilingi panggung. Mereka kemudian berkumpul dan memberi hormat pada fans Indonesia atas sambutan mereka yang sangat hangat.

Sambil Santai

The Libertines adalah satu dari sekian banyak penampil yang unjuk gigi di Hodgepodge Superfestival 2018 ini. Seperti namanya yang berarti campur aduk, Hodgepodge memang menawarkan pengalaman musik yang berbeda bagi setiap pengunjungnya.

Selain bisa menikmati musik sambil bersantai karena disediakan sejumlah spot untuk nongkrong yang asyik, festival ini menyajikan banyak musisi lokal hingga internasional dari berbagai macam genre di empat panggung yang berbeda. Dimulai sejak sore hari, Hodgepodge hari pertama misalnya menampilkan musisi lokal seperti GHOSS yang memainkan triphop/rock, funk dari trio Bandung 70SOC, indie pop dari Elephant Kind, Trees and The Wild yang memainkan folk, musik elektronik dari Soundwave, hingga aksi indierock macam Barefood.

Sementara penampil internasionalnya pun tak kalah banyak. Ada rapper California, Marteen, musik elektronik dari Lemaitre (Norwegia), Vancouver Sleep Clinic (Australia), hingga Jess Connely (Filipina), atau aksi-aksi indie rock yang sekarang sedang jadi perbincangan seperti Sundara Karma (Inggris), Day Wave (Amerika), dan Swim Deep (Inggris). Ada juga penampilan folk dari Didirri (Australia) hingga penyanyi R&B asal Amerika Serikat, August Alsina yang cukup menjadi magnet bagi penonton malam itu.

Dengan beragamnya para penampil dan konsep yang ditawarkan ini tentunya Hodgepodge menjadi festival yang mampu memayungi berbagai penikmat genre apapun. Meskipun diakui jarak yang cukup jauh dari satu venue ke venue lainnya dan penampil yang sangat beragam dengan fans-nya masing-masing membuat festival ini terasa agak lenggang dan berbeda dengan festival pada umumnya yang cenderung hiruk pikuk. Tetapi dari sisi konsep yang berbeda dalam menyajikan festival musik, Hodgepodge layak menjadi perhatian.***

Baca Juga

Lama Absen, Naif Rilis Video Musik "Berubah"

JAKARTA, (PR).- Grup band Naif merilis video musik baru untuk lagu "Berubah" yang terdapat dalam album ketujuh berjudul "7 Bidadari" yang disutradarai penyanyi Tompi.

Tulus Merilis Single Baru "Labirin"

JAKARTA, (PR).- Penyanyi Tulus baru saja merilis single terbarunya berjudul "Labirin". Lagu tersebut berisi untaian syair yang puitis.