Konser The Script, Kaya Gimmick dan Janji untuk Kembali

The Script/ANTARA
Vokalis band The Script Danny O'Donoghue bernyanyi saat Road to Grand Final Indonesian Idol di Jakarta, Senin, 9 April 2018.*

PENAMPILAN band rock asal Irlandia, The Script di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa, 10 April 2018 malam menjadi momen menakjubkan. Selain lagu-lagu mereka yang cenderung up-beat dan enak untuk bergoyang, trio Danny O'Donoghue (vokal), Mark Sheehan (gitar), dan Glen Power (drum) itu juga pandai menciptakan gimmick panggung.

Hal yang tentunya memberi kesan bagi penonton atau pun The Script. Bahkan, Glen mewakili dua personel lainnya berjanji akan kembali ke Indonesia. Seolah keriaan malam itu tak cukup hanya sekali.

Dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsan "Indonesia Raya", penonton juga disuguhkan pre-concert video yang dibuat promotor dan video pendek tentang substansi album termutakhir mereka, "Freedom Child" yang diputar sebelum The Script naik panggung.

Tak heran, karena kedatangan The Script ke Indonesia memang dalam bagian mempromosikan album kelima yang dirilis pada 2017 itu.

Beberapa detik setelah video yang memperlihatkan testimoni orang-orang tentang arti kata freedom itu usai, The Script langsung menggebrak dengan lagu hits mereka, "Superheroes"  disambut dengan tata cahaya yang langsung menyeruak. Sadar kalau The Script sudah tiba, para fans pun teriak sembari ikut menyanyikan lagu yang berada di album ketiga mereka "No Sound Without Silence" (2014).

Masih memanaskan crowd, The Script melaju dengan "Rock The World" dan "Paint the Town Green". Membuat crowd semakin meriah di awal, permainan visual yang menjadi latar belakang panggung dengan tata cahaya yang mumpuni semakin menyemarakkan konser malam itu. Belum lagi hujan confetti di lagu yang memiliki nada-nada tradisional irish itu.

Usai "Paint the Town Green", Daniel pun memancing penonton untuk menyanyikan lagu selanjutnya. Dia mulai menyanyikan verse pertama dari lagu megahits "The Man Who Can't be Moved" yang kemudian disambut histeris oleh penonton.

Daniel memang cakap menciptakan suasana. Dengan piawai dia memandu penonton yang bernyanyi memenuhi seluruh The Kasablanka Hall.

Alat musik sengaja tidak dimainkan personel lainnya, sehingga hanya koor penonoton saja yang terdengar. Di verse ke dua, musik baru masuk dan histeria penonton pun semakin menjadi.

The Script mulai menyapa penonton usai membawakan lagu keempat "Wonders". Daniel mewakili personel lainnya mengaku kagum dan tersanjung dengan sambutan fans Indonesia yang begitu antusias mengapresiasi kedatangan The Script.

Lagu-lagu lain pun kemudian melaju dan semakin memanaskan crowd yang memang sudah semakin histeris mengingat The Script membawakan lagu-lagu hits di awal. Belum lagi gimmick panggung dan polah masing-masing personel yang atraktif.

Lagu-lagu yang dibawakan pun cukup bervariasi dari lima album studio The Script. Dengan takaran yang lebih banyaj di dua album mutakhir yakni "The Sound Without Silence" dan "Freedom Child". The Script juga tak melulu menggebrak dengan lagu-lagu kencang, tetapi sesekali masuk dengan lagu yang lebih mellow. Misalnya ketika memainkan "If You Could See Me Now" yang lebih nge-beat disambung dengan "For The First Time" yang lebih santai.

Tampil di kerumunan

Di bagian outro "For The First Time", The Script tampak meninggalkan panggung. Tetapi yang mengejutkan, justru mereka tiba-tiba tampil di panggung kecil di tengah kerumunan penonton festival yang awalnya berada cukup jauh dari panggung utama. 

Hal ini tentu membuat penonton di festival kegirangan, sementara penonton gold yang berada di dekat panggung berlarian menuju pagar pembatas antara venue gold dan festival.

Di panggung kecil ini, konser menjadi semakin intim, karena penonton bisa melihat The Script dari jarak yang sangat dekat. Menjadi semakin menarik ketika Daniel tampil menggunakan batik sambil membawakan dua lagu yaitu "We Cry" dan "Never Seen Anything Quite Like You" ditemani beatboxer asal Indonesia. Momen yang kemudian dimanfaatkan penonton untuk berswafoto dengan latar belakang The Script.

Tetapi kehebohan belum usai. Dua personel The Script lain memang kembali ke panggung utama seraya menggebrak dengan lagu "The Energy Never Dies". Tapi ternyata tidak dengan Daniel, karena suara vokal justru muncul di kerumunan penonton diamond yang letaknya berada di belakang festival.

Seolah ingin menyapa penonton di setiap venue, Daniel pun tak pelak menjadi sasaran rebutan swafoto untuk kedua kalinya. Kali ini dengan jarak yang semakin dekat.

Usai menciptakan gimmick panggung yang sangat atraktif, formasi lengkap The Script kembali ke atas panggung. Mereka membawakan lagu "Rain" sebelum kemudian menghilang dari atas panggung.

Encore

Sadar kalau The Script belum mengakhiri setnya, penonton enggan beranjak. Mereka mulai resah dan meneriakkan "we want more..." berkali-kali. Cukup lama meminta, Daniel kembali keluar diikuti dua personel lainnya dan sejumlah musisi pembantu dan memainkan lagu "No Good in Goodbye".

Tak cukup satu encore, The Script ternyata masih punya banyak stok lagu megahits. "Breakeven" dimainkan dan membuat The Hall Kasablanka kembali riuh dengan suara penonton yang menciptakan koor.

"Hall of Fame" kemudian didaulat menjadi lagu penutup. Sebelum memainkan lagu yang berada di album kedua mereka itu, Daniel kembali mengingatkan semangat album terkini mereka yang menyuarakan tentang kemerdekaan berekspresi, berpendapat, dan lain-lain.

"Hall of Fame" kemudian menutup "Freedom Child Tour" diiringi Daniel yang berlari ke arah penonton sambil membawa bendera Indonesia. Di akhir penampilan, mereka berjanji untuk kembali.***

Baca Juga

NTRL, Seperempat Abad Tetap Rock

TRIO Bagus (bass, vokal), Coki (gitar), Eno (drum) tampil liar di ruang kecil i-six Bar, Kemang, Jakarta Jumat 30 November 2018 malam.

Naura Akan Hadirkan Konser Dongeng 3

KESUKSESAN Konser Dongeng 2 Naura mengantarkan promotor Kaleia Creative Event untuk menghadirkan Konser Dongeng 3 Naura di Bandung.

Penuh Tawa di Secret Show Mocca

SECRET Show atau pertunjukan rahasia yang sudah menjadi tradisi Mocca —band indiepop asal Bandung— selalu memberikan kejutan dalam setiap perhelatannya.

Risa Saraswati Merilis Novel dan Album Sandekala

KISAH tentang senja menjadi benang merah karya baru Risa Saraswati. Kali ini, novel yang berjudul Sandekala itu bercerita tentang makhluk-makhluk halus yang berkeliaran saat pergantian siang ke malam.