Sebelum Hari Raya Nyepi, Ini Rangkaian Upacara Masyarakat Hindu di Bali

Ritual melasti/ANTARA FOTO
UMAT Hindu berjalan menuju pura usai melakukan upacara Melasti di Pantai Ngobaran, Saptosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis 11 Maret 2018. Upacara Melasti yang diikuti ribuan umat Hindu tersebut bertujuan untuk menyucikan diri dalam menyambut perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1940.*

SEBAGAI daerah dengan populasi umat Hindu terbesar di Indonesia, Bali memiliki banyak tradisi keagamaan yang masih sering dilakukan oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah Hari Raya Nyepi, yang merupakan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender saka. Saat Nyepi, masyarakat Bali tidak akan melakukan aktivitas apapun, begitu juga dengan tempat wisata atau pelayanan umum semuanya ditutup, kecuali rumah sakit.

Sebelum umat Hindu di Bali merayakan Nyepi, mereka memiliki beberapa tradisi yang biasa dilakukan. Berikut adalah tradisi atau upacara yang dilakukan sebelum memperingati Hari Raya Nyepi.

1. Upacara Melasti

Upacara Melasti adalah upacara penyucian yang dilakukan 2-3 hari sebelum Hari Raya Nyepi. Masyarakat Bali akan pergi menuju sumber air seperti danau atau laut secara berkelompok atau rombongan dengan membawa perangkat peribadahan seperti pratima atau simbol Dewa yang digunakan untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa, pralingga dan arca untuk disucikan.

Dilansir dari balistarisland.com, setiap kelompok juga membawa sesaji, yang merupakan bagian dari upacara melasti ini. Saat proses upacara melasti dimulai, semua perangkat peribadahan diletakkan di sebuah meja yang sebelumnya sudah disiapkan, dan upacara ini dipimpin oleh seorang pemuka agama. Setelah upacara selasai, mereka akan membawa kembali perangkat peribadahan ke pura untuk disimpan.

2. Ogoh-ogoh

Tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali akan melakukan pawai Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh biasanya dibuat jauh-jauh hari sebelum Nyepi. Ogoh-ogoh, seperti dikutip dari bali.com, adalah sebuah patung raksasa simbol dari Bhuta Kala yang biasa digambarkan sebagai wujud kejahatan dan menyeramkan.

Di akhir parade, ada masyarakat yang membakar ogoh-ogoh untuk mengusir roh jahat agar tidak lagi mengganggu persiapan untuk perayaan Nyepi di keesokan harinya.

3. Puncak perayaan Nyepi

Setelah melakukan upacara melasti dan pawai ogoh-ogoh, pada keesokan harinya, Masyarakat Bali akan merayakan Nyepi. Saat Nyepi, seluruh tempat di Bali ditutup. Tidak boleh ada yang melakukan aktivitas apapun di luar rumah, itulah mengapa saat Hari Raya Nyepi, di Bali jalanan bahkan tempat wisata yang biasanya ramai pengunjung akan terlihat sepi.

Hal ini karena umat Hindu di Bali melakukan Catur Brata Penyepian. Babadbali.com merangkum aksi tersebut terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati lelanguan (menghentikan kesenangan), amati lelungaan (tidak berpergian). 

4. Ngembak Geni

Sehari setelah Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali akan melakukan upacara Ngembak Geni dengan bersembahyang di pura. Dalam Ngembak Geni, masyarakat diperbolehkan untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah selesai, mereka akan melakukan dharma shanti, yakni ketika orang-orang saling meminta maaf dan memaafkan satu sama lain. (Ines Anggun)***

Baca Juga

7 Desain Meja dan Rak TV untuk Rumah Minimalis

HIBURAN adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tak hanya menjadi pelipur setelah lelah bekerja, hiburan bisa mempererat hubungan antaranggota keluarga.