Sepotong Perbincangan dengan Joko Anwar di Singapura: Saya Masih "Cemen" Dibanding Sineas Lain

Joko Anwar/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

TAK salah jika menyebut Joko Anwar sebagai sutradara film yang ­bersinar pada 2017. Pasalnya, film garapan dia, Pengabdi Setan, ­sukses memecahkan rekor sebagai film horor terlaris sepanjang masa di industri film Indonesia. Film yang tayang pada September 2017 itu ­sukses meraih 4,2 juta penonton selama hampir dua bulan bertengger di bioskop.

Tidak hanya sukses dari segi kuantitas penonton, tetapi Pengabdi Setan juga berjaya di Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Pada ajang penghargaan tertinggi ­insan film Indonesia itu, Pengabdi Setan berhasil meraih 13 nominasi dan membawa pulang 7 piala FFI 2017. Rentetan prestasi ini membuat nama Joko Anwar makin diperhitungkan di industri film Indonesia.

Joko Anwar lahir di Medan pada 3 Januari 1976. Sejak kecil dia senang menonton film horor sampai rela mengintip di ventilasi bioskop untuk menonton film favorit dia. Keinginan Joko Anwar untuk sekolah film tak dikabulkan oleh orangtuanya.

Alhasil, Joko Anwar kuliah di Jurusan Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung. ­Namun, kecintaan Joko Anwar pada dunia film tak pernah padam. Setelah lulus kuliah pada 1999, Joko Anwar bekerja di harian Jakarta Post sebagai wartawan dan menulis kritik film.

Jalan hidup Joko Anwar di dunia film dimulai saat dia mewancararai Nia Dinata. Nia yang dikenal sebagai produser dan sutradara itu tertarik dengan Joko Anwar. Nia kemudian meminta Joko Anwar untuk menulis skenario film Arisan! (2003). Dia tak pernah menyangka film itu menjadi Film Terbaik pada FFI 2005.

Dari situ, kiprah Joko Anwar tak terbendung. Dia menulis dan menyutradarai sejumlah film, antara lain Janji Joni (2005), Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), Modus Anomali (2012), A Copy of My Mind (2015), dan tentu saja Pengabdi Setan. Pada 2015, dia juga berkesempatan mengerjakan serial televisi produksi orisinal HBO Asia, Halfworlds. Sejumlah penghargaan pun dia terima, termasuk Piala Citra pada FFI 2015 ­sebagai Sutradara Terbaik berkat film A Copy of My Mind.

Ditemui di perayaan 25 tahun HBO di Singapura beberapa waktu lalu, sineas berusia 42 tahun itu, dengan gaya santai tetapi serius, berbicara tentang perasaan dan rencana dia setelah sukses dengan Pengabdi Setan.

Tak hanya itu, dia ­juga mengemukakan pendapatnya tentang industri film Indonesia saat ini dan bagaimana dia melihat peluang lain di industri televisi. Berikut ini obrolannya.

Apa perasaan Anda saat Pengabdi Setan dinobatkan sebagai film horor terlaris sepanjang masa di Indonesia?

Biasa saja. Serius loh, saya biasa saja dan enggak merasa aneh juga (tertawa). Soalnya, saat melewati jumlah penonton film Danur kami enggak bilang-­bilang, ketika akhirnya disebut sebagai film horor terlaris itu untuk kepentingan promosi. Beban juga enggak, karena saya tetap bisa bikin film semau saya.

Tawaran untuk bikin sekuel Pengabdi Setan atau film horor sejenis ada?

Ada dan banyak, bahkan sebelum kesuksesan Pengabdi Setan. Akan tetapi, saya bukan tipe sutradara yang dipanggil produser terus disuruh bikin film.

Saya harus menulis film saya sendiri biar tahu, saya bisa enggak bikin adegan itu. Kalau enggak bisa saya ganti. Saya tidak bisa bikin film by order. Saya ini enggak sekolah film, semua autodidak. Saya masih meraba-raba dan sampai sekarang masih belajar.

Puas dengan kesuksesan Pengabdi setan?

Di setiap film saya enggak pernah puas karena kalau puas akan berhenti berkreativitas. Pada saat bikin film yang terakhir, saya berpikir, I have done my best.

Tidak ada yang menyangka kalau Pengabdi Setan bikinnya hanya 18 hari. Saat diputar di Malaysia, semua kaget ketika saya cerita shooting-nya tidak sampai satu bulan. Tetapi kan persiapan praproduksinya sudah matang, di kepala sudah ada rencana, jadi bisa efektif shooting.

Setelah 12 tahun menjadi filmmaker, proyek film apa yang paling berkesan?

Alhamdulillah, sebagai filmmaker saya beruntung ­selalu bisa bikin film yang saya mau dan tidak terpaksa. Ada loh filmmaker yang bikin film karena disuruh produser. Selama ini, saya bikin film ceritanya dari saya. Saya ajukan ke produser, mereka mau.

Enggak banyak yang bisa gini. Kalau film yang berkesan adalah film terakhir yang saya kerjakan. Setiap bikin film saya enggak mau lihat ke belakang, yang paling terakhir adalah yang terbaik yang saya kerjakan. Setiap film yang saya kerjakan saya tonton ulang, saya catat kekurangannya, biar tidak melakukan kesalahan yang sama. Mungkin saya akan bikin kesalahan baru, tetapi tidak mengulangi yang dulu.

Pada setiap film Anda, kenapa selalu ada unsur perempuan, hamil, dan anak-anak?

Jujur, hal ini tidak direncanakan, tetapi ternyata benang merahnya gitu. Saya berpikir orang Indonesia punya anak hanya karena tuntutan lingkungan dan norma. Budayanya kan gitu, siklus pertanyaan dimulai dari kuliah di mana, kalau enggak kuliah, enggak oke. Habis kuliah, kerja di mana, kapan nikah, dan setelah nikah, sudah isi belum.

Menurut saya, ini gila, karena orang ­Indonesia masih suka mengurusi orang. Saat bikin Kala ada adegan perempuan hamil dilindas mobil, ­pada Janji Joni ada adegan melahirkan di dalam taksi, dan Pengabdi Setan tentang perempuan yang sulit hamil. Korbannya anak-anak yang dilahirkan hanya karena norma.

Biasanya, kalau menulis cerita sudah punya kerangka atau dibiarkan mengalir saja?

Saya itu setiap hari menulis. Skenario yang belum diproduksi ada delapan. Salah satu yang sudah rilis adalah Stip dan Pensil. Begitu juga dengan kisah A Mothers Love untuk serial Folklore yang akan tayang di HBO.

Kisah A Mothers Love ini terinspirasi dari mitos anak hilang saat magrib. Di Indonesia, isu orang hilang seperti diabaikan. Saya akan mulai shoo­ting A Mothers Tale pada Februari 2018 di Jakarta dengan 2 pemain utama dan 7 pemain pendukung.

Saya menulis cerita horor sejak 20 tahun lalu. Saya ­sudah punya stok cerita, jadi saat diajak proyek Fol­klore, saya sudah punya ide cerita dan tinggal pilih. Film horor memberi kesan mendalam untuk saya. ­Untuk­ itulah, saya selalu memasukkan unsur horor ke dalam film buatan saya.

Dari film ke serial televisi, bagaimana proses pengerjaannya? Apa yang bikin Anda tertarik untuk mengerjakan proyek serial untuk HBO Asia?

Sebelum A Mothers Love, saya bikin Halfworlds yang menjadi proyek pertama untuk televisi. Kalau mau dibandingkan, media film lebih bebas kreatifnya, karena saat mengerjakan serial televisi saya harus memikirkan format penayangan, durasi, dan guide lines karakter televisinya.

Saya pengen juga bikin untuk televisi Indonesia, tetapi sepertinya tidak mungkin membuat apa yang saya mau. Mereka (pihak televisi) pasti pakai alasan enggak cocok dengan pasar. Kebetulan ada HBO Asia yang manawari, cocok, ya sudah jalan.

Kenapa selalu ada unsur gelap di setiap cerita yang ­Anda tulis dan jarang dibahas di film lain?

Saya adalah penonton yang bosanan. Saat bikin film saya juga pengen bikin yang tidak membosankan. Kalau bikin cerita yang sudah ada, ya bakal bosan. Saat bikin film, saya juga ingin enjoy. Jadi, saya cari sesuatu yang belum pernah saya tonton.

Alhamdulillah ada kesempatan. Kalau ada yang komentar, film Indonesia gitu-­gitu saja, nah saya bikin yang beda. Beruntungnya lagi produser mau menerima ide saya. Sukses atau tidak sukses pada hasil akhirnya adalah proses yang harus saya jalani.

Apa pencapaian terbesar Anda sebagai filmmaker? Apakah mendapat Piala Citra?

Begini, yang namanya kompetisi itu merefleksikan juri. Pilihan juri merefleksikan pelaku industri. Saya harus bisa menerima itu, karena hasilnya bisa dievaluasi. Kalau berbicara soal pencapaian, saya masih cemen jika dibandingkan dengan sineas yang lain.

Mau sombong berhasil meraih 4,1 juta penonton? Buat apa, karena ada film lain yang bisa lebih. Film saya diputar di festival film internasional? Film yang lain juga bisa. Saya malah suka minder kalau nonton film sineas lain di festival film internasional, saya suka membatin, ya ampun filmnya bagus banget. Pas ketemu yang bikin, orangnya humble, kan saya malu kalau sombong (tertawa).

Bagaimana Anda melihat industri film Indonesia saat ini?

Jumlah penonton film Indonesia pada 2017 mencapai sekitar 35 juta penonton, ini sesuatu yang hebat. Secara komersial, film Indonesia memang sedang luar biasa. Akan tetapi, secara kualitas belum.

Filmmaker belum bisa stabil menghasilkan karya yang bagus. Banyak penonton yang suka, tetapi pas nonton lagi, ­kecewa. Akhirnya enggak mau nonton lagi. Seharusnya, target marketnya bisa puas.

Misalnya film Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak, jumlah penontonnya tidak berjuta-juta, tetapi target marketnya puas, sehingga saat Mouly (Surya, sutradara) bikin film lagi pasti ­nonton.

Pada 2018 diperkirakan ada sekitar 60 judul film horor siap dirilis. Ini efek dari Danur (2,7 juta penonton), Jailangkung (2 juta penonton), dan Pengabdi Setan. Saya nonton semua film Indonesia. Masih banyak yang tidak layak tayang secara teknis. Padahal, teknis itu dasar sebuah film. Kalau mau mengekor Pengabdi Setan karena sukses, ya tidak apa-apa asal bagus.

Cerita Pengabdi Setan juga enggak original, tetapi kami bikinnya sungguh-sungguh dan detail.

Dari segala masalah yang ada di industri perfilman­ Indonesia, hal mendesak apa yang harus segera dibenahi?

Industri film Indonesia sangat butuh penulis skenario yang bagus. Selain itu, pendidikan tak hanya untuk sineas, tetapi juga untuk eksekutif produser. Saat ini, eksekutif produser hanya  menjadi investor, tanpa tahu film yang baik itu seperti apa.***

Baca Juga

Susah Sinyal Tayang Hari Ini, Simak Yuk Sinopsisnya

PADA setiap generasi, jarak antara orangtua dan anak yang berada di fase remaja akan selalu ada. Orangtua kerap merasa benar, begitu pula dengan sang anak yang merasa sudah mulai dewasa dan bisa mengendalikan semuanya.

Si Juki The Movie, Animasi Absurd yang Berani Tampil Beda

SOSOK Juki berada di jalur antimainstream yang membuat dia disukai. Sikapnya yang polos, lucu, dan berani beda membuat nama Juki melesat bak meteor. Dia menjelma menjadi selebritis. Akan tetapi, roda hidup terus berputar.

Lima Film Terbaik Katy Jurado Sang "Femme Fatale"

Sebagai seorang wanita asal Amerika Latin, Katy Jurado sukses berkarier di layar Hollywood. Kala itu di tahun 1951, ia bahkan menjadi aktris Amerika Latin pertama yang meraih Golden Globe Award.