Saat 16 Perempuan Memandang Dunia Lewat Seni

Artpression 16 Perempuan Memandang Dunia/WINDY PRAMUDYA/PR

SEBUAH senapan diacungkan sekitar satu meter ke arah kanvas yang memuat lukisan sosok perempuan. Di atas kanvas terdapat tulisan "target", sedangkan di belakang kanvas ada papan triplek hitam yang ditulisi kapur dengan nama-nama perempuan yang pernah menjadi sorotan, seperti Marsinah, Aida, dan Larasati.

Instalasi berjudul "Target" ini merupakan karya Titis Jabaruddin yang menjadi bagian pameran Artpression 16 Perempuan Memandang Dunia.

Berlangsung di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Jakarta, pameran Artpression 16 Perempuan Memandang Dunia menampilkan karya 16 perempuan perupa. Mereka berbicara tentang eksistensi dan situasi perempuan di masa kini lewat berbagai medium seni rupa. Pameran ini digelar 8-20 Januari 2018.

Perupa Titis tak hanya menyuguhkan karya dalam bentuk instalasi. Di karya yang lain, Titis berekspresi lewat gambar dengan medium pastel di atas kertas berukuran 55x75 sentimeter. Gambar berjudul Berangkat Subuh 2 ini menampilkan objek seorang penjual jamu gendong yang tampak gagah menggendong sumbernya mencari nafkah. Penggunaan warna pastel seperti merah muda, kuning muda, dan biru muda membuat karya ini memiliki sisi feminin yang kental.

Kembali dalam bentuk instalasi ada karya Ary Okta. Dalam judul "Berkata Apa", Ary menaruh kandang ayam berbentuk bulat dengan jerami yang berserakan. Di antara kandang, Ary menaruh sejumlah patung ayam berwarna-warni yang terbuat dari limbah kertas.

Untuk menegaskan pesan instalasi buatan dia, Ary menulis di papan tulis hitam kalimat yang berbunyi, "ketika kebebasan berkata-kata, tidak lagi dikurung, tidak lagi dikungkung, maka berkata-katalah yang baik, yang membuat hidup kita menjadi lebih baik".

Objek pria

Perspektif tentang perempuan masa kini tak melulu ditampilkan dalam objek perempuan. Perupa Reny Alwi misalnya malah membuat lukisan dengan objek pria. Lukisan berjudul "Tugas Penting" itu memakai medium akrilik di atas kanvas berukuran 80x90 sentimeter. Pada lukisannya, Reny melukis seorang pria yang sedang menggendong sambil menyuapi bocah laki-laki.

Interaksi antara ibu dan anak menjadi sajian perupa Neneng S Ferrier. Pada lukisan berjudul "Family Jewels" itu, Neneng memakai medium cat minyak di atas kanvas berukuran 140x140 sentimeter. Objek yang disuguhkan terdiri atas seorang ibu memakai gaun biru yang sedang dikelilingi tiga anak perempuannya. Satu anak dipangku, satu anak memeluk dari belakang, sedangkan anak paling besar duduk di sebelah sang ibu.

Isu perempuan pekerja menjadi objek lukisan Wa Ode Yurijo. Lukisan berjudul "Homoru" itu dilukis dengan medium akrilik di atas kanvas berukuran 140x150 sentimeter. Wa Ode melukis seorang perempuan yang sedang menenun kain dengan latar belakang permukiman warga.

Dalam bentuk patung ada karya Lydia Poetrie yang berjudul "Perspektive". Karya dengan medium keramik stoneware ini menampilkan dua sosok perempuan berwarna putih dan hijauh yang sedang berpose seperti penari.

Pada catatan pengantar yang ditulis Yenti Nurhidayat disebutkan, dalam banyak kebudayaan dunia, perempuan kerap ditempatkan dalam posisi subordinat. Budaya patriarki yang begitu kuat melekat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan secara sistematis menafikan kehadiran perempuan sebagai individu yang berdaulat atas tubuh dan keinginannya.

Peran sosial dan reproduksi yang dibebankan di pundak perempuan menyebabkan perempuan memiliki pengalaman sosial dan spiritual yang berbeda dengan laki-laki.

Perbedaan ini, kata Yenti, kemudian menyebabkan perbedaan cara pandang perempuan dalam memandang dunia dan dirinya sendiri. Cara pandang ini terlihat dari karya yang mereka kreasikan untuk pameran "Artpression 16 Perempuan Memandang Dunia". Namun, di dalam dunia yang bias, pengalaman sosial dan spiritual para perempuan perupa ini cenderung tidak diakui.

"Pengalaman emosional dan spiritual seperti ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil kajian dan riset. Padahal, pengalaman emosional dan spiritual perempuan merupakan bentuk kajian dan riset sepanjang hidup perempuan," tutur Yenti.

Menurut Yenti, dalam budaya yang penuh penindasan terhadap perempuan, perempuan kemudian tumbuh menjadi makhluk yang belajar bertahan hidup. Termasuk pengalaman-pengalaman empiris mereka sebagai makhluk subordinat.

Sementara itu, kurator Puguh Warudju mengungkapkan, lukisan tak ubahnya sebuah studi, karya-karya mereka merupakan refleksi tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Alhasil, karya seni juga bersifat kritik dan upaya elaboratif terhadap konsep dan praktik konstruksi sosial.

Puguh mengatakan, kemasan semiotika visual yang digarap dengan pengalaman estetik dan kreatif para perupa itu, benang merahnya adalah percikan-percikan penyuaraan dari bahasa hati masing-masing.

"Bahasa simbol, selain menikmatkan indrawi, ia juga lebih halus akan mempertajam dan serta-merta memperhalus jiwa. Namun, bahasa simbol bisa juga menjadi arus teror yang meluluhlantakan jiwa dan membangun keindahan sosial," ujar Puguh.***

Baca Juga

Film Ananta, Tania di Antara Pierre dan Anta

SEJAK ayahnya meninggal, hidup Tania (Michelle Ziudith) seperti dikurung awan kelabu. Dia selalu cemberut, judes, dan arogan dengan lingkungan sekitarnya.

Yura Ajak Duet Reza Rahadian, Lahirkan Single Pekat

BERMULA dari videoklip single Yura yang berjudul Intuisi, kolaborasi Yura dan Reza Rahadian berlanjut lewat single duet. Dalam nuansa hitam putih, Yura dan Reza memberi kejutan dengan tembang Pekat.