Peneliti IPB: Kurang ASI Sebabkan Anak Kurang Gizi

Menyusui/REUTERS
SENATOR Australia Larissa Waters memberikan ASI kepada putrinya Alia Joy saat dia berbicara di Senat Australia pada tanggal 29 Juni 2017.*

AIR susu ibu (ASI) merupakan makanan paling baik untuk bayi. Penelitian yang dilakukan oleh Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB), Lilis Nuraida menyatakan, ASI bisa menjadi probiotik yang mampu meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Probiotik terbukti dapat mencegah diare yang disebabkan berbagai hal seperti infeksi bakteri, virus, dan protozoa, serta penggunaan antibiotik. Probiotik juga dapat mencegah terjadinya intoleransi laktosa dan gangguan saluran pencernaan lainnya. Potensi lainnya, probiotik bisa mencegah diabetes melitus tipe 2, mencegah alergi, meningkatkan respons imun, menurunkan kolesterol, mencegah kanker dan penyakit hepatic encephalopathy.

Lilis melakukan penelitiannya pada 28 ibu menyusui yang baru melahirkan di Bogor. ASI dari 28 ibu menyusui itu diambil untuk diteliti. Berdasarkan hasil uji laboratorium, sampel ASI mereka mengandung lactobacillus, bifidobacerium, dan bakteri asam laktat. Setiap hari, seorang bayi mendapatkan asupan sel bakteri asam laktat yang telah teradaptasi dengan gizi dari ibunya. Jumlahnya sekitar 500.000-5 juta sel.

”Jumlah ini sangat berarti bagi inisiasi kolonisasi bakteri menguntungkan pada bayi dan berkontribusi terhadap kesehatan bayi. Beberapa bakteri asam laktat yang berasal dari ibu menyusui di Bogor memiliki potensi sebagai probiotik,” ujarnya. 

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB M Rizal Martua Damanik menyebutkan, berdasarkan penelitiannya, komposisi ASI ternyata bisa menyesuaikan kebutuhan bayi. Misalnya pada saat bayi baru lahir, komposisi ASI didominasi protein dan antibodi. ASI, menurut Rizal, juga bisa menyesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan. 

Misalnya, pada negara 4 musim, komposisi ASI pun bisa berubah dengan kadar lemak tinggi saat musim dingin dan menurun pada musim panas. Oleh karena itu, kuantitas dan kualitas ASI menjadi penting bagi bayi. Hanya saja, di Indonesia, prevalensi pemberian ASI eksklusif masih rendah jika dibandingkan 51 negara lain di dunia atau hanya 38%. 

”Kita hanya berada di urutan 49 dari 51 negara di dunia,” ujar Rizal. Akibatnya, kasus anak kurang gizi di Indonesia pun cukup banyak. Status gizi anak-anak Indonesia, kata Rizal, bahkan masuk dalam kondisi darurat. Data menunjukkan angka kurang gizi di Indonesia, khususnya pada balita mencapai 17% pada tahun 2017. Angka ini berdasarkan kecukupan berat badan pada balita. Padahal, nilai ambang batas WHO adalah 10%.

"Ini masalah yang serius karena status gizi anak berdampak pada kelanjutan generasi ke depannya. Jika status gizinya rendah, maka semua masalah bisa timbul dari sini," ucap Rizal.

ASI tak mencukupi

Rendahnya cakupan ASI eksklusif di Indonesia, kata Rizal, disebabkan oleh kegagalan ibu dalam menyusui. Produksi ASI yang tidak mencukupi merupakan penyebab paling sering dari kegagalan ibu menyusui. Meski prevelensi pemberian ASI eksklusif terus mengalami peningkatan, angkanya belum memenuhi target yang diinginkan. 

"Gencarnya sosialisasi soal susu formula, hingga hambatan ibu menyusui karena sang ibu bekerja, menjadi hal yang perlu kita perhatikan," tuturnya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah baik secara global maupun nasional dalam memperbaiki periode 1.000 hari pertama kelahiran (HPK), salah satunya aturan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan yang diatur secara tegas oleh SK Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 450/MENKES/SK/IV/2004.

Namun, pada pelaksanaannya tidak semua ibu mampu memberikan ASI eksklusif. Bahkan, ada kecenderungan para ibu yang sulit memenuhi ASI eksklusif memilih susu formula sebagai penggantinya. Padahal, pemberian susu formula dinilai memiliki banyak dampak negatif terhadap kesehatan dan perkembangan bayi.

Disebutkan Rizal, beberapa hal yang dinilai menjadi dampak pemberian susu formula misalnya meningkatkan risiko asma, risiko alergi, menghambat perkembangan kognitif, meningkatkan resiko ISPA, meningkatkan risiko kurang gizi, meningkatkan risiko kanker dan penyakit kronis lainnya.

Di negara lain, prevalensi ASI eksklusif cukup tinggi karena dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Rizal, jika di kita banyak ibu bekerja sebagai karyawan sehingga harus tunduk pada aturan, maka di luar, banyak ibu yang memilih bekerja wiraswasta sehingga bisa mengatur waktu menyusui anak-anaknya.

Rizal pun berpendapat, pemerintah perlu merevisi kebijakan yang dinilai menghambat berlangsungnya praktik pemberian ASI eksklusif. Salah satunya adalah Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Pasal 82 mengenai pengaturan cuti istirahat bagi pekerja wanita sebelum dan sesudah melahirkan selama 1,5 bulan atau totalnya hanya 3 bulan.

Menurut Rizal, lamanya cuti tersebut kurang efektif karena ibu yang telah kembali bekerja setelah masa cuti habis akan kesulitan dalam memberikan ASI kepada anaknya. Hal ini mendorong para ibu memberikan susu formula. "Pemerintah diharapkan dapat mempertimbangkan masa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan sebagai dasar penetapan cuti bersalin bagi pekerja wanita," tuturnya.***

Baca Juga

Mengintip Anggaran Mahasiswa Hobi Dugem Setiap Bulan

KETIKA berseragam putih abu-abu, Kartika Kusramadhani terpaksa mengubur keinginannya mencicipi dunia gemerlap (dugem). Ingin rasanya masuk ke diskotek atau kelab yang selama ini mengusik rasa penasarannya.