Isu Perempuan dan Buruh di Pameran Tulang Punggung

Pameran Tulang Punggung/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

BERBASIS penelitian mengenai buruh perempuan, pameran bertajuk Tulang Punggung menampilkan karya dari dua kelompok seni yaitu Rajut Kejut dan Buka Warung. Berlangsung di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Jakarta, Tulang Punggung digelar mulai 20 Desember 2017 sampai 15 Januari 2018. Karya dua kelompok seni yang ditampilkan berupa instalasi dalam bentuk kolektif dengan berbagai medium.

Kurator proyek seni perempuan perupa Tulang Punggung, Angga Wijaya mengungkapkan, buruh merupakan salah satu pekerjaan yang rentan terhadap eksploitasi perempuan. Kerentanan buruh perempuan merupakan masalah klasik dalam relasi industri.

Menurut Angga, buruh perempuan berada dalam dua kehidupan, yaitu di dalam pabrik dan di dalam rumah sebagai ibu serta istri. Perusahaan tempat buruh bekerja merupakan representasi dari kapital yang eksploitatif, sedangkan rumah merupakan representasi dari perubahan agraria, tingkat pendidikan, norma budaya, agama.

"Dua kelompok seniman dalam pameran ini yaitu Rajut Kejut dan Buka Warung merupakan kolektif perempuan seniman dengan pola kerja bersama. Kelompok Rajut Kejut terdiri atas perempuan yang rata-rata telah berumah tangga dan menjadi ibu. Sementara itu, Buka Warung terdiri atas perempuan muda," ungkap Angga.

Angga menyebutkan, sejak Juni sampai November 2017 dua kelompok ini melakukan penelitian mengenai buruh perempuan sebagai basis penciptaan karya yang bekerja sama dengan Trade Union Rights Center (TURC), lembaga pusat studi advokasi perburuhan.

Kelompok Rajut Kejut menelusuri buruh rumahan yang mayoritas dilakukan perempuan atau ibu rumah tangga. Sementra Buka Warung menelusuri kehidupan perempuan buruh pabrik.

"Pameran Tulang Punggung hendak melihat seperti apa kehidupan yang dipikul buruh perempuan. Saat mereka berperan sebagai ibu dan istri di dalam rumah, dan sebagai rumah tangga industri dalam relasi kuasa kerja," ujar Angga.

Rajutan buruh perempuan

Di lantai pertama Galeri Cipta III, karya yang ditampilkan merupakan hasil dari Kejut Rajut yang menelusuri lokasi buruh rumahan di sekitar Jakarta Utara dan Tangerang. Para buruh rumahan tinggal di permukiman yang berada di sekitar kawasan industri pabrik. Mereka mengerjakan sebagian proses produksi barang yang tidak bisa dikerjakan mesin. Misalkan memasang komponen paku untuk klem kabel, dan merapikan sisa benang yang berlebih pada produk pakaian.

Setelah melakukan kunjungan, Rajut Kejut kemudian membuka partisipasi publik untuk membuat rajutan dengan tema Perempuan dan Pekerjaan. Prosesnya, Rajut Kejut menyediakan pola dan benang yang kemudian dikirim kepada partisipan, dan setelah rajutan selesai kemudian dikumpulkan kembali.

Target melebihi ekspektasi, karena ada sekitar 200 partisipan yang mendaftar baik secara individu maupun komunitas. Aplikasi terbuka ini tersiar Asosiasi Rajut Indonesia yang beredar di berbagai komunitas rajut se-Indonesia, seperti Batam, Malang, Balikpapan, dan Yogyakarta. Praktik yang dilakukan Rajut Kejut seperti gerakan berantai yang menerobos batasan geografis, suku, dan agama.

Hasilnya, Rajut Kejut membuat karya dalam bentuk instalasi ruang istirahat. Warna-warni benang rajut sukses dirangkai menjadi dua kursi goyang dan tulisan "tulang punggung". Ada pula ungkapan-ungkapan dari buruh rumahan seperti "apa bedanya upah sama gaji"?, "kita syukuri hari ini", dan "kalau punya keterampilan sih enak".

Dari wawancara

Sementara itu, kelompok Buka Warung menitikberatkan pada kehidupan perempuan buruh pablik. Proses observasi dilakukan dengan mengunjungi pabrik yang memiliki sistem, jaminan kerja baik, dan serikat buruh yang menjadi jembatan pekerja dan perusahaan.

Dengan format wawancara, Buka Warung menemui buruh setiap hari Jumat karena pada hari itu mereka memiliki waktu istirahat cukup lama. Pertanyaan mengenai hiburan dan apa yang sukai membuat proses wawancara cair. Para buruh antusias menjawab misalnya tentang pemulas bibir kesukaan, mal yang dikunjungi, dan aplikasi filter foto di telefon genggam.

Hasil observasi diilustrasikan Buka Warung dalam bentuk gambar dan instalasi ruang karaoke di lantai dua galeri. Gambar dalam format poster menjadi hal menarik untuk dicermati karena tertuang di atas kertas karton warna-warni. Misalnya poster dengan tulisan "habis aerobik selfie dulu" dengan gambar kumpulan perempuan mengenakan busana olah raga. Ada pula tulisan "pengen nikah tapi belum tahu kapan" dengan gambar pasangan yang sedang ijab kabul.

Bagi Buka Warung, rutinitas perempuan buruh pabrik yang bekerja bak mesin menjadi refleksi perbedaan persepsi dan aspirasi karier yang melihat bekerja sebagai renjana dan suka-suka. Namun, Buka Warung bukan menawarkan persoalan, tapi memperlihatkan siasat hidup perempuan dalam berkeluarga dan bekerja pada konteks hari ini.***

Baca Juga

Si Juki The Movie, Animasi Absurd yang Berani Tampil Beda

SOSOK Juki berada di jalur antimainstream yang membuat dia disukai. Sikapnya yang polos, lucu, dan berani beda membuat nama Juki melesat bak meteor. Dia menjelma menjadi selebritis. Akan tetapi, roda hidup terus berputar.

Rumah Bintang Rilis Album Lagu Anak

BANDUNG, (PR).- Anak-anak yang tergabung di komunitas belajar Rumah Bintang merilis album berjudul Nyanyian Anak Bintang. Album ini dirilis dalam bentuk CD yang dibantu Maraton Mikrofon, label rekaman asal Bandung.