Tips ASI Eksklusif dari Ketua Hijabers Community Bandung

Ketua Hijabers Community Bandung Sarah Hesty/ARIF HIDAYAH/PR

Sarah Hesty (26) memasuki tahun kelimanya menjadi Ketua Hijabers Community Bandung (HCB). Ia juga merupakan ibu bekerja menjabat account executive di sebuah perusahaan media. Sebagai ibu, ia bertekad memberikan ASI eksklusif bagi bayinya.

Salah satu kiat sukses ASI eksklusif-nya ialah membawa seperangkat ‘alat tempur’. Apa sajakah?

Di suatu siang yang cerah, Kamis 21 Desember 2017, Sarah menemui tim Geulis ”PR” di Two Cents Cafe, Jalan Cimanuk, Bandung. Meski dijadwalkan hanya untuk wawancara dan sesi foto, bawaan perempuan kelahiran Bandung 27 Januari 1991 ini cukup banyak.

Selain baju ganti, ia juga tak lupa membawa serta perlengkapan pompa ASI. Maklum ia baru saja melahirkan bayi perempuan Azkadina Mah­reen Syafa.

Bagi perempuan bekerja yang juga ibu baru, istilah pumping sudah tak asing lagi. Ibu memerah ASI dengan pompa khusus pada waktu-waktu tertentu, untuk disimpan sebagai stok cadangan bagi bayi saat ditinggal bekerja.

Menjadi ”mama perah” -- sebutan bagi para ibu yang memerah ASI-nya -- tak menyurutkan langkah Sarah untuk beraktivitas. Meski ia harus menanggung beberapa konsekuensi seperti membawa bekal peralatan pumping ke mana-mana.

Sarah termasuk kelompok ibu yang berusaha memberi ASI pe­nuh untuk bayinya. Bagi bayi hingga usia 6 bulan, ASI memang disarankan menjadi satu-satunya makanan sebelum ia siap mendapat makanan pendamping ASI.

Sebagai ibu baru, Sarah sempat kebingungan. Namun, ia belajar cepat dengan mengandalkan insting keibuannya.

Oleh karena itu, ia bersyukur dengan situasinya saat ini. Pekerja­an yang digelutinya dirasa pilihan yang tepat.

”Karena waktunya fleksibel. Saya bisa mengatur sendiri kapan waktu untuk bekerja dan ada di rumah dengan anak. Saya bersyu­kur punya kesempatan ini, masih bisa bekerja tetapi masih bisa pu­nya waktu yang cukup dengan anak,” ujarnya.

Sarah sebisa mungkin tak ketinggalan masa-masa pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Itu karena bayi tumbuh dengan cepat dan perkembangannya pesat.

Sarah menilai Hijabers Community Bandung semakin berkembang

Ia mengenal Hijabers Community Bandung sejak 2012. Kala itu, ia baru saja lulus dari Administrasi Bisnis LPKIA. Selain bekerja, ia juga memanfaatkan wak­tu luangnya untuk bergabung dengan komunitas.

Hijabers Community Bandung dipilihnya karena memiliki agenda rutin pengajian yang menurut Sarah baik untuk asupan rohani. Keaktifannya di komunitas, membuatnya dipercaya sebagai ketua HCB hingga sekarang.

Di dunia pengguna hijab tanah air, Hijabers Community bisa jadi salah satu pelopor wadah berkumpul anak muda yang hendak menambah wawasan ilmu agama. Komunitas ini juga dikenal dengan Muslimah berhijab modis.

”Soal modis mungkin karena tren berhijab tengah demikian. Namun, ternyata bisa juga jadi penarik perhatian Muslimah lain untuk belajar agama. Dalam perjalanannya, kami selalu berusaha me­ngedepankan agenda yang positif dan bermanfaat daripada seka­dar gaya berhijab,” ujarnya.

Putri pasangan Ai Kartika Soenaryo dan Rukmana Anggawibawa ini menilai, HCB semakin berkembang. Klien yang mengajak kerja sama semakin banyak sehingga butuh perkembangan komunitas lebih baik lagi.

Selain pengajian rutin, kata Sarah, HCB juga punya agenda tahunan seperti pengajian akbar dan juga acara bakti sosial. Karena harus dikelola lebih profesional itulah, regenerasi kepemimpinan juga diperlukan.***

Baca Juga