Si Juki The Movie, Animasi Absurd yang Berani Tampil Beda

Si Juki/YOUTUBE

SOSOK Juki berada di jalur antimainstream yang membuat dia disukai. Sikapnya yang polos, lucu, dan berani beda membuat nama Juki melesat bak meteor. Dia menjelma menjadi selebritis. Akan tetapi, roda hidup terus berputar. Pelan-pelan pamor Juki meredup karena Juki dianggap berubah. Dia dikucilkan komunitasnya.

Kendati sedih, tapi Juki berusaha tetap tenang dan kocak seperti biasa. Apalagi dia dikelilingi keluarga yang selalu ada dan mendukungnya. Terutama Enyak (Maya Wulan), Babeh (Jaja Mihardja), serta pamannya Profesor Juned (Indro Warkop) dan sepupunya Juleha (Wizzy). Sampai akhirnya serial yang Juki bintangi distop penayangannya, Juki berupaya tetap biasa saja.

Di sisi lain, Badan Antariksa menemukan ada asteroid yang akan menabrak bumi. Hal ini membuat peneliti dari Badan Antariksa, Erin (Bunga Citra Lestari) panik. Setelah diskusi dengan Presiden (Butet Kartaredjasa), datang seorang pengusaha yang berniat mencegah bencana itu. Namun, Erin merasa ada yang aneh tanpa bisa berbuat apa-apa.

Erin kemudian menemui Juki untuk meminta tolong agar Juki menghentikan misi karena perhitungan yang tidak akurat. Sayangnya, tindakan ini malah dianggap sebagai sabotase karena gagalnya misi menghancurkan asteroid.

Di tengah kerumitan masalah, Profesor Juned berusaha untuk membantu dengan penemuannya. Dengan segala upaya, akhirnya Juki, Erin, Juleha, Bang Togat, dan Buyung berhasil mencapai luar angkasa untuk menghancurkan asteroid. Berhasilkah misi Juki dkk untuk menyelamatkan dunia?

Berawal dari komik strip

Kisah Si Juki bermula dari komik strip yang dibuat pada 2011 lalu. Dikemas dalam cerita komedi yang ringan, Juki memikat pencinta komik Indonesia. Saat ide mengangkat Juki ke layar lebar, kreator Juki, Faza Meonk didaulat untuk menjadi sutradara dan menulis cerita.

Setelah menjalani proses dua tahun, Si Juki The Movie yang diproduksi Falcon Pictures tayang pada Kamis, 28 Desember 2017.

Pada pemutaran perdana di CGV BEC Jalan Purnawarman Kota Bandung, Rabu 27 Desember 2017, Faza menceritakan, kisah Si Juki The Movie dimulai dari menyusun cerita yang pas. Menurut Faza, sejak awal dia ingin cerita yang ditampilkan untuk film tontonan keluarga. Saat cerita sudah jadi, baru dia mencari karakter yang pas serta para pengisi suara (dubber).

"Karakter utamanya ada sekitar 20, sedangkan karakter ekstra lebih dari 400-an. Tim animator yang mendesain itu semua. Setelah mencari pemain untuk mengisi suara, baru mereka workshop dan reading untuk menyatukan persepsi. Setelah itu mereka rekaman sekitar 10 hari," tutur Faza.

Prosesnya, kata Faza, rekaman suara dan gesture pemain dulu setelah itu tim animator menggambar detail adegan per adegan dan karakter per karakter. Dalam format gambar dua dimensi, dalam satu detik, animator bisa membuat 12 frame.

"Tokoh Juki ini antimainstream, makanya visualnya absurd. Karakternya punya pandangan luas dan jadi diri sendiri. Juki juga tidak gampang disetir sama tren, dan berani beda," ujar Faza.

Animator Bandung

Animation Director Daryl Wilson menyebutkan, untuk Si Juki The Movie dia mengarahkan sekitar 50 animator dari Bandung. Produksi gambar dilakukan selama 6 bulan setelah rekaman suara, karena hasil rekaman menjadi patokan untuk gambar dan adegan.

"Suara dan gambar gestur pemain dibagi ke animator, dan ilustrator untuk menggambar background suasana. Apalagi, para pemain juga dibebaskan untuk mengembangkan karakter dan eksplorasi cerita. Hal ini mempengaruhi kerja animator," ungkap Daryl.

Intinya, setiap keunikan karakter dan improvisasi para aktor tak boleh hilang. Soalnya ini menjadi kekuatan saat diwujudkan secara visual.

Salah seorang pemain, Indro Warkop mengungkapkan, Si Juki The Movie menjadi pengalaman pertama dia mengisi suara untuk film animasi. Indro mengaku sulit karena harus berimajinasi membayangkan setiap adegan saat rekaman suara. Untungnya, sebelum rekaman, worskhop naskah bersama seluruh pemain dilakukan selama satu bulan. Hal ini, kata Indro, memudahkan proses rekaman.

"Lebih capek jadi dubber ternyata. Saya setiap habis rekaman sampai minum obat pusing. Akan tetapi, saya senang bisa terlibat di produksi ini. Saya ingin generasi muda Indonesia tahu kalau Indonesia bisa bikin film animasi yang bagus," ujar Indro.***

Baca Juga

Susah Sinyal Tayang Hari Ini, Simak Yuk Sinopsisnya

PADA setiap generasi, jarak antara orangtua dan anak yang berada di fase remaja akan selalu ada. Orangtua kerap merasa benar, begitu pula dengan sang anak yang merasa sudah mulai dewasa dan bisa mengendalikan semuanya.