Murder on the Orient Express, Drama Misteri Kriminal Berat yang Disunat

Murder on the Orient Express/20TH CENTURY FOX

BANYAK yang mengakui, Agatha Christie merupakan penulis yang mampu menangkap detail zamannya dan membuat masa lalu—masa latar novelnya—begitu menyenangkan, termasuk dalam Murder on the Orient Express.

Barangkali pula, dia tak pernah memperhitungkan kalau karyanya akan membuat masyarakat yang lahir jauh setelahnya memandang ”era Agatha Christie” sebagai momen paling indah, setidaknya di Eropa, sepanjang abad ke-20 meski ternyata dua perang besar terjadi di sana. Dialah penulis yang mampu mengungkapkan dengan manis definisi dari kata ’antik’.

Sialnya, kesan antik itu tak muncul dalam Murder on the Orient Express. Twentieth Century Fox selaku studio pembuat film ini terlalu mengumbar CGI (Computer-generated Imagery) guna memberi kesan kolosal.

CGI, yang dalam industri film saat ini seolah menjadi pemecah segala kendala teknis pengambilan gambar konvensional, diaplikasikan di bagian-bagian yang rasanya tidak perlu. Hal itu justru mengurangi nilai antik cerita detektif ala Agatha Christie.

Visualisasi di luar gerbong kereta seharusnya tidak perlu terlalu didramatisasi agar tidak mengganggu fokus pada persitiwa di dalam gerbong.

Film ini mengisahkan salah satu kasus yang dipecahkan tokoh detektif rekaan paling terkenal milik Agatha Christie, Hercule Poirot (Kenneth Branagh).

Setelah menyelesaikan kasus pencurian dari Jerusalem, sang detektif harus pulang ke Inggris menggunakan kereta Orient Express. Tanpa diduga, terjadi pembunuhan di dalam kereta. Hercule Poirot pun mendapat panggilan jiwa untuk menemukan si pembunuh sebelum kereta tiba di stasiun berikutnya.

Sejumlah nama tenar membintangi film ini. Selain Kenneth Branagh, ada Johnny Depp, Penelope Cruz, Willem Dafoe, Michelle Pfeiffer, Daisy Ridley, dan Judi Dench.

Metode pemecahan masalah ala detektif pun terasa terlalu sederhana untuk ukuran seorang Hercule Poirot yang eksentrik. Simplifikasi itu tersurat dari dipersingkatnya perdebatan alibi setiap penumpang dan pembahasan soal barang bukti.

Padahal, kekuatan cerita detektif Agatha Christie justru ada pada dialog, permainan emosi, misteri, dan nilai-nilai humanismenya.

Toh, agaknya, Murder on the Orient Express juga tidak ditujukan untuk menyamai atau bahkan melampaui gaya visual dua film Sherlock Holmes garapan Guy Ritchie yang penuh aksi.

Walaupun akan menghadirkan penilaian yang tidak adil, sangat sulit untuk tidak membandingkan Murder on the Orient Express dengan versi lawasnya tahun 1974 karya Sidney Lumet, sang maestro sinema yang gemar mengeksporasi kompleksitas emosi manusia.

Dalam Murder on the Orient Express edisi 2017, Kenneth Brannagh selaku sutradara—bukan aktor utama—menerjemahkan skenario Paul Dehn dengan cara yang lebih sederhana meski tetap berpijak pada nilai misterinya. Ketegangannya terjaga dan durasi 1 jam 55 menit dioptimalkan dengan baik.

Akan tetapi, jika kita berharap mendapati drama kriminal berat yang membuat frustrasi macam Zodiac (2007), Chinatown (1974), Memories of Murder (2003), maupun The Maltese Falcon (1941), kita akan kecewa. Murder on the Orient Express edisi 2017 tak seberat yang dibayangkan.

Di luar simplifikasi itu, ada satu pendekatan yang cerdik yaitu menempatkan fakta tentang keluarga Amstrong di tengah cerita, bukan di awal. Sejumlah kabut misteri pun disibakkan dengan genit sampai kita mengetahui siapa pembunuh di kereta.

”There is a murderer among us,” ujar Hercule Poirot. Kalimat klise tetapi jadi berbobot karena diucapkan dengan nada keraguan padahal film sudah mendekati selesai.

Dalam Murder on the Orient Express versi lawas, fakta soal keluarga Amstrong disajikan di awal film. Di sana ditampilkan montase kasus keluarga Amstrong. Hal itu, tak terelakkan, menuntun penonton berpikir linear dan yakin ada keterkaitannya dengan pembunuhan di kereta.

Babak baru petualangan Hercule Poirot

Scene pamungkas film ini mebawa kejutan karena rupanya Murder on the Orient Express hampir pasti membuka peluang dilanjutkannya petualangan Hercule Poirot.

Jika memang ternyata ada film selanjutnya, kisah sang detektif akan mengacu pada novel Death on the Nile, karya Agatha Christie tahun 1937. Novel tersebut juga pernah di-layarperak-kan pada 1978.

Death on the Nile memenangi satu Oscar untuk aktegori desain kostum terbaik dan masuk nomine Golden Globes untuk kategori film asing terbaik (Inggris).

Semoga kita menyaksikan ekranisasi yang lebih mampu menangkap nyawa bukunya dalam film-film tentang Hercule Poirot mendatang.***

Baca Juga

Buffalo Boys, Asimilasi Narasi Koboi Klasik

"BALAS dendam mungkin adalah hak, tapi pengampunan akan membuat batin lebih kuat."

Perkataan Seruni (Happy Salma) itu menguatkan pendapat bahwa Buffalo Boys adalah film dengan struktur narasi koboi klasik.

Tips Memilih Kursi yang Cocok untuk Meja Makan

MAKAN malam bersama keluarga adalah kegiatan yang paling menyenangkan. Selain bisa menyantap hidangan secara bersama, Anda juga dapat berbagi cerita dengan mereka semua.

Lima Film Calon Box Office 2019

TAHUN 2018 belum berakhir. Namun, tak dimungkiri penggemar film menantikan judul-judul yang akan tayang tahun depan. Ada yang turut menantikan? Ini dia lima calon film box office 2019 yang Pikiran Rakyat rangkum