Mobile Legends Bandung, Main dan Belajar Strategi Bareng

Bermain Mobile Legends/ARIF HIDAYAH/PR

COBA tunjuk tangan, siapa yang sedang asyik-asyiknya menggandrungi gim Mobile Legends: Bang Bang? Belakangan ini, gim yang diciptakan pada Juli 2016 dan dirilis pertama kali di Tiongkok ini, sedang tren di kalangan pencinta gim mobile, terutama di Indonesia.

Rabu 15 November 2017 malam, puluhan orang memenuhi sebuah ruang di Lantai 5 Click Square, Jalan Naripan Nomor 89, Kota Bandung. Sebagian besar asyik menekuni layar.

Uniknya, mereka tak sibuk sendiri. Sambil menekuni layar telefon seluler, mereka berceloteh dan berinteraksi satu sama lain.

Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, juga usia. Tak hanya laki-laki, ada juga belasan perempuan asyik bermain gim. Satu hal yang sama, mereka sama-sama sedang menggandrungi Mobile Legends.

Malam itu adalah kali pertama gathering penyuka Mobile Legends diadakan di Bandung. Mereka datang dengan motivasi beragam. Akan tetapi, sebagian menyatakan ingin mendapatkan ilmu baru serta trik seputar permainan yang sering dijuluki sebagai ”DotA-nya Android” ini.

”Kalau saya, pengen kumpul sama temen-temen yang suka main Mobile Legends aja. Ternyata, seru banget,” ucap Shegi Julia Tania (22). Dia mulai bermain gim itu sejak satu tahun terakhir.

Shegi menuturkan, ada keasyikan tersendiri yang bisa didapatkan ketika bermain gim ini. Terutama, dalam hal belajar mengenai strategi dan kerja sama tim. Lebih dari itu, ia juga bisa melampiaskan kekesalan.

”Paling enak main kalau lagi kesal, malah makin asyik, bad mood jadi hilang,” ujarnya.

Dari permainan ini, ia juga menambah banyak teman. Banyak pula temannya yang dikenal melalui gim ini. Tak jarang, ia dan teman-temannya juga menggelar mabar (main bareng).

”Kalau rank naik, ada suatu kebanggaan aja. Buat pergaulan, juga buat diri sendiri,” ujarnya.

Yanuar Winahto (25) menggemari Mobile Legends karena gameplay dan grafis yang menarik dan atraktif sehingga terlihat lebih nyata. Hal yang membuatnya bermain dan terus bermain, yaitu praktis dan enak dimainkan di mana saja.

”Sekarang, aku pintar-pintar bagi waktu aja supaya enggak mengganggu kuliah,” ucap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran ini.

Populer

Mobile Legends menciptakan tren baru di kalangan pemain gim, khususnya pengguna perangkat mobile seperti smartphone dan tablet, setelah selama ini ”pangsa” tersebut dikuasai oleh gim fenomenal Clash of Clans dan Candy Crush. Tak sedikit pula yang menyebutnya sebagai gim MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) versi analog.

Mobile Legends diciptakan oleh Moonton, salah satu pengembang gim yang cukup terkenal di Asia. Setelah dirilis pada 2016, Mobile Legends dibanjiri oleh banyak pemain.

Sudah banyak kejuaraan yang diselenggarakan, baik kejuaraan internasional maupun domestik. Salah satunya adalah MSC (Mobile Legends Southeast Asia Cup) yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.

Beberapa alasan di balik popularitas Mobile Legends antara lain bisa diunduh secara gratis melalui Play Store, bisa ”ringan” dimainkan pada smartphone dengan spesifikasi yang middle-end, gameplay yang semakin menantang, grafik bagus, serta tempo permainan yang cepat.

Alasan lainnya, gim ini menyediakan fitur agar pemain bisa bermain bersama orang yang dikenal di dalam semua mode permainan.

Pemainnya bisa terdiri atas dua hingga sepuluh orang. Dengan begitu -tak seperti kebanyakan gim lain yang individual, pemain bisa bermain bersama-sama, sehingga menimbulkan keseruan dan sensasi berbeda.

”Di kampus, itu satu lorong kantin bisa semuanya main Mobile Legends. Saya jadi penasaran, akhirnya mencoba dan malah ketagihan,” ucap Andina Ghassani (22).

Dina, begitu ia biasa disapa, adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Selesai kuliah dan mengerjakan tugas, Dina mengalokasikan waktu secara khusus untuk bermain gim.

”Pernah juga main sampai subuh. Duh, kalau lagi ada target yang dikejar rasanya enggak bisa berhenti aja. Teman-teman saya juga begitu. Makanya, buat yang belum main, mendingan jangan main, deh, ketagihan soalnya,” ujarnya diikuti tawa.

Marketing Communication Click Square Dadan Nugraha mengatakan, acara gathering semacam ini dimaksudkan untuk mewadahi bibit-bibit pemain gim, sehingga diharapkan bisa membawa nama Jawa Barat ke turnamen setingkal nasionat dan internasional.

Mengejar prestasi lewat gim

DI masa kini, gim tak hanya dimainkan untuk mengisi waktu luang atau sarana menyalurkan hobi. Banyak orang rela menghabiskan waktu belasan jam dalam sehari demi mengejar prestasi lewat sebuah gim.

Marsa Yudistira (20), misalnya. Mahasiswa Desain dan Komunikasi Visual (DKV) Telkom University ini bermain Mobile Legends dengan cara yang serius. Dia membuat sebuah tim, demi mengejar peringkat sebagai Top Global Squad.

”Tim sengaja dibentuk, terdiri atas 9 orang. Tiga orang dari Bandung, ada 2 dari Jakarta, dan sisanya dari kota-kota lain di Indonesia,” ucap Marsa.

Marsa mulai bermain gim ini sejak musim kedua, sekitar satu tahun lalu. Awalnya, ia hanya iseng-iseng. Tetapi, seiring dengan peningkatan tren Mobile Legends, Marsa menjadi lebih serius -jika tak ingin disebut terobsesi.

”Dalam sehari, selama tidak kuliah dan mata masih melek, saya pasti main,” ucapnya lalu tersenyum.

Selama bermain gim itu, Marsa pernah bercokol di peringkat 60 Top Global. Dia menargetkan berada di posisi 50 besar pada akhir musim ini.

”Kalau bisa Top 15, akan dapat pengakuan dari Moonton sendiri, mendapatkan logo centang juga. Suatu kebanggaan tersendiri yang worth it dikejar aja,” ujarnya.

Marsa telah mendapatkan rank Mythical Glory. Beberapa waktu ini, rank Mythic menggantikan peringkat tertinggi sebelumnya yaitu Legend.

Ada beberapa alasan di balik pembaruan rank yang terbilang cukup besar ini. Developer Mobile Legends merasa bahwa rank Legend tidak memunculkan perbedaan yang signifikan antara pemain profesional dan pemain biasa.

Rank Legend juga dinilai kurang memiliki efek yang ”wow” untuk sebuah rank tertinggi. Oleh karena itu, muncullah rank Mythic.

Rank Mythical Glory menggantikan Glorious Legend, sebagai urutan tertinggi. Adapun cara untuk mencapai rank Mythical Glory yaitu dengan mencapai 50 besar di local server masing-masing.

”Setelah ini, kami mengincar turnamen-turnamen, supaya bisa mewakili Indonesia di kejuaraan internasional,” ujar Marsa, yang menggunakan nickname ”Aphrodite” ketika bermain.

Kurnia Indra (20), tak jauh berbeda. Dia mulai menggemari Mobile Legends setelah sebelumnya terpincut dengan DotA.

”Awalnya berhenti main DotA, karena memakan waktu. Ternyata Mobile Legends lebih memakan waktu,” ujarnya lalu tertawa.

Dari hobi bermain Mobile Legends, Indra bahkan bisa mendapatkan penghasilan. Dia sering kali menjual hero yang telah didapatkan kepada pemain lain. Rata-rata, ia menjual seharga Rp 300.000, bergantung pada tingkat kesulitan ketika meraihnya.

Tak hanya itu, ia sering kali bermain dalam sebuah akun, lalu menjualnya ketika sudah mendapatkan rank lumayan. ”Nambah penghasilan, nambah koneksi, dan semakin diseriusin semakin enak,” ujarnya.

Indra pun menyimpan angan-angan untuk mengikuti berbagai turnamen demi membawa pulang kebanggaan. ”Seru dan bangga aja bisa dikenal orang lewat gim. Ini juga prestasi buat saya,” kata Indra.***

Baca Juga

Kids Zaman Now Generasi Paling Bodoh

TAK hanya di Indonesia, viralnya sebutan "kid zaman now" ternyata terjadi juga di sejumlah negara, tak terkecuali Amerika Serikat.