Ayu Laksmi dalam 16 Pertanyaan, Dihantui Sosok Ibu Pengabdi Setan

Ayu Laksmi/DEDEN IMAN/PR

KEMUNCULAN film Pengabdi Setan garapan sutradara Joko Anwar, membukukan rekor tersendiri dalam dunia perfilman Indonesia.

Film itu resmi dinobatkan sebagai film horor Indonesia terlaris  sepanjang masa. Di hari ke-37 pemutarannya di bioskop, Pengabdi Setan telah disaksikan oleh lebih dari empat juta penonton tanah air.

Penonton yang telah menyaksikan Pengabdi Setan (atau bahkan bagi yang belum menonton karena berbagai alasan) pasti tahu benar bahwa tokoh Ibu punya posisi sentral.

Sosoknya berhasil  mengantarkan suasana mencekam. Bahkan meski hanya melalui dentingan lonceng yang dibunyikannya sekalipun.

Popularitas tokoh Ibu, disebut-sebut mampu mengingatkan kita pada karakter Valak dari The Conjuring. Sosoknya juga sempat viral di jagat maya. Tagar dan meme yang berhubungan dengan  sosok Ibu, bahkan sempat menjadi trending topic di linimasa Twitter dan menjadi perbincangan warganet berminggu-minggu lamanya.

Di balik tokoh Ibu, ada sosok Ayu Laksmi (49). Dalam Pengabdi Setan, ia dihadirkan dalam wujud wajah pucat yang memancarkan aura seram. Memikirkannya saja (mungkin sambil membayangkan beberapa scene), orang bisa langsung bergidik.

Gara-gara Ayu Laksmi, kata ”ibu” sempat mengalami pergeseran makna. Jika biasanya seorang ibu identik dengan perempuan penuh cinta dan kelembutan, peran yang ”dihidupkan” Ayu Laksmi justru bisa membawanya dalam tataran berbeda: penuh teror.

Tentu saja, dalam kesehariannya, Ayu Laksmi tak demikian. Penampilannya cantik, dengan tutur bahasa halus. Pikiran Rakyat berkesempatan berbincang dengan Ayu Laksmi di belakang panggung, di sela-sela perhelatan Festival Film Bandung atau FFB 2017.

Sebelum membintangi Pengabdi Setan -hingga sekarang, Ayu Laksmi adalah penampil di dunia musik.Dia sering kali bernyanyi, memainkan alat musik, menulis lagu, hingga menari.

Pada dekade 1990-an, Ayu Laksmi bahkan sempat dikenal sebagai seorang lady rocker. Hingga kini, Ayu Laksmi sering tampil dalam berbagai panggung atau festival musik lokal, nasional, hingga internasional.

Di dunia seni peran, dia total sudah bermain di lima judul film. Film pertama yang dibintanginya adalah Under the Tree, garapan sutradara Garin Nugroho.

Berkat film itu, ia menjadi nomine pemeran utama wanita terbaik di ajang Festival Film Indonesia atau FFI 2008. Dia juga pernah beradu akting di Ngurah Rai, serta Soekarno. Film lain yang dibintangi Ayu Laksmi, The Seen and Unseen yang tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2017.

Bagaimana cerita Ayu Laksmi mengenai Pengabdi Setan -mulai dari ragu menerima peran, sampai pandangannya terhadap genre horor, dan bagaimana ia memaknai keberhasilan film tersebut?

Ada juga penuturannya mengenai ”dihantui” sosok Ibu, setelah berhasil ”menghantui” penonton. Berikut petikannya.

Apa yang berubah dalam diri Anda setelah memerankan sosok Mawarni Suwono atau Ibu?

Jadi lebih diperhatikan orang. Entah orang itu merasa takut (karena membayangkan sosok Ibu) atau bagaimana. Yang pasti, perasaan saya juga campur aduk, antara percaya tidak percaya, sekaligus bersyukur.

Rasanya, seperti punya semangat baru, sekalipun di film tampil sebagai sosok yang menyeramkan yang seharusnya menakutkan, tetapi sekaligus dirindukan. Kalau meminjam bahasa sastra, antara dibenci dan dicinta, antara seram tapi rindu.

Bagaimana awal Anda terlibat dalam film Pengabdi Setan?

Pertama kali, Bang Joko (Joko Anwar) memang mencari peran ibu, dan menawarkan kepada saya. Saat itu, saya sedang sibuk sekali di panggung. Waktu ditawari casting, saya bahkan lagi perform di India.

Saya diminta datang ke Jakarta, jadi saya bilang oke, saya akan mampir ke Jakarta setelah selesai di India. Saya lalu casting.

Saya tidak pernah memikirkan soal hasil casting, karena saya memang merasa bahwa saya tidak harus berjuang di bidang seni peran.

Biasanya, kalau saya diminta casting, saya penuhi tetapi tidak berat dipikirkan. Beberapa waktu kemudian, saya dinyatakan lolos casting untuk film ini (Pengabdi Setan). Di situ, saya baru merasa, ”Aduh, saya main film horor, nih”.

Memangnya, ada apa dengan film horor di benak Anda saat itu?

Pengabdi Setan adalah film kelima saya, tetapi menjadi film horor pertama saya. Makanya, ada masa saya menunda-nunda menandatangani kontrak. Jujur, pikiran saya ragu, tetapi hati saya kuat berkata ya.

Banyak orang yang memberikan masukan kepada saya, soal citra saya nanti ketika sudah membintangi film horor. Saya kan selama ini ketika show di atas panggung tampil seperti Dewi dari  kayangan, konsepnya begitu.

Selalu indah, ada bunga, artistik diperhatikan betul, dan lain-lain. Kalau film horor, nanti orang jadi takut melihat saya. Tapi, makin banyak orang memperingatkan hal  itu, makin hati saya berkata iya.

Apa yang membuat Anda kemudian mantap menerima peran Ibu?

Saya memang suka mencoba sesuatu yang baru. Saya anggap ini semacam refreshing saja. Buat saya, dunia musik adalah diri saya yang sebenarnya, sedangkan dalam dunia seni peran, kita tidak boleh menjadi diri sendiri, karena dituntut untuk berperan sebagai orang lain.

Melalui akting, justru kita harus punya kerelaan untuk melepaskan dari diri sendiri, mampir mencoba mempelajari karakter  orang lain.

Sempat menonton Pengabdi Setan versi asli yang digarap Sisworo Gautama dan dirilis pada 1980 silam?

Nonton. Nah, justru waktu saya nonton itu makanya sempat ragu, apakah filmnya nanti akan seperti begini. Tetapi, setelah saya bertemu dengan Bang Joko (Joko Anwar) dan saya pelajari film-filmnya terdahulu serta latar belakangnya, saya jadi yakin.

Benar saja, saat casting dan shooting, Bang Joko bisa menggelar suasana, semua pemain -baik yang kecil atau average dan  senior, bisa ditempatkan dalam mood terbaik. Energi dan vibrasinya sangat positif untuk semua tim.

Menonton Pengabdi Setan yang sekarang, apakah Anda puas?

Puas sekali. Saya enggak nyangka bisa melihat penonton puas juga saat premier. Ini adalah satu karya yang indah.

Setelah menontonnya, apa yang Anda rasakan terhadap genre horor?

Ternyata drama horor bisa menjadi sebuah renungan karena dititipkan banyak pesan. Kalau kamu punya keinginan, mintalah pada Tuhan, jangan mengabdi pada setan (tertawa).

Jadi ketagihan main di film horor, dong?

Saya melakukan sesuatu berdasarkan kesadaran. Kalau ada tawaran main film, saya selalu renungkan. Untuk film ini, saya memang merasa berjodoh.

Karena ketika saya diminta casting dan  dinyatakan lulus, lalu saya melihat jadwal perform di musik, kebetulan pas. Jadwal musik saya kebetulan sedang kosong, tepat di waktu-waktu saya diminta shooting.

Setelah banyak ”menghantui” penonton, pernah memperhatikan reaksi orang ketika bertemu dan melihat Anda secara langsung?

Lumayan (sering). Tetapi, tentu saja, saya tidak ingin membuat situasi seramnya berlanjut. Jadi, saya meyakinkan mereka bahwa itu film.

Tetapi buat saya itu lucu banget. Ketika orang ketemu saya, mereka katanya ada perasaan takut tapi ingin mendekati.

Kayak orang jatuh cinta pertama kali kan gitu, takut tapi mau ketemu (tertawa).

Pernah juga ada naskah film yang disodorkan kepada saya, sutradaranya juga bagus, dan tiap dipanggil casting saya selalu datang. Tetapi begitu perannya dapat dan saya lihat schedule, ternyata tidak bisa. Jadi, untuk film ini, Tuhan seperti mengirimkan isyarat, sehingga saya bisa mengambil peran ini.

Keberhasilan Pengabdi Setan digadang-gadang menjadi momentum kebangkitan genre horor di dunia perfilman Indonesia. Bagaimana Anda memaknainya?

Saya menyambut baik, karena artinya itu sebuah gambaran peristiwa bahwa orang Indonesia mau menerima produk Indonesia. Itu juga perwujudan sikap rasa memiliki terhadap apa yang telah  dibuat oleh putra putri Indonesia.

Mudah-mudahan, bisa diikuti oleh film lain. Apalagi, film adalah media yang paling tepat untuk menceritakan sesuatu. Apakah itu tentang keberagaman, konflik, adat istiadat, dan sebagainya.

Ada harapan pribadi, barangkali?

Ada. Saya berharap, kesuksesan Pengabdi Setan ini bisa semakin meningkatkan minat orang untuk menonton.

Bioskop juga bertambah. Saya berharap semoga ada bioskop juga di kota  kelahiran saya.

Saya berasal dari daerah kecil di Bali, Singaraja, yang tidak punya bioskop. Keluarga dan teman-teman saya di sana kalau mau nonton Pengabdi Setan di bioskop, harus menempuh jarak 85  kilometer ke Bali selatan. Padahal, lewat film, ada banyak sekali hal yang bisa disampaikan kepada masyarakat, terutama sesuatu yang sifatnya mengedukasi, tidak melulu komersial.

Sehari-hari, apakah Anda suka menonton film horor?

Mungkin Anda tidak percaya, tetapi saya termasuk orang yang jarang sekali menonton film. Saya bisa bilang, referensi saya soal film sangat minim. Bahkan, boleh dikatakan bahwa saya nonton hanya ketika saya main di film itu.

Sisanya, hanya sekilas lewat televisi dan internet. Makanya, di awal saya juga ragu ketika menerima peran Ibu. Dengan kesuksesan film ini dan banyaknya orang yang  mengapresiasi, mungkin saya akan jadi lebih banyak mengapresiasi film.

Percaya hal mistis?

Ya, meskipun banyak hal yang katanya mistis yang bisa dijelaskan secara medis. Misalnya, saya pernah mengalami ”ketindihan” tujuh hari berturut-turut.

Waktu itu, saya sudah pulang ke Bali. Itu kira-kira satu minggu sebelum shooting. Saat tidur, tubuh saya tidak bisa bergerak.

Saya seperti tidak berdaya, sulit bernapas, berteriak-teriak tapi tidak bisa keluar suara. Itu setiap malam, selama satu minggu. Ya seperti Ibu Mawarni itu. Mungkin, karena karakter itu sedang saya pelajari dan dalami, lalu tertanam di bawah sadar. Akhirnya, terstimulasi menjadi mimpi. Bahkan, saya sampai minta orang lain untuk memonitor saya ketika tidur, bila perlu pakai CCTV (tertawa).

Apakah itu memengaruhi Anda saat shooting?

Saat shooting, Bunda Elly (Elly Luthan, pemeran Nenek) tidak mengizinkan saya tidur sendiri. Pokoknya, katanya, harus berdua. Akan tetapi, karena kami berdua tidak pernah bertemu scene-nya, takutnya malah saling mengganggu waktu istirahat. Makanya ketika mau tidur, doa saya jadi lebih panjang (tertawa).

Setelah shooting, masih merasa ”dihantui” sosok Ibu?

Aman, sih. Selayaknya orang Bali, ada tradisi yang dilakukan. Misalnya, melukat, yang artinya membersihkan diri. Dilakukan supaya tidak terus-terusan teringat dengan karakter Ibu Mawarni yang terlalu berkharisma, saking menakutkannya. Soalnya, setiap menutup mata, yang terbayang adalah beliau (sosok Ibu).

Sampai sekarang?

Ya, sampai sekarang itu masih (terbayang). Tetapi, saya anggap itu sebagai hiburan. Malah, kadang saya ajak bercakap. ”Ibu, udah deh, ini filmnya udah lama mainnya” (tertawa).

Mungkin karena saya perlakukan peran itu sebagai sosok yang ada di dalam pikiran saya, yang karakternya diciptakan oleh Joko Anwar. Nah, ini tanggung jawab terbesarnya pada Joko Anwar, karena telah merekam jejak ingatan di pikiran orang lain.***

Baca Juga

Bernostalgia Lewat Sinema, Kenapa Era 1980-an?

SEPERTI juga membuka-buka album foto lama atau pulang ke kampung halaman, film dapat menjadi sarana untuk bernostalgia. Melalui sinema, indra penglihatan dan pendengaran menjadi pintu masuk menuju kenangan manis di masa lalu.

Keluarga Tak Kasat Mata Tayang Kamis Ini

BANDUNG, (PR).- Diadaptasi dari cerita yang beredar di Kaskus, film Keluarga Tak Kasat Mata mulai tayang besok, Kamis 23 November 2017.