Bernostalgia Lewat Sinema, Kenapa Era 1980-an?

Stranger Things Season 2/NETFLIX

SEPERTI juga membuka-buka album foto lama atau pulang ke kampung halaman, film dapat menjadi sarana untuk bernostalgia. Melalui sinema, indra penglihatan dan pendengaran menjadi pintu masuk menuju kenangan manis di masa lalu.

Seringnya, kenangan tersimpan di alam benda alih-alih di alam pikiran yang rapuh. Lantas pada suatu waktu, saat kita–sengaja atau tidak—kembali menemukan benda yang menjadi lemari peyimpanan itu, memori indah dari masa lalu muncul begitu saja.

Selalu ada kegembiraan saat kita menemukan permen dari masa kecil dulu, mendengar lagu dari masa remaja, atau mendatangi taman yang biasa dikunjungi saat masih kanak-kanak.

Maka, film yang baik dalam menghadirkan nostalgia adalah film yang seperti membawa penontonnya menjelajahi pasar loak, alih-alih meyajikan alam mimpi tentang masa silam.

Di pasar loak, kita bisa menemukan beraneka benda yang me­nyimpan kenangan kolektif banyak orang. Dengan kata lain, benda tersebut menjadi common sense. Sementara itu, ­nostalgia yang bersifat personal, baik untuk produsen maupun konsumen film, punya kecenderungan gagal menyampaikan kesannya.

Contoh kasus terbaru suksesnya elemen nostalgia dihadirkan dalam gambar hidup adalah serial Stranger Things yang tayang secara streaming dan film Pengabdi Setan di tanah air.

Berlatar waktu tahun 1980-an, Stranger Things mengha­dirkan sejumlah unsur budaya pop dan jiwa zaman periode itu dalam hal-hal remeh. Namun, justru punya kedekatan emosional dengan penonton.

Sepeda, mesin permainan dingdong, The Clash, poster film Evil Dead dan Jaws, theme song Ghostbusters, serta permainan Dungeons and Dragons hanya sebagian kecil dari elemen khas tahun 1980-an yang muncul di layar.

Serupa dengan hal itu, dalam Pengabdi Setan, atmosfer 1980-an dikemas dalam sejumlah unsur renik tetapi punya pe­nekanan khusus. Gaya busana Tara Basro, ­view-master viewer (mainan mirip kamera berwarna merah), majalah, dan koper tas sekolah menyegarkan kembali ingatan akan nuansa masa lalu.

Bahkan, adegan memasak telur dadar yang digarap secara detail dalam Pengabdi Setan bisa menjadi sangat meyentuh ­bagi siapa pun yang tahu bagaimana istimewanya lauk tersebut saat kanak-kanak pada era 1980-an. Semuanya membuat kita ter­senyum simpul.

Nostalgia tak harus menjadi tema utama, tetapi filmnya tetap harus punya semangat menghormati masa lalu. Desain artistik, riset, dan detail menjadi kunci penting untuk membuat sinema sebagai medium nostalgia. Film dengan sentuhan elemen nostalgia, sekecil apa pun, akan meninggalkan kesan di benak penonton. Layak diacungi jempol, tim artistik Pengabdi Setan tampak benar-benar serius menggarap detail dan riset.

Ada apa dengan era 1980-an?

Dalam beberapa tahun belakangan ini, di industri film, ada kecenderungan mengunjungi kembali segala yang tren di era 1980-an.

Hollywood beramai-ramai memproduksi ulang wara­laba sukses di era tersebut. Tahun 1980-an, ada masa keemasan sekuel seperti Star Trek dan Star Wars yang kini dirayakan lagi. Salah satu film legendaris dari era itu, Scarface bahkan dibuat ulang dan memnacing banyak penolakan dari para penggemarnya.

Sorcha Ni Fhlainn, pakar sinema kontemporer dari Manches­ter Metropolitan University menyatakan, kecenderungan itu bukan tanpa alasan. 

Dia menyatakan, dekade 1980-an adalah detik-detik menjelang ajal segala sentuhan analog yang kemudian tewas diterkam revolusi teknologi. Itulah kenapa banyak pembuat film hari ini kembali mengunjungi dekade itu hanya untuk mencuplik sentuhan ajaib sinema yang hilang di era digital sekarang.

Kenapa era 1980-an tidak pernah lekang dimakan waktu? Pengamat budaya pop Amerika Serikat Caseen Gaines menyatakan, hal itu berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “dampak” film-film yang tayang selama era 1980-an.

Pada masa itu, budaya pop lebih liar dan tak teratur seperti sekarang. Dengan kata lain, seni pertunjukan dan film pada yang sangat populer pada masa itu bisa berisiko dan aneh pada saat yang bersamaan. Semangat imajinasi yang liar dan aneh itulah yang coba dibangkitkan lagi saat ini ketika semuanya terkesasn serba teratur. 

Jika harus menyebut beberapa contoh, sebut saja film Back to the Future, The Goonies, Ferris Bueller's Day Off, Pee-wee's Big Adventure, dan Brazil.

Bahkan jika merujuk pada film Back to the Future, kita sejatinya saat ini hidup di dunia masa depan yang imut, menurut perkiraan kala itu. 

Pendapat itu dikuatkan kritikus musik dan jurnalis film Amerika Serikat Simon Reynolds. ”Era 1980-an, bagi kita sekarang ini, merupakan rangkaian budaya retro yang abadi. Ada banyak materi, mode, dan hal-hal mikro yang dapat dinikmati orang,” ujar penulis  buku ”Retromania: Pop Culture’s Addiction to Its Own Past” itu .

”Meskipun nostalgia era lain telah terjadi sebelumnya, durasi nostalgia tahun 80-an rasanya belum pernah terjadi sebelumnya. Kebangkitan tahun 1980-an telah berlangsung lebih lama dari era 1980-an itu sendiri," katanya lagi.

Sangat mungkin, dalam tahun-tahun ke depan akan lebih banyak film bertema masa lalu yang punya daya magis kuat terkait nostalgia, termasuk di Indonesia.

Pentingnya nostalgia

Momen-momen khusus seperti liburan dan hari besar bisa me­ninggalkan jejak nostalgia yang kuat dalam benak. 

Rata-rata orang punya kenangan manis tentang liburan di masa kecil dan hal itu bisa menjadi senjata ampuh untuk menghadirkan elemen nostalgia dalam film.

Di sisi lain, otak manusia akan lebih mudah mengingat masa-masa sulit di waktu lampau daripada masa-masa bahagia. Bukti­nya, kita tak bisa ingat bagaimana nikmatnya kehidupan di alam rahim, tetapi umumnya kita ingat bagaimana pahitnya perju­angan di masa sulit, baik di awal karier maupun masa sekolah dulu.

Tak pernah ada konsensus yang benar-benar bisa menjabarkan apa itu nostalgia. Namun, secara medis, diketahui bahwa istilah ”nostalgia” pertama kali dicetuskan seorang pelajar di bidang medis, Johanne Hofer, dalam disertasinya tahun 1688.

Nostalgia dia deskripsikan sebagai rasa cemas yang dialami para tentara bayaran Swiss yang bertempur di dataran rendah Ita­lia dan Prancis. Lokasi pertempuran itu berada jauh dari tempat asal mereka di kawasan pegunungan. 

Dokter militer kala itu percaya, kecemasan tersebut hanya dirasakan para tentara bayaran Swiss dan disebabkan dentingan lonceng di leher sapi yang biasa mereka dengar di tempat tinggal asalnya.

Bernostalgia juga bisa meningkatkan kesehatan psikologis. Hal itu dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mental positif lainnya. Nostalgia juga bisa melahirkan perasaan terlindungi, dicintai orang lain, dan menghilangkan kesepian.***

Baca Juga

Sinopsis Aruna & Lidahnya, Kisah Cinta dan Persahabatan

BAGI Aruna (Dian Sastrowardoyo) dan Bono (Nicholas Saputra), masak dan makan adalah dua hal yang menyenangkan. Profesi Bono sebagai chef membuat dia harus terus berurusan dengan makanan. Sementara itu, Aruna adalah penikmat kuliner.

8 Ide Desain Rumah Vintage yang Selalu Melekat di Hati 

ANDA pasti sudah tidak asing lagi dengan kata vintage. Namun, kata vintage sebenarnya berasal dari bahasa latin yakni “vinum” yang merupakan salah satu minuman olahan fermentasi anggur pada masa lampau.