Kentalnya Kebhinekaan di Pameran Besar Seni Rupa #5

Pameran Besar Seni Rupa/MUHAMMAD IRFAN/PR

Pameran Besar Seni Rupa (PSBR) menjadi hajat besar bagi para perupa Indonesia setidaknya dalam lima tahun terakhir. Sebagaimana namanya, pameran ini menghadirkan banyak karya dari banyak seniman yang mewakili 33 provinsi di Indonesia. Dengan kekayaan budaya yang ada tak heran kalau ragam karakter muncul dalam pameran yang kali ini digelar di Taman Budaya Provinsi Maluku, Ambon, Maluku itu.

Digelar sejak 12 sampai 16 September 2017, PBSR #5 menghadirkan berbagai mata seni seperti seni lukis, kriya, patung, fotografi, mural, hingga instalasi. Temanya pun beragam. Meski begitu, tema tentang persatuan dan keberagaman menjadi tema paling dominan dalam PBSR kali ini.

Kuatnya tema persatuan sudah terasa ketika memasuki area pameran. Ada dua mural besar berukuran 220x720 menyambut pengunjung di kiri kanan pintu masuk lapangan basket dalam ruang yang disulap menjadi galeri. Mural itu satu berupa Garuda Pancasila berbentuk bahtera sementa satu lagi Garuda Pancasila yang tengah dikelilingi anak-anak sambil mengangkat bendera Merah Putih kecil.

Meskipun tema kebhinekaan cukup dominan tetapi bukan berarti melupakan ciri khas lokal. Karena tepat di depan pintu masuk galeri, ada sebuah perahu kayu yang seolah melambangkan mata pencaharian penduduk lokal Ambon, yakni pelaut. Ada pula instalasi yang membentuk gerbang jaring dari logam lengkap dengan ikan yang melambangkan kekayaan alam di timur Indonesia itu. Instalasi ini adalah buah karya seniman Yogyakarta yang juga kurator PBSR #5, Timbul Raharjo.

Memasuki ruang pameran, karya yang ditampilkan lebih gila lagi. Memang mayoritas masih berupa lukisan, tetapi teknik dan karakteristik budaya dari masing-masing seniman sangat kuat.

Karya lukis "Ngariung Digawe" oleh seniman perwakilan Jawa Barat, Bob Sutopo misalnya menggambarkan kesukaan masyarakat di Jawa Barat dalam bergotong royong dan saling membantu dalam memecahkan masalah. Ciri khas Jawa Barat juga ditampilkan lewat batik, wayang golek, dan letak geografis tanah Pasundan yang dikelilingi gunung dengan simbol-simbol seperti tokoh Paksi Naga Liman, Ki Semar, dan Naga.

Seniman Jawa Barat lainnya, Supriyono tampil lebih pop dengan mengusung karya lukis bertajuk "Big Size". Bergambar pesawat besar dengan warna kuning yang diikuti oleh pesawat kecil berwarna hitam, Supriyono seolah ingin menggambarkan budaya baru yang diikuti oleh oleh manusia sebagai si pesawat hitam.

Beberapa karya lain juga tidak kalah dalam mengusung karakter kedaerahan. Dari Aceh, seniman Idrus bin Harun misalnya menggambarkan sebuah mimpi dari perspektif anak muda Aceh yang besar di masa Daerah Operasi Militer atau karya instalasi milik Ki Mujar dari Yogyakarta berupa sejumlah wayang kulit berbentuk tempat ibadah dan orang yang terbuat dari logam dengan Garuda Pancasila di tengahnya.

Dalam PBSR kali ini total karya yang ditampilkan berjumlah 100 karya dari 66 perupa yang mewakili 33 provinsi di Indonesia. Mereka didapat dari hasil seleksi open call, 14 perupa undangan, 19 perupa Maluku, dan 12 seniman mural serta instalasi.

Adapun tema yang diusung adalah "Huele". Berasal dari bahasa suku Naulu di Maluku, Huele berarti seruan bernada gembira. Seolah menjadi ajakan untuk bergotong royong dan menyuarakan kabar baik dari tanah Maluku atas terjadinya peristiwa seni berskala nasional kepada masyarakat luas.***

Baca Juga

Folk on Friday, Panggung Folk untuk Semua

BEBERAPA tahun belakangan, musik folk mulai menjadi hype di kalangan anak muda perkotaan. Musik rakyat ini dimainkan di mana saja. Dari kedai kopi hingga taman kota atau jauh ke gunung dan pantai.

Melacak Jejak Maestro Basoeki Abdullah

NAMA Basoeki Abdullah agaknya pantas kalau disebut sebagai seniman dalam paket lengkap. Tidak banyak yang seperti dia, mungkin sampai saat ini.