Berniat Vaksinasi Kanker Serviks? Ketahui Dulu 6 Hal Berikut

Ilustrasi/ADE BAYU INDRA/PR
PASIEN berkonsultasi dengan bidan saat akan mengikuti kegiatan Pemeriksaan Kanker Serviks Serentak melalui Ivatest di Klinik Pratama Medika Antapani, Jalan Purwakarta, Kota Bandung, beberapa waktu silam.*

SEBULAN terakhir ini, penyakit kanker serviks kembali ramai dibicarakan. Meskipun telah ada sejak lama, masya­rakat seolah kembali diingatkan mengenai bahaya kanker serviks yang bisa merenggut nyawa, seperti yang terjadi pada selebriti tanah air Julia Perez. Padahal, kanker serviks bisa dicegah sedini mungkin.

Salah satu pencegahan yang efektif dilakukan adalah dengan pemberian vaksin kanker serviks. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Lula Adilia mengatakan, kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang disebabkan oleh virus. Dengan begitu, tak seperti jenis kanker lain yang akar penyebabnya sulit dideteksi, penularan kanker serviks bisa diketahui bahkan bisa dicegah.

”Kanker serviks sebagian besar disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui hubungan seksual, yaitu human papillomavirus (HPV). Vaksin kanker serviks merupakan salah satu upaya untuk mencegah penularan virus tersebut,” tuturnya ketika ditemui di sela-sela praktik di Rumah Sakit Melinda 2, Jalan Dr Cipto Nomor 1 Bandung, Senin 10 Juli 2017.

Infeksi HPV pada perempuan bisa menyebabkan pertumbuhan sel pada serviks yang abnormal. Pada sebagian orang, gangguan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi kanker serviks.

Namun, Lula menyebutkan, masih banyak orang yang belum mengetahui dan bersedia untuk mendapatkan vaksin tersebut. ”Meskipun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah orang yang datang kepada saya untuk mendapatkan vaksin kanker serviks lebih meningkat,” tuturnya.

Di samping itu, Lula menyatakan, masih ada pro-kontra yang dirasakan sebagian orang mengenai pemberian vaksin ini. Berikut lima fakta yang disebutkan Lula mengenai vaksin kanker serviks:

Bisa diberikan kepada anak berusia belasan tahun

Ada anggapan yang beredar di masyarakat mengenai waktu terbaik pemberian vaksin kanker serviks. Sebagian berpendapat, anak-anak berusia belasan tahun tidak perlu mendapatkan vaksin ini karena toh belum merupakan usia aktif berhubungan seksual. Sejumlah pendapat juga mempertanyakan mengapa vaksin ini tidak diberikan hanya ke perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual saja.

”Sebenarnya, remaja berusia 11 tahun sudah bisa diberikan vaksin ini. Justru ketika belum terpapar hubungan seksual, pencegahannya bisa lebih optimal. Kalau sudah pernah berhubungan, bisa saja infeksi sudah masuk lebih dulu,” tutur Lula.

Dia menambahkan, di kalangan perempuan yang sudah berhubungan seksual, potensi terjangkit virus HPV justru lebih besar.

Lula menyebutkan, di beberapa negara, pemerintahnya sudah merekomendasikan vaksinasi HPV kepada anak-anak berusia belasan tahun. Amerika Serikat merekomendasikan kepada anak praremaja berusia 11-12 tahun. Inggris merekomendasikannya kepada anak perempuan usia 12-13 tahun. Mayoritas negara Eropa Barat merekomendasikan pemberian vaksin kepada anak usia 12 tahun.

”Banyak juga kok remaja usia SMP dan SMA yang datang kepada saya untuk divaksin. Mereka diantar oleh ibu mereka yang sudah tahu mengenai bahaya kanker serviks,” tuturnya.

Ada pun batas pemberian vaksin ini adalah hingga seorang perempuan berusia 55 tahun.

Tidak menyebabkan efek samping berupa menopause dini

Saat pemerintah DKI Jakarta menggalakkan program imunisasi HPV untuk pelajar SD tahun lalu, banyak juga kontroversi yang merebak di media sosial. Salah satunya, muncul pendapat yang menyebutkan bahwa pemberian vaksin ini bisa menyebabkan primary ovarian failure atau menopause dini.

”Itu tidak ada hubungannya. Kalau menopause kan berhubungan sama hormon, siklus haid, bagaimana seorang mendapatkan haid pertamanya, dan sebagainya. Kalau vaksin ini sama sekali tidak mempengaruhi hormon,” ucap Lula.

Meskipun ada efek samping yang dilaporkan, hanya berupa keluhan sementara dan tergolong ringan. Beberapa efek yang sering dikeluhkan seperti bengkak, nyeri, dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan, serta sakit kepala. Efek samping yang sama terjadi ketika melakukan imunisasi dasar.

Sebelum vaksin kanker serviks, paps smear dulu!

Efektivitas vaksin ini sangat baik jika diberikan pada perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Lalu, bagaimana dengan perempuan yang sudah menikah atau telah berhubungan seksual?

”Vaksin HPV masih bisa diberikan pada wanita yang telah berhubungan seksual, tapi harus diawali dengan pemeriksaan pap smear. Gunanya untuk mendeteksi adanya masalah pada serviks yang disebabkan oleh HPV,” ucap Lula.

Jika serviksnya bagus, vaksin HPV bisa diberikan. Namun, jika ada gangguan pada serviks, pasien harus mendapatkan pengobatan terlebih dahulu untuk mengatasi gangguan tersebut.

Diulang tiga kali

Untuk perempuan, pemberian vaksin kanker serviks direkomendasikan sebanyak tiga dosis dalam tiga kali pemakaian. Vaksin kedua diberikan dua bulan setelah vaksin pertama. Lalu, vaksin ketiga diberikan enam bulan setelah vaksin pertama.

”Ketiga dosis vaksin tersebut diyakini sebagai perlindungan jangka panjang dari infeksi HPV,” ucap Lula.

Jika saat remaja dosis vaksin belum lengkap, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter untuk melengkapi dosis vaksin.

Hingga kini, efektivitas waktu ”kedaluwarsa” virus HPV di dalam tubuh masih diteliti lebih lanjut. ”Namun secara umum, daya tahannya mencapai sepuluh tahun ke depan. Tapi, ada juga penelitian yang menyatakan bahwa jika sudah tiga kali vaksin, tidak perlu diulang lagi seumur hidup. Ini terus dilakukan penelitian karena penemuan baru akan selalu ada,” tuturnya.

Persoalan biaya

Pengadaan vaksin untuk mencegah kanker serviks masih diimpor dari luar negeri. Dengan tiga kali pemberian vaksin, sudah pasti harganya relatif tak murah.

”Untuk harga memang relatif, tapi dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan ketika sudah terkena kanker serviks, ini relatif lebih baik,” katanya.

Apalagi, kebanyakan kanker serviks dideteksi terlambat. Akan menjadi langkah yang bijak jika kita berinvestasi di tindakan pencegahan.

Mencegah penyebaran kanker serviks 100 persen?

Lula menambahkan, ada dua jenis vaksin kanker serviks yang beredar. Vaksin yang mengandung dua strain virus, dan empat strain virus. Yang paling banyak digunakan di tanah air adalah yang mengandung empat strain virus.

”Sebenarnya, ada puluhan strain virus yang bisa menyebabkan kanker serviks. Tapi berdasarkan penelitian, 70 persen penyebabnya adalah empat strain virus dalam vaksin tadi,” tutur Lula.

Dengan begitu, seseorang yang telah mendapatkan vaksin HPV tidak serta merta akan bebas 100% dari kanker serviks. ”Karena kan masih ada puluhan strain virus lain yang mungkin bisa menginfeksi,” tuturnya.

Untuk mencegah kanker serviks, pencegahan yang juga bisa dilakukan adalah dengan berhubungan intim yang sehat, tidak berganti-ganti pasangan, dan menjaga pola hidup sehat. Lula menyebutkan, merokok dan perokok pasif juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.***

Baca Juga

Besok, Pemenang FFB 2017 Diumumkan

PEMENANG FFB (Festival Film Bandung) 2017 akan diumumkan Minggu 22 Oktober 2017 siang. Pengumuman pemenang akan disiarkan langsung di SCTV.

Pemenang FFB dari Masa ke Masa

FFB (Festival Film Bandung) merupakan satu-satunya festival film di Indonesia yang melakukan pengamatan dan mengumumkan pemenang dengan predikat "Terpuji" tanpa henti sejak 1988.

8 Cara Menurunkan Risiko Kanker Payudara

KANKER payudara bagi perempuan merupakan suatu masalah yang harus diperhatikan. Karena kanker payudara tidak mudah terdeteksi bila tidak diperiksa.

7 Makanan Terbaik untuk Mata

SESEORANG hanya memiliki sepasang mata yang telah diberikan oleh Tuhan. Maka penting merawat kesehatan mata.