Lima Kanker yang Paling Banyak Diderita di Indonesia dan Cara Mencegahnya

Julia Perez dan adiknya/INSTAGRAM
JULIA berbaring dengan bantuan alat rumah sakit, di RSCM Jakarta. Kondisinya semakin memprihatinkan sejak divonis kanker serviks stadium lanjut,

KANKER adalah sebuah kata yang memberi kesan menakutkan. Betapa tidak, begitu mendengar kata itu, yang langsung terbayang adalah sisa umur yang pendek, penderitaan panjang, tabungan terkuras habis, bahkan kematian. Nah, karena terdengar begitu menakutkan, mengapa kita tidak berusaha mencegahnya dari sekarang?

Salah satu cara pencegahan yang sering dilakukan, adalah melakukan skrining untuk mendeteksi cikal bakal kanker sejak lebih dini, selain tentunya, melakukan pola hidup sehat. Pemeriksaan deteksi dini memberikan keuntungan, karena semakin dini terdeteksi, maka makin tinggi tingkat ketahanan hidup seorang penderita, atau calon penderita kanker. Bahkan, bila dideteksi lebih dini, maka kemungkinan untuk menanggulangi kanker secara tuntas menjadi lebih besar. 

Seperti diketahui, kanker timbul dari satu sel yang berkembang biak secara tidak terkendali, dari jumlah yang sangat kecil, menjadi semakin banyak. Umumnya, begitu menimbulkan gangguan, barulah bisa dideteksi. Prosesnya cukup panjang, sehingga biasanya penderita baru mengetahui kanker yang dideritanya pada stadium lanjut. 

Data yang dilansir oleh Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2014 menyebutkan, ada lima jenis kanker yang paling banyak menyerang penduduk Indonesia. Simak juga tips mengantisipasinya dr. Heryanto, salah seorang dokter dari Sub Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Immanuel Bandung.

PERAWATAN obat ini diujikan pada 257 perempuan di Inggris.*

1. Kanker Payudara 
Memeriksa fisik payudara sendiri adalah cara terbaik untuk mendeteksi apakah ada perubahan pada payudara, seperti adanya benjolan, perubahan pada puting, atau kulit payudara. Pemeriksaan bisa dilakukan sebelum tidur, atau sebelum mandi. 

Tes menggunakan USG atau mamografi juga bisa dilakukan, untuk memperlihatkan penampakan jaringan pada payudara. Pemeriksaan klinis ini sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk perempuan berusia 20 dan 30 tahunan, dan setiap tahun untuk perempuan berusia 40 tahun ke atas. 

Pemeriksaan ini disarankan bagi perempuan yang memiliki anggota keluarga yang pernah mengidap kanker payudara atau kanker ovarium. "Jika ada riwayat keluarga yang terkena kanker payudara, segera periksakan diri Anda," ucap Heryanto. 

2. Kanker Leher Rahim
Tes awal yang perlu dilakukan adalah papsmear, setelah berusia 21 tahun. Tes ini sebaiknya dilakukan setiap tiga hingga lima tahun sekali. Adapun gejala awal yang dirasakan, kata Heryanto, adalah penampakan bercak merah atau pendarahan setelah bersetubuh. 

"Tes disarankan bagi perempuan yang memiliki keluarga beriwayat kanker, ibu-ibu yang sudah menikah, atau orang yang sering bergonta-ganti pasangan," katanya. 

3. Kanker darah (leukimia)
Gejala awal jenis kanker ini antara lain pendarahan pada gusi, lemas-lemas, atau demam yang tak kunjung sembuh. Adapun pemeriksaan awal yang dilakukan untuk mendeteksi kanker darah yaitu pemeriksaan darah lengkap. 

"Namun, pemeriksaan darah lengkap itu wajib dilakukan jika pasien merasakan demam yang tak sembuh-sembuh, atau kadar leukosit yang berada di atas 20 ribu," ujar Heryanto. 

4. Lymphoma
Gejala awal yang dirasakan pada jenis kanker ini yaitu demam yang tak kunjung sembuh, atau ada benjolan di sekitar leher, ketiak, atau selangkangan. 

Untuk mendeteksi kanker ini sejak dini, tes yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin, serta pengambilan sampel kelenjar yang membesar ke patologi anatomi. Sedangkan pemeriksaan fisik yang bisa dilakukan sendiri, adalah mendeteksi benjolan di sekitar leher, ketiak, atau selangkangan. 

5. Kanker paru
Gejala awal yang dirasakan pada jenis kanker ini adalah batuk yang tak kunjung sembuh, penurunan berat badan secara drastis, atau mengalami batuk darah. Penyebab utamanya adalah kebiasaan merokok. 

Tes yang diperlukan untuk mendeteksi kanker paru adalah rontgen atau CT scan paru dosis rendah (LDCT) di bagian dada. CT Scan di bagian dada memberikan gambaran yang lebih detail daripada rontgen (x-ray).***

You voted 'tidak peduli'.

Baca Juga

Julia Perez dan Gaston Sudah Saling Memaafkan

JAKARTA, (PR).- Kondisi Julia Perez semakin memperhatikan. Sebelumnya keluarga Julia Perez selalu menutupi  kondisi kesehatannya. Bahkan setiap bertemu awak media, mereka selalu berkata bahwa  Jupe sehat.