Film Kartini, Antara Perjuangan dan Pengorbanan

Cuplikan film Kartini/LEGACY PICTURES

FILM besutan sutradara Hanung Bramantyo ini direncanakan tayang di seluruh bioskop di Indonesia pada 19 April 2017 ­nanti. Dua hari sebelum ulang tahun Kartini atau yang biasa diperingati sebagai "Hari Kartini". Melalui film ini, Hanung mencoba meng­ajak publik semakin mengenal sosok putri Indonesia yang harum namanya ini.

Alur yang ditampilkan dalam film ini bergerak maju mundur. Layar dibuka ketika Kartini (Dian Sastrowardoyo) hendak dijo­dohkan dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (Dwi Sasono). Dari situ, cerita dilempar ke masa kecil Kartini sebagai putri dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo).

Sejak kecil Kartini memang dikenal sebagai pemberontak. Dia tak segan melawan kakak-kakaknya ketika hendak dipisah ­kamar dari ibu kandungnya, MA Ngasirah dan menolak dipanggil ndoro ayu oleh sang ibu. Sosok Ngasirah ini diperankan oleh Nova Eliza ketika Kartini masih kecil dan diganti oleh Christine Hakim ke­tika Kartini dewasa.

Sebagai istri pertama tetapi bukan yang utama, Ngasirah ­me­mang tidak bisa tinggal bersama Kartini yang harus tinggal di pendopo ketika beranjak menjadi seorang putri. Pasalnya, atur­an saat itu mengharuskan seorang Raden Ajeng tinggal di pendo­po bersama Raden Ayu. Sementara itu, Ngasirah bukan bangsa­wan tulen dan hanya berstatus selir. Alasan ini pula yang membu­at Adipati Ario Sosroningrat menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan.

Jerat adat yang membelunggu perempuan memang menjadi benang merah utama dari film ini. Setelah harus ”dipisahkan” dengan sang ibu ketika menjadi Raden Ajeng, Kartini juga harus merasakan pengalaman tak mengenakkan ketika ia memasuki masa pingitan. Masa-masa ketika seorang perempuan harus be­la­jar menjadi seorang ”perempuan seutuhnya” sambil menunggu bangsawan lain datang untuk meminang.

Kartini nyatanya tak bisa melewati masa-masa ini. Dia ­seperti seekor burung cantik yang harus berdiam diri di dalam sangkar emas pendopo. Secercah harapan muncul ketika sang kakak, Sosrokartono (Reza Rahadian) menawarkan kunci untuk ­keluar dari pingitan. Dari sini proses pencarian wawasan Kartini pun dimulai.

Lebih kekinian

Film "Kartini" memang menampilkan sisi lain Kartini yang di­kemas dengan lebih kekinian. Dalam film ini mungkin kita tak akan menemukan Kartini pendiam seperti pada foto-foto yang se­ring kita lihat sejak sekolah dasar. Kartini di sini justru lebih terkesan tengil, kenes, dan tak jarang usil dalam arti yang baik. Akan tetapi, karakteristik ini semakin menguatkan perlawanan Kartini pada kakunya sikap bangsawan Jawa kala itu.

Dia juga tak sendiri karena pemikiran yang ia pegang akhirnya menginspirasi juga kepada dua adiknya, Roekmini (Acha Septri­asa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha). Mereka menjadi semacam tiga serangkai yang mencoba memberi pemikiran baru untuk mendobrak nilai adat yang saat itu dianggap mendiskriminasi hak kaum perempuan. Dalam sejarah, trio Kartini, Roekmini, dan Kardinah dikenal dengan julukan "Tiga Serangkai".

Namun, bukan berarti film ini hanya menyajikan ­serangkaian tawa dan kesuksesan Kartini mengembangkan buah pikirannya lewat tulisannya di majalah Belanda, De Hollandsche Leile dan berkorespondensi dengan beberapa temannya di negeri kincir angin itu. Karena penolakan atas nilai-nilai baru yang dibawa Kartini lebih besar dari buah perjuangannya.

Cibiran datang bukan hanya dari kalangan bangsawan di ­luar Pendopo Jepara, tetapi juga dari dalam pendopo. Sang ibu, Raden Ajeng Woeryan (Djenar Maesa Ayu), dua kakaknya (salah satu­nya diperankan oleh Denny Sumargo), justru menjadi pihak yang paling keras menentang gerakan Kartini. Beruntung, ayahnya, RM Adipati Ario Sosroningrat masih bisa berkompromi dengan keinginan Kartini.

Dengan adanya berbagai penolakan ini, Kartini memang la­yaknya seorang perempuan yang dipenjara di rumahnya sendiri yang dihukum dengan pengebirian kecerdasan, juga kepercayaan dirinya. Namun, dengan segala rintangan ini, Kartini merupakan sosok yang pantang menyebut kata menyerah.

Dalam konferensi pers di Jakarta, sutradara Hanung Braman­tyo menuturkan, banyak referensi yang ia lahap untuk mengha­dirkan karakter Kartini ini. Selain buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan Kartini, Sebuah Biografi karya Siti Soemandari, buku Pramoedya Ananta Toer Panggil Aku Kartini Saja juga jadi inspirasi Hanung. Tak heran, dari sisi akurasi, film ini cukup akurat memaparkan kisah Kartini yang selama ini tak banyak diketahui khalayak.

"Ini saatnya kita membuat film biopik karena banyak sekali data yang dulu tidak boleh beredar, sekarang bisa beredar. Film ’Kartini’ ini sebagai potongan film biopik modern dengan tafsir yang sangat kekinian," kata Hanung.

Selain perjuangan, kepasrahan dan pengorbanan juga jadi hal yang identik dalam setiap karakter di film ini. Bagaimana kita ha­rus menghadapi kondisi ketika tak ada lagi pilihan dan harus memikirkan kepentingan orang banyak. Seperti pesan ­Ngasirah untuk Kartini, "Sing kuat, Ni!"***

Baca Juga

Gunakan Tips Ini Membantu Anak Puasa dengan Mudah

Tidak terasa besok umat muslim akan bertemu bulan Ramadhan. Siapkah Anda menjalani ibadah puasa satu bulan penuh lamanya? Dalam islam, puasa memang hanya diwajibkan untuk seseorang yang sudah akil balig.

HomePod, Speaker Pintar dari Apple

BANDUNG, (PR).- Apple resmi meluncurkan HomePod, sebuah speaker "pintar" pada Senin, 5 Juni 2017. Speaker ini akan menjadi pesaing bagi Amazon Echo dan Google Home.

Gaston Castano Ikhlaskan Kepergian Julia Perez

BANDUNG, (PR).- Pesepakbola Gaston Castano tidak dapat membendung kesedihannya ketika mendengar kabar meninggalnya artis dan juga pedangdut Julia Perez. Gaston yang diketahui merupakan mantan kekasih Julia Perez tersebut mengikhlaskan kepergian Jupe untuk selama-lamanya.