AL - HAJ

H. Patria Hidayat
Semangkuk Bakso Kuah di Padang Arafah

H. Patria HidayatTENTU masih melekat dalam ingatan peristiwa menggemparkan yang sempat melanda jemaah haji Indonesia pada pelaksanaan haji tahun 2006 (1427 H), yaitu "kelaparan" di Padang Arafah. Sungguh sebuah ujian bagi jemaah haji ketika itu.

Ini termasuk yang dialami H. Patria Hidayat yang waktu itu tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 66 yang dibimbing KBIH Pusdai Jawa Barat. Meskipun sebenarnya peristiwa yang dialami bersama sejumlah jemaah lainnya dalam satu maktab itu tidak separah seperti yang diberitakan.

Dia mengaku merasakan juga kesulitan makanan di Padang Arafah. Saat itu, Patria bersama rombongan tiba di Padang Arafah tepat saat waktu Magrib.

Menurut dia, kegelisahan jemaah tentang makan malam terjadi seusai salat Isya, karena bertepatan dengan waktu pembagian jatah makanan.

Setelah menunggu cukup lama, Patria menuturkan, ternyata makan malam tidak kunjung tiba dan tidak ada informasi yang pasti dari pihak berwenang.

"Sebagian jemaah mulai bertanya-tanya tentang kepastian jatah makan, sebagian jemaah lainnya bersikap pasrah sambil terus berzikir dan memanjatkan doa," katanya bercerita.

Beruntung, jemaah yang membawa bekal makanan dari maktab, termasuk Patria. Meskipun hanya berupa beberapa potong roti dan buah pir sehingga cukup untuk mengganjal perut, bahkan sedikit berbagi dengan jemaah lainnya yang tidak membawa bekal makanan.

Akan tetapi, rupanya ada hal yang sudah menjadi "pandangan" umum bahwa kalau belum makan nasi, rasanya belum dianggap makan sungguhan. Hal ini pun dialami warga Kompleks Permata Cimahi itu, kendati sudah menyantap makanan ringan dan buah, rasanya perut masih meminta jatah nasi.

Oleh karena itu, dia mencoba mencari di luar tenda, siapa tahu ada pedagang nasi atau sejenisnya, seperti banyak ditemukan di sekitar penginapan jemaah di Mekah. Setelah berkeliling cukup lama, ternyata tidak ditemukan pedagang nasi. Yang ada justru pedagang bakso kuah.
Patria mengaku cukup kaget juga, di Padang Arafah ada penjual bakso kuah. Penjual bakso kuah tersebut adalah sepasang suami istri mukimin asal Jawa Tengah.

"Untuk mendapatkan semangkuk bakso kuah hangat yang isinya hanya terdiri atas lima butir bakso bulat kecil dari daging, ditambah irisan kol, dan air hangat seharga 5 riyal, ternyata harus antre cukup panjang. Karena banyak jemaah lainnya yang berminat membeli," ujarnya.

Sambil menyantap bakso kuah, seketika dia teringat kampung halaman. Karena bakso kuah merupakan salah satu makanan favorit sehingga agak aneh juga bisa menyantapnya di Padang Arafah.

Seusai menyantap bakso kuah, dia kembali ke dalam tenda. Jemaah satu maktab lainnya banyak yang masih khusyuk berzikir dan memanjatkan doa. Sebagian lainnya tertidur lelap karena kelelahan.

Pada dini hari, secara tiba-tiba jemaah di maktabnya dikejutkan suara gaduh di luar areal tenda. Ada pemandangan banyak jemaah haji tengah berebutan makanan dari atas satu truk, berupa nasi dalam kotak dus kecil lengkap dengan lauknya. Patria dan beberapa jemaah satu maktab pun menyaksikan adegan mengharukan itu dari kejauhan.

Setelah wukuf di Arafah, rangkaian ritual ibadah dilanjutkan untuk bermalam di Muzdalifah dan menuju Mina untuk melempar jumrah. (Agus Ibnudin/"PRLM")***

ZIARAH

Masjid Bai'ah
Tempat Sekumpulan Jin Berbai'at Kepada Rasulullah

Masjid Bai'ahMASJID Jin termasuk masjid yang mempunyai nilai sejarah. Masjid yang terletak di daerah Sulaiminiyah, di dekat Pekuburan Ma'la, ini merupakan salah satu masjid peninggalan Rasulullah, dan menjadi saksi awal perkembangan Islam.

Masjid ini berjarak sekitar 1 km dari Masjidilharam. Dalam sejarahnya, masjid ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW bertemu sekumpulan jin. Setelah Nabi Muhammad membacakan Al Quran kepada mereka, para jin ini kemudian mengimani Allah dan kerasulan Muhammad.

Bangunan masjid yang berdiri sekarang ini merupakan hasil renovasi terakhir pada tahun 1421 Hijriyah. Bangunan masjid ini termasuk salah satu bangunan yang dipelihara oleh pemerintah Arab Saudi. Masjid yang terletak di pinggir jalan dan berada di lingkungan pertokoan ini tidak terlalu besar. Lahan bangunan berluas 10 x 20 meter. Terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan oleh jamaah pria dan lantai atas dipakai oleh jamaah perempuan. Ada bangunan basement yang digunakan untuk tempat wudlu.

Bangunan masjid bercat krem ini tampak cantik dengan dinding berhias keramik warna cokelat. Masjid semakin indah dengan kusen jendela berwarna biru dan di lantainya terhampar karpet bercorak garis-garis warna abu-abu. Lampunya terang dengan bentuk lampu yang indah. AC-nya sangat sejuk. Di atap masjid bagian kubah dihias dengan tulisan kaligrafi Al Quran Surat Al Jin ayat 1-9. Dalam asbabun nuzul (sebab turun)-nya, ayat tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW terkait pertemuan Rasulullah dengan sekumpulan jin di tempat ini.

Masjid Jin disebut juga "Masjid Bai'ah", karena di tempat ini para Jin berbai'at (berjanji) kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Diriwayatkan, setelah shalat Subuh Rasulullah SAW dan para sahabat membacakan beberapa ayat Al-Quran. Pada saat itu sekumpulan Jin yang sedang dalam perjalanan ke Tihamah mendengar ayat-ayat Al-Quran yang sedang dibacakan itu, lalu mereka berdialog dengan Rasulullah. Kemudian mereka menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT.

Di tempat itulah Allah SWT menurunkan wahyu, dalam Al-Quran surat Al-Jin ayat 1-2 yang berbunyi: Telah diwahyukan kepadamu bahwa sekumpulan Jin mendengarkan ayat Al-Quran. Lalu mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan. Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, karena itu kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapapun juga".

Kini, setiap hari terutama pada musim haji, saat waktu shalat Magrib hingga Isya, masjid ini dipenuhi oleh jamaah. Jamaah haji asal Indonesia tampak mendominasi. Di dekat lingkungan masjid memang banyak pemondokan/penginapan yang dihuni jamaah haji asal Indonesia. Bahkan, biasanya setelah shalat Magrib diadakan ceramah yang khusus diterjemahkan dengan bahasa Indonesia. (HD. Sutarjan/berbagai sumber)***

 
EDISI XXXX / 12 Desember 2009
MABRUR
H. D. Sutarjan

Agen Perubahan

Oleh: H.D. Sutarjan


PROSESI ibadah haji baru saja usai. Thawaf tak pernah terlewat. Sa'i berkali-kali. Bibir pun masih basah bertalbiyah, hingga dikukuhkan saat wukuf di Arafah. Para peziarah Tuhan pun mulai berangsur kembali ke Tanah Air. Kembali ke kehidupan sehari-hari.

Prosesi ibadah haji memang telah usai. Namun, justru para peziarah Allah ini baru memulai "berhaji". Mulai bertolak menjalani "prosesi berhaji" dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita --yang telah diwisuda menyandang gelar "H" itu-- mampu menjalani kehidupan di jalur mabrur seperti yang terjadi dan dilakoni dalam prosesi haji di Tanah Suci? Jawabannya begitu tegas, semua hujajj bisa meraih mabrur! Persoalan kemudian, apakah mau dan tahu jalurnya.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Allah tidak melihat (kualitas iman) kamu sekalian dari pakaian dan atribut yang dipakai, tetapi dari (keimanan) yang ada dalam hati-hati kamu sekalian”. Artinya, ibadah haji sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas iman, ukurannya jelas, tidak dilihat dari gelar haji yang disandangnya. Tetapi, sampai sejauh mana ibadah yang telah dilaksanakan membekas dalam hati, lalu terefleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Ibadah haji sarat dengan makna simbolik. Memahami ibadah haji, tidak cukup hanya memahami makna fiqhiyyah seperti rukun, syarat, wajib dan hal-hal yang bersifat teknis. Memahami makna sufistik di balik simbol-simbol haji bukan hanya akan menambah kekhusyukan ibadah haji tetapi juga sangat menentukan mabrur tidaknya ibadah haji. Apa makna di balik pakaian ihram, miqat, thawaf, sa'i, wukuf, mabit, jumrah, dan lain-lain.

Dan perlu di pahami, bahwa ibadah haji bukan semata untuk kepentingan akhirat saja, tetapi juga bagaimana aspek-aspek sosial atau aspek-aspek kehidupan masyarakat juga diperhatikan. Selama ini, banyak umat Islam menjalankan ibadah haji hanya memandang dari sisi ritualitasnya tanpa melihat aspek-aspek filosofis dan aspek sosialnya.

Momen berhaji adalah saat sangat unik yang mampu memberikan inspirasi universal bagi kemanusiaan. Ini tercermin dari tata cara dan prosesi manasik haji. Proses ini dalam banyak hal memancarkan semburat-semburat cahaya maha-indah dari ruh ajaran rabbani yang memposisikan dan memperlakukan semua manusia secara sama dan adil. Harkat dan martabat mereka sebagai manusia adalah sama. Hak dan kewajiban mereka sebagai hamba juga sama. Selanjutnya, tujuan dan arah perjuangan hidup mereka hakikatnya juga sama, yaitu berusaha meraih kebahagiaan yang sejati abadi.

Itulah sesungguhnya yang menjadi hikmah dan tujuan utama disyariatkannya ibadah haji. Dalam bahasa Al-Quran, hikmah dan tujuan ibadah haji - yang merupakan puncak tertinggi ajaran rukun Islam – diungkapakan dengan istilah liyasyhaduu manaafi`a lahum, yaitu untuk “menyaksikan” kemanfaatan-kemanfaatan duniawi dan ukhrawi (kebahagiaan sejati) yang mahadasyat yang akan terus mengalir dan menjadi “milik” mereka yang berhasil menunaikan haji secara mabrur (QS. Al-Hajj 22:28).

Makna substantif ibadah haji itu terletak pada aktualisasi nilai-nilai simbolik ibadah yang membekaskan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa kemabruran substansial dari ibadah haji adalah ketika yang bersangkutan mampu meningkatkan kualitas amal saleh, seperti kedermawanan, kerendahan hati, keadilan, dan sifat-sifat kemanusiaannya setelah kembali dari Tanah Suci.

Sejauh mana ibadah yang telah dilaksanakan itu membekas dalam hati, lalu terefleksi dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti, ibadah haji sejatinya merupakan upacara inisiasi untuk melahirkan kembali seorang manusia dengan kualitas pribadi yang sama sekali baru. Di sinilah nuansa reformasi tampak dalam ibadah haji, terutama reformasi sikap keberagamaan.

Pada dasarnya setiap ritual simbolik dalam ibadah haji memiliki pesan (makna) tersembunyi di baliknya, yang dapat ditafsirkan secara luas dan mendalam. Sehingga dapat dipahami bahwa sebagai sebuah ritual simbolik, pelaksanaan ibadah haji pada dasarnya sekadar simbolisasi atas makna atau pesan yang ada di baliknya. Di balik itu, ada sebuah tanggung jawab besar untuk mengimplementasikan secara riil pesan atau makna yang terkandung di balik simbol-simbol ritual tersebut.

Sekadar contoh, jika ritual haji diinterpretasikan sebagai simbol solidaritas sesama muslim (dan global), maka seorang muslim yang telah menunaikannya memiliki mandat untuk mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas yang ada di balik simbol-simbol ritual haji. Seorang yang sudah berhaji semestinya menjadi agen perubahan. Mampu mengubah pribadi ke arah yang lebih baik. Menjadi agen perubahan dalam masyarakat menuju masyarakat yang madani.

Pertanyaan kemudian, mengapa jumlah haji di suatu kampung misalnya, tidak seiring dengan perubahan sosial kampung tersebut. Mengapa jumlah haji di Indonesia yang meningkat setiap tahun tidak berbanding lurus dengan terselesaikannya masalah kebangsaan: korupsi, kekerasan, pemerasan, penindasan, kemiskinan, rendahnya pendidikan, jeleknya mutu kesehatan dan ancaman disintegrasi bangsa. Apakah fenomena ini berarti bahwa para haji tidak mencapai 'pencerahan kemanusiaan', tidak berhasil mabrur untuk menjadi agen perubahan?

Peziarah Tuhan berangsur-angsur kembali ke Tanah Air. Penyempurnaan iman dan keislaman mereka telah terlaksana. Di tengah kondisi bangsa yang terus ditimpa cobaan, bencana datang bertubi, ekonomi makin terpuruk, bahkan kezaliman pun semakin merajalela. Semoga kesempurnaan iman dan keislamaan para haji ini mampu ditransformasikan dalam ranah sosial demi terwujud masyarakat madani.***

http://www.klik-galamedia.com
PR FM Radio Bandung
<< Sebelumnya A R S I P