Penghujung 2018, Indonesia Masih Saja Darurat Programmer

Bekraf Developer Conference/DOK. BEKRAF

PERTEMUAN sekitar 300 anak muda dalam Bekraf Developer Con­ference 2018 di Hotel Papandayan, Minggu 2 Desember 2018, mengerucut pada satu hal yakni Indonesia darurat programmer. Sedikitnya talenta digital yang siap pakai tentu saja membuat perusahaan ­digital dalam negeri kalang kabut.

Inggriani Liem dalam salah satu sesi konferensi itu secara blak-blakan mengaku banyak perusahaan menge­luh kepadanya. Koordinator Pembina Tim Olimpiade Komputer Indonesia itu disasar keluhan tentang sedikitnya pelamar programmer yang memenuhi syarat.

”Dari 100 pelamar, yang memenuhi syarat hanya puluhan,” ujar Inggriani Liem. Dosen informatika di Institut Teknologi Bandung sejak 1977 itu lantas menganalisisnya. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena generasi Indonesia terlalu berpikir praktis.

Mereka malas berpikir. Padahal, perilaku dan keterampilan mereka digerakkan dari hasil pikir. Kemalasan itu, dalam mempelajari keilmuan misalnya, membuat mereka tak mau mempelajari ilmu dasar yang fundamental.

Padahal, itu penting dalam penguasaan ilmu dan tahap belajar ­selanjutnya. Informatika, kata Inggriani Liem, merupakan ilmu yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan konatif.

”Kalian apakah pernah belajar Java 2 sesi kuliah? Anak-anakku (anak didik) belajar Java 2 sesi,” kata dia mencontohkan.

Sesi Inggriani Liem sebagai pembicara yang disambut student developer, indie developer, professional developer, dan top developer Indonesia itu menguak betapa Inggriani Liem menanamkan kedisiplinan kepada mahasiswanya untuk mau mempelajari hal dasar meskipun sampai seribu halaman.

Tidak sedikit professional developer dalam acara itu yang sependapat. Para programmer yang bekerja di perusahaan bisa membuat software tetapi tak banyak tahu tentang ilmu dasarnya.

Dengan kata lain, kualitas para talenta digital masih menjadi pe­kerjaan rumah dalam pengembangan industri digital Indonesia.

Kualitas programmer

Sementara dari segi kuantitas, sarjana di bidang teknologi informasi menyentuh angka sekitar 4.800 sarjana per tahun.

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari mengatakan, tidak semuanya memenuhi syarat untuk terjun ke industri digital.

”Lulus sekolah bola belum tentu jago main bola. Kita perlu programmer seperti Cristiano Ronaldo, Bambang Pamungkas. Cara menendang mungkin sudah diajarkan tapi nemu trik-trik itu (bisa terjadi) kalau dia latihan,” kata Hari Santosa Sungkari. 

Dari jumlah sarjana itu, Hari tak bisa memastikan jumlah sarjana yang memenuhi syarat. Padahal, saat ini dalam hitungan kasar Hari, Indonesia butuh sejuta programmer.

Akan tetapi, tak mungkin setahun kebutuhan itu tercapai dengan jumlah lulusan yang hanya nol koma sekian persen dari kebutuhan.

Apalagi, tidak semuanya memenuhi standar yang diingin­kan, dan tak semua lulusan informatika berminat menjadi programmer.

”Saya tidak percaya bisa setahun (tercapai). Yang terkumpul se­karang ini saja (yang terjaring ­dengan kualifikasi bagus) paling 300 orang,” katanya.

Co-founder perusahaan software Nusantara Beta Studio, Sidiq Permana, memetakan potensi anak bangsa yang terbilang besar dalam industri digital.

Hanya, perlu dilakukan penajaman terhadap potensi mereka agar mereka siap pakai di industri digital. Jika potensi mereka tak juga dibentuk, seterusnya Indonesia akan darurat programmer.

Nahasnya, untuk membentuk dan menajamkan potensi anak bangsa, mereka berhadapan dengan dominasi pemain asing da­lam industri digital.

”Selama kekuatan ekonomi industri kreatif didominasi asing khususnya India dan Tiongkok, kita masih darurat. Kita banyak potensinya tetapi siapa yang mempertajam me­reka untuk siap ke industri,” kata pria 30 tahun itu.

Dominasi asing secara otomatis akan memberikan akses lebar-lebar kepada tenaga kerja asing daripada anak bangsa. Potensi sumber daya manusia yang seharusnya bisa dibentuk dan dieks­plorasi pun menjadi tersisih.

”Coba dilihat apakah unicorn di Indonesia pure orang Indonesia,” ujar Sidiq Permana.

Jelajahi Indonesia demi Digital Talent

Saking sulitnya mencari digital talent dengan kualifikasi bagus, Sidiq Permana akhirnya memutuskan untuk berkeliling Indonesia. Tujuannya mencari bibit unggul yang bisa dia ajak berpartner di start up-nya saat itu.

Sekitar 20 kabupaten/kota di lima pulau besar di Indonesia dia singgahi. Ide berjelajah itu berasal dari dia dan dua rekannya. Tar­getnya adalah mahasiswa-mahasiswa informatika dan yang relevan dengan industri digital. Perjalanannya itu dia namai ”Developer Mengajar”. Kepada para mahasiswa, dia berbagi ilmu.

”Waktu di Manado itu membuat saya terharu. Mereka bilang tumben orang (dari Pulau) Jawa mau ajakin orang timur maju,” katanya menirukan.

Saat itu di Manado lebih dari 300 mahasiswa sudah berkumpul. Antusiasme mereka membuat Sidiq semakin terharu.

”Ternyata di sana jarang ada acara IT,” katanya.

Dari Deve­loper Mengajar, Sidiq Permana berhasil menjaring 10 orang dan ditarik ke per­usa­haannya. Beberapa alumnus program itu bahkan sekarang juga sudah menyebar di perusahaan-perusahaan e-commerce terkemuka di Indonesia.

Sayangnya, Sidiq Permana yang menggunakan uang sendiri dan akhirnya disokong oleh perusahaan software terkemuka tak bisa terus berharap dari Deve­loper Mengajar.

Tentu saja alasannya karena program yang dijalankan pada 2010 itu tak menjangkau banyak calon programmer. Apalagi, biaya untuk singgah dari satu pulau ke pulau lainnya tidaklah murah.

Pria 30 tahun itu akhirnya berinisiatif membuat kurikulum ”Menjadi Android Developer Expert” pada 2016. Sekitar setahun dia membuat kurikulum itu. Kendala utamanya adalah bagaimana dia menerjemahkan pengodean yang kompleks ke dalam bahasa yang sederhana dan bisa dimengerti oleh semua orang.

Bekerja sama dengan komunitas Dicoding, kurikulum ini bisa diadopsi oleh semua orang secara dalam jaringan (online). Bahkan Sidiq menyebutkan sudah 15.000 orang yang mengadopsi kurikulum itu.

Dengan cara tersebut, lulusan Universitas Islam Negeri Ciputat itu lebih mudah berbagi ilmu. Ada satu lagi yang dia lakukan un­tuk menajamkan potensi calon programmer.

Sidiq membuka lebar perusahaannya bagi mereka yang ingin magang atau menjadi bagian dari timnya di perusahaan software-nya, Nusantara Beta Studio yang terletak di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

”Buat siapa pun yang mau magang atau mau jadi bagian tim, kita bisa belajar sambil be­kerja di NBS. Yang bekerja ­dengan catatan sesuai kualifikasi kami,” katanya.

Dengan berbagi ilmu sebagai sumbangsih membangun bangsa dan negara Indonesia, Sidiq Permana berharap ilmunya bakal berkah.

Siapkah Indonesia?

Dengan kondisi yang darurat programmer sedangkan dunia bergerak semakin maju, wajar saja beberapa pihak pesimistis Indonesia bisa mengejar. Namun, seperti halnya Sidiq Permana yang berupa­ya berbuat sesuatu, anak bangsa yang lain pun mengusahakan hal yang sama dengan cara berbeda.

Inggriani Liem yang tak lain Pembina Tim Olimpiade Komputer Indonesia optimistis ­dengan kemampuan Indonesia. Paling tidak optimismenya itu berdasar pada kompetisi berpikir yang dia bina dalam situs daring bernama Bebras ­dengan laman http://bebras.co.id.

Bebras Indonesia merupakan salah satu anggota dari 60 negara dunia. Anak umur 5 tahun-18 tahun berkompetisi berpikir kritis untuk memecahkan masalah. Bebras Indonesia yang ada sejak 2015 sudah memiliki seribuan pendaftar.

”Soalnya dibuat oleh 60 negara. Anak-anak kita bisa kok, ada yang full score tapi ada juga yang nol. Ada pelatihannya secara online. Mereka yang tertarik bisa langsung ke situs itu,” tuturnya.***

Baca Juga

Banyak Investor tak Tahu Iklim Investasi Indonesia

JAKARTA, (PR).- Indonesia telah berkembang menjadi pasar yang menarik dan menjanjikan bagi para investor untuk mengembangkan bisnisnya. Selain itu, Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan perusahaan yang mulai melakukan ekspansi usaha ke banyak negara.