Produsen Tempe dan Penjual Buah Terimbas Nilai Tukar Rupiah

Bekerja/DEDEN IMAN/PR
PEKERJA mengemas tempe yang baru melewati proses peragian di rumah produksi tempe Jalan Margaluyu, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Rabu 5 September 2018. Pengrajin khawatir kenaikan dolar mempengaruhi harga kedelai impor yang selama ini menjadi bahan baku pembuatan tempe di rumah produksi tersebut.

CIMAHI, (PR).- Perajin tempe tak berdaya menghadapi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat terhadap rupiah. Hal itu memicu lonjakan harga produk impor terutama kedelai sebagai bahan baku tempe, mereka terpaksa mensiasati agar usaha tak gulung tikar. 

"Dolar naik, pasti bahan baku tempe juga naik. Khususnya kedelai," ujar Rusdin (42), pengusaha tempe di Jalan Margaluyu RT 7 RW 2 Kelurahan Cimahi Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi, Rabu 5 September 2018. 

Menurut Rusdin, saat ini dirinya memiliki stok kedelai impor dengan harga Rp 7.800 per kilogram. Rata-rata ia menghabiskan sekitar 6 kwintal kedelai per hari untuk memproduksi tempe. "Stok ini harga lama ya, memamg tidak langsung naik tapi melihat dollar sekarang nanti kedelai bisa sampai Rp 8.000 per kilogram," ucapnya.

Diakui Rusdin, harga kedelai impor pernah mencapai diatas Rp 8.000 per kilogram. "Ya waktu krisis moneter tahun 1998 lalu itu sampai Rp 8.200 per kilogram,  kondisi sekarang hampir mirip lah," ucapnya.

Pada tahun 2012, bahan baku pembuatan tahu dan tempe tiba-tiba melambung. Hal itu berimbas pada aksi mogok produksi para produsen tahu-tempe. Mereka protes atas mahalnya harga kedelai impor yang dimonopoli sehingga menyebabkan biaya produksi membengkak. 

Meski harga kedelai naik akibat dolar menguat, hingga saat ini pengrajin tempe masih bergantung pada kedelai impor. Alasannya, jelas Rusdin, bulir kedelai lokal kebanyakan terlalu kecil untuk digunakan membuat tempe hingga mudah pecah atau hancur. 

"Kualitas kedelai lokal masih kalah dengan impor, mau tidak mau harus membeli kedelai impor. Kalau kedelai lokal buat tempe gak sesuai. Kualitasnya kurang," jelas Rusdin.

Untuk kenaikan harga kedelai impor sebagai imbas naiknya dolar, biasanya tak akan berpengaruh terhadap harga di pasaran. Pihaknya kesulitan untuk menaikkan harga mengingat permintaan di pasaran.
Ukuran normal produk tempe saat ini masih 6 ons yang dijual Rp 5 ribu, serta tempe ukuran 9 ons yang dijual Rp 7 ribu.

"Kalau dolar sudah naik, kami enggak bisa naikin harga, susah jual soalnya. Kami pilih mengecilkan ukuran produk tempe. Pembeli memang mempertanyakan, tapi tidak berpengaruh ke penjualan karena termasuk makanan pokok dan masih terjangkau," terangnya.

Pedagang Buah

Meroketnya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah, juga dikeluhkan para pedagang buah impor eceran. Seperti aktivitas pedagang buah impor di Jalan Pabrik Aci, Kota Cimahi, yang tak seramai biasanya. Buah-buahan impor seperti jeruk, pir, lengkeng dan apel, yang dikemas dalam karton dan plastik kabinet masih tersusun rapi.

Para pedagang mengaku sepinya pembeli tak lepas dari pengaruh melambungnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Akibatnya, rata-rata harga buah naik mulai Rp 25-30 ribu per karton dalam beberapa pekan terakhir. 

"Memang semua buah impor mengalami kenaikan karena dolar mahal, berat lah jualnya," ujar salah satu pedagang buah, Ridwan (19). 

Kenaikan harga diakui Ridwan sudah begitu mempengaruhi penjualan. "Biasanya sehari-hari ramai pembeli, sekarang sepi lah," ucapnya.

Pendapatan juga berkurang, biasanya bisa dapat Rp 3 juta-4 juta sehari. "Kalau sekarang paling Rp 1 juta sehari. Pengaruhnya ke penjualan secara keseluruhan 50%, kalau ke tiap jenis buah naiknya sekitar 25-30%," ucapnya.

Pembeli buah impor selain untuk konsumsi juga untuk kebutuhan parsel. "Menambah stok juga sulit karena buah-buahan rentan busuk. Jadi hanya bisa tahan beberapa hari saja," tuturnya. ***

Baca Juga

PEKERJA menyelesaikan proses pembuatan tahu di Sentra Tahu Cibuntu, Kota Bandung, Kamis (18/12/2014).  Melemahnya rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat membuat harga bahan baku kedelai mengalami kenaikan yang berimbas membengkaknya biaya produksi pera

Rupiah Lemah, Produsen Tahu Cibuntu Ikut Resah

BANDUNG, (PR).- Produsen tahu di kawasan Cibuntu, Kota Bandung, harus rela memperkecil ukuran tahu akibat terdampak pelemahan rupiah atas dolar. Pada Jumat, 7 September pagi nilai tukar rupiah mencapai Rp14.881 per dolar AS.