Menko Perekonomian Menjawab Anggapan Rupiah Hari Ini Mirip Gejala Krisis 1998

Menko Perekonomian Darmin Nasution/ARIE C. MELIALA/PR
MENTERI Koordinator Bidang Darmin Nasution di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 10 Agustus 2016. Dia mengatakan, Presiden Joko Widodo belum puas dengan harga-harga pangan saat ini sehingga harus ada upaya jangka pendek untuk mengendalikan harga.*

JAKARTA, (PR).- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa 4 September 2018 stagnan di level Rp 14.810 per dolar AS. Anggapan bahwa rupiah hari ini mirip situasi gejala krisis ekonomi 1998 pun muncul. Saat itu, anjloknya nilai rupiah bahkan sampai Rp 16.000-an.

Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Meskipun di tengah fluktuasi kurs dolar AS. Ia mengimbau agar masyarakat tidak menyamakan rupiah hari ini dengan gejala krisis ekonomi 1998.

"Kita fundamental ekonominya masih oke dan kuat. Satu-satunya kelemahan kita hanya transaksi berjalannya defisit dan defisitnya 3 persen," kata Darmin di halaman Istana Negara Jakarta. Seperti dilaporkan Antara, Selasa 4 September 2018 ia menemui Presiden Joko Widodo.

Darmin menjelaskan, faktor fundamental itu dinilai dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia. Menurut Darmin, defisit transaksi berjalan pun masih lebih kecil dibanding 2014 yang mencapai 4,2 persen.

Untuk mengurangi defisit transaksi berjalan, Darmin menambahkan, pemerintah terus memperkuat sektor riil seperti industri pariwisata, pertambangan dan ekspor industri.

Jangan bandingkan rupiah hari ini dengan 1998

Selain itu, Menko meminta masyarakat tidak membandingkan kenaikan kurs dolar AS yang terjadi pada rupiah hari ini, dengan krisis moneter pada 1998. "Jangan bandingkan Rp14.000 sekarang, Rp14.000 20 tahun yang lalu. Dua puluh tahun yang lalu itu berangkatnya dari Rp2.800 naik Rp14.000. Dan sekarang dari Rp13.000 naik ke Rp14.000," katanya.

Darmin menilai kebijakan ekonomi makro yang diimplementasikan oleh pemerintah masih efektif. Kurs dolar terkonsolidasi mendekati tingkat tertinggi dalam satu pekan terhadap sejumlah mata uang negara lain pada perdagangan Senin 3 September 2018.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah relatif masih rentan mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

"Dolar AS masih cenderung menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. Perundingan perdagangan bebas yang buntu antara Amerika Serikat dan Kanada masih mendorong ketidakpastian di pasar," katanya, seperti dikutip Antara.

Di tengah situasi itu, lanjut dia, investor akan melirik dolar AS sebagai aset "safe haven", sehingga dapat berdampak pada pelemahan rupiah.

Sementara itu terpantau pada pukul 09.45 WIB, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi ke level Rp14.827 per dolar AS.

Ia menambahkan sentimen mengenai data PMI Tiongkok bulan Agustus yang cenderung menurun juga dapat menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Kemungkinan ekspor Indonesia melambat ke Tiongkok akibat perlambatan data itu.***

Baca Juga