Perang Dagang dan Melemahnya Rupiah, Laju Investasi Melambat

Rupiah/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Laju Investasi triwulan II tahun 2018 mengalami perlambatan akibat ‎pelemahan rupiah dan perang dagang. Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal Thomas Lembong mengatakan kondisi ini menyebabkan target realisasi investasi tahun 2018 sebesar Rp 765 triliun menjadi berat untuk tercapai.

"Prospek mengenai target 2018 ya harus kami akui dengan perlambatan yang terjadi, pencapai target 2018 menjadi lebih sulit,"ujar Thomas saat konferensi pers di Jakarta, Selasa, 14 Agustus 2018.

Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) periode triwulan II mencapai Rp 176,3 triliun. Angka tersebut menurun 4,9 persen dibandingkan realisasi investasi pada triwulan I tahun 2018 sebesar Rp 185,3 triliun.

Sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ‎angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 3,1 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp 170,9 triliun. Meskipun demikian, lajunya melambat dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan investasi dari triwulan II tahun 2017 dibandingkan triwulan II tahun 2016 mengalami pertumbuhan hingga mencapai 12,7 persen.

Sementara realisasi investasi semester I tahun 2018 mencapai angka Rp 361,6 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang smaa tahun 2017 sebesar Rp 336,7 triliun. Namun jika dibandingkan dengan target tahun ini yang meningkat dibandingkan sebelumnya, realisasi investasi baru mencapai sekitar 47 persen dari total target.

Berdasarkan asalnya, penanaman modal dalam negeri mengalami pertumbuhan hingga 32,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Juga tumbuh 5,5 persen‎ jika dibandingkan periode yang sama kwartal sebelumnya. Namun penanaman Modal Asing tercatat minus 12,9 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara pertumbuhan PMA

Thomas mengatakan, pemerintah tidak pasif menghadapi perlambatan investasi tersebut. Meskipun berat, dia berharap agar target masih bisa tercapai. "Pemerintah akan mengambil langkah istimewan bila perlu terobosan aktif guna menghalau efek negatif seperti (pelemahan) nilai tukar dan pasar modal dunia,"ujar dia.

Dia mengatakan, perlambatan investasi tersebut disebabkan oleh modal masuk yang menurun disertai banyaknya dana asing yang keluar.‎ Penurunan yang terjadi dibandingkan triwulan I tahun 2018 disebabkan karena pada periode tersebut terdapat perusahaan di bidang e-commerce yang melakukan investasi dalam jumlah sangat besar. Seperti diketahui, Ali baba menyuntik dana sebesar Rp 27,5 triliun ke Lazada Group pada Maret 2018.

"Jadi bisa dikatakan, realisasi investasi triwulan I ‎tahun 2018 tertolong oleh adanya investasi besar di bidang e-commerce. Sehingga triwulan II sulit untuk bisa menandingin jumlah investasi tersebut,"ujar dia.

Tunda investasi

Sementara dampak lainnya adalah pelemahan rupiah yang menyebabkan banyak dana asing ke luar. Selain itu para investor juga memilih untuk menunda merealisasikan investasinya hingga terjadi keseimbangan rupiah baru.

Meskipun demikian, Thomas menegaskan bahwa proyek investasi tersebut tidak sampai dibatalkan. "Kami ‎prihatin ini bisa membawa dampak bagi prospek investasi triwulan III dan IV. Tahun politik yang berlanjut hingga tahun depan juga menambah kondisi ketidakpastian sehingga investor bersifat wait and see,"ujar Thomas.

Sementara itu Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Azhar Lubis, mengatakan bahwa trend penurunan investasi sebenarnya sudah terjadi sejak tahun lalu. Namun baru pada triwulan II tahun 2018 ini pertumbuhan PMA menjadi negatif. "Ini pertumbuhan negatif pertama sejak dicatat BKPM pada 2013,"ujar dia.

Azhar mengatakan,‎ beberapa negara mengalami penurunan dalam PMA ke Indonesia. Namun penurunan terbesar adalah penanaman modal asing yang berasal dari Korea Selatan. "Itulah sebabnya negara itu kini tidak masuk lima besar lagi,"ujar dia.***

You voted 'marah'.

Baca Juga