Hadapi Perang Dagang Global, Indonesia Fokus Perbaiki Neraca Perdagangan

Kopi Gunung Puntang/ANTARA
PETANI membilas buah kopi Puntang di perkebunan kopi Gunung Puntang, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Selasa 29 Mei 2018. Poduksi kopi tahun 2018 diperkirakan meningkat 10-15 persen dibandingkan tahun lalu hingga total produksi kopi menjadi sekitar 660.000-690.000 ton.*

JAKARTA, (PR).- ‎Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah akan fokus memperbaiki defisit neraca perdagangan dibandingkan perang dagang yang terjadi secara global.

Pemerintah juga fokus dalam merespons kebijakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

 "Perdang dagang itu kan negara-negara besar. Kita sebenarnya memperhatikan dan melihat bagaimana perang dagang ini, tapi Indonesia lebih banyak mengurus diri sendiri saja," ujar dia di Kantor Kementrian Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis 21 Juni 2018.

Dia mengatakan, banyak masalah yang membuat neraca perdagangan Indonesia terganggu. Hal itu menyebabkan neraca perdagangan Indonesia menjadi negatif sejak awal tahun.

"Itu berarti, satu yang harus kita urusi, neraca perdagangan itu. Kita tidak perlu fokus pada perang dagang negara-negara itu, fokus pada diri sendiri saja," ujar dia.

Menurut Darmin Nasution, pemerintah berupaya mencari jalan mengembalikan neraca perdagangan yang negatif. Berdasarkan data BPS, hal itu disebabkan impor yang meingkat, Namun menurut Darmin Nasution, peningkatan impor tersebut juga dipengaruhi oleh persiapan jelang Lebaran.

Di sisi lain, Darmin Nasution mengatakan, ekspor Indonesia malah mengalami penurunan. Hal itu terutama dipengaruhi langkah-langkah yang diambil negara tujuan ekspor. Misalnya, India yang baru menerapkan bea masuk impor CPO yang tinggi bagi Indonesia.

"Perdana Menteri India kemarin sudah datang ke Indonesia.‎ Presiden (Jokowi) sudah bilang, tolong perhatikan, kita punya kerja sama ekonomi, masak gunakan bea masuk yang tinggi pada CPO," ujar Darmin Nasution.

Selain masalah neraca perdagangan, Darmin Nasution mengatakan, ‎pemerintah juga mewaspadai kecenderungan kenaikan suku bung Amerika Serikat. Hal itu bisa berimbas pada kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

"Kebijakan moneter itu kemungkinan ada karena jika tidak begitu, nanti kurs dolarnya akan naik lagi," ujar Darmin Nasution.

Oleh sebab itu, dia mengatakan, pemerintah perlu bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga acuan.

Hal itu bisa dijalankan dengan cara mendorong bank memangkas biaya yang tidak efisien. Dengan demikian, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak secara otomatis berdampak signifikan pada kenaikan suku bunga kredit.

Bank Indonesia

‎Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, Bank Indonesia akan fokus pada kebijakan jangka pendek dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

"Untuk itu, Bank Indonesia siap menempuh kebijakan lanjutan yang preemptive, front loading, dan ahead the curve dalam menghadapi perkembangan baru arah kebijakan The Fed dan ECB pada Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," ujar dia.

Dia mengatakan, kebijakan lanjutan tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga yang disertai dengan relaksasi kebijakan LTV untuk mendorong sektor perumahan. Selain itu, Bank Indonesia akan melanjutkan penerapan kebijakan intervensi ganda, likuiditas‎ longgar, dan komunikasi yang intensif dengan pelaku industri.***

Baca Juga