LPS Amankan Aset BPR Mega Karsa Mandiri di Cinere

BPR Mega Karsa Mandiri Dilikuidasi/BAMBANG ARIFIANTO/PR
DERETAN mobil terparkir di depan Kantor Bank Perkreditan Rakyat Mega Karsa Mandiri di Jalan Cinere Raya, Kelurahan/Kecamatan Cinere, Kota Depok, Rabu 6 Juni 2018. Lembaga Penjamin Simpanan tengah mengamankan aset dan mempersiapkan likuidasi Mega Karsa Mandiri yang izin usahanya dicabut.*

DEPOK, (PR).- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mulai melakukan pengamanan aset dan persiapan likuidasi Bank Perkreditan Rakyat Mega Karsa Mandiri yang izin usahanya dicabut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rencananya, aset-aset yang telah dikuasai LPS akan dijual guna penggantian dan pengembalian dana simpanan nasabah.

"Aset di kantor (BPR Mega Karsa Mandiri) dalam proses penguasaan LPS sementara," kata Pelaksana Likuidasi Bank LPS‎ Esfandiary Pane saat ditemui di Kantor BPR Mega Karsa Mandiri, Jalan Cinere Raya, Kelurahan/Kecamatan Cinere, Kota Depok, Rabu 6 Juni 2018.

Seluruh aset bank, lanjutnya, tengah diinvetarisasi petugas LPS untuk memastikan status kepemilikannya. Dengan cara tersebut, LPS bisa memastikan mana aset Mega Karsa Mandiri dan yang bukan miliknya. LPS juga melakukan pemetaan debitur guna mempermudah proses penagihan penagihan pinjaman.

Terkait jumlah total seluruh nilai aset BPR Mega Karsa Mandiri, Esfandiary belum bisa memastikannya. Pasalnya, pendataan aset masih dilakukan.

"PR" menyaksikan langsung proses pendataan aset dan penempelan kertas atau label pada aset-aset seperti kursi, meja sebagai penanda penguasaan LPS atas barang-barang kantor itu. "LPS akan membantu penjualan aset-aset tersebut, artinya aset yang dijual kembali ke nasabah," ujarnya.

Esfandiary menambahkan, proses likuidasi bakal bersamaan dengan proses pengembalian simpanan nasabah. Namun, petugas terlebih dahulu mesti mengumpulkan data-data nasabah. Pengumpulan data penting guna memastikan identitas nasabah yang laik menerima pengembalian simpanan.

"Jangan sampai nasabah tidak laik bayar menjadi laik bayar (dan) bisa kebalikannya," ucapnya. Dia memperkirakan, jumlah nasabah Mega Karsa Mandiri mencapai ratusan orang. "Kalau debitur sekitar 70-80," tuturnya. Sedangkan jumlah kreditur masih dalam proses identifikasi.

Nasabah jangan panik

Esfandiary memastikan, belum ada gejolak nasabah yang menuntut pengembalian simpanan. Tetapi, lanjutnya, ada kreditur yang sempat mendatangi kantor Mega Karsa Mandiri serta mempertanyakan kondisi bank itu.

Ia mengimbau nasabah tak perlu panik dan jangan mudah terpancing rayuan bantuan pencairan simpanan di luar LPS. Tidak ada cara lain selain menunggu pengumuman LPS tentang pengembalian simpanan.

Pantauan "PR", Rabu 6 Juni 2018 siang, kondisi kantor Mega Karsa Mandiri terlihat lengang. Hanya terlihat petugas keamanan, kebersihan dan penerima tamu di kantor yang berada di tepi Jalan Cinere Raya tersebut.

Kertas segel bertuliskan dalam penguasaan LPS menempel di pintu masuk bagian depan kantor. Selain itu, kertas pengumuman pencabutan izin usaha bank oleh OJK serta pers rilis dari LPS mengenai proses likuidasi dan pembayaran klaim simpanan.

Syafei, seorang office Boy atau karyawan pesuruh Mega Karsa Mandiri menuturkan, terdapat sekitar 10 pegawai yang bekerja di bank tersebut. Petugas LPS, tuturnya, telah mendatangi kantor sejak Selasa 5 Juni 2018, terkait penyerahan aset.

Menurut Syafei, Mega Karsa Mandiri telah berdiri sejak sekitar 10 tahun yang lalu. "Dulu dari bangunan warnet (warung internet), sekarang direnovasi (menjadi bank)," ucapnya. Kendati dinyatakan ditutup, aktivitas di bank itu masih kondusif. Para nasabah, lanjutnya, telah dikirimi surat oleh pihak bank terkait permasalahan tersebut. 

Seperti diketahui, OJK mencabut izin usaha Mega Karsa Mandiri sejak 5 Juni 2018 melalui Keputusan Anggota Dewan Komisioner (KADK) Nomor KEP-104/D.03/2018. Sebelum izin dicabut, bank itu telah masuk status dalam pengawasan khusus OJK karena rasio penyediaan modal minimum kurang dari 0 persen.

Hingga batas waktu penyehatan yang diberikan, kondisi Mega Karsa Mandiri tak kunjung membaik serta mendapat investor.***

Baca Juga

Berburu Barang Bekas Harga Miring di Mall Rongsok

SPANDUK bertuliskan Mall Rongsok itu melekat alat kadarnya pada kaca dekat pintu masuk bangunan kayu dua lantai di tepi Jalan Bungur Raya, Beji, Kota Depok, Rabu, 25 Juli 2018.