Tertinggi di Jabar, Kenaikan Harga Beras di Kota Bandung 18%

Bazar Pangan/ASEP BUDIMAN/PR
KEPALA Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat Dewi Sartika, didampingi Kadis Pangan dan Pertanian Kota Bandung Elly Wasliah (paling kiri), secara simbolis menjual beras pada bazar murah di halaman Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Jumat, 12 Januari 2018.*

BANDUNG, (PR).- Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat menggelar bazar murah beberapa komoditas pangan di Kota Bandung, terutama beras. Pasalnya, kenaikan harga beras di Kota Bandung paling tinggi di Jawa Barat dan berada di atas ambang batas normal sebesar 18%.

Kepala DKPP Jabar Dewi Sartika mengatakan, bazar murah ini digelar di tiga lokasi, yaitu di halaman Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Kecamatan Ujungberung, dan Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi. Bazar yang digelar dua hari ini menjual komoditas beras medium seharga Rp 8.800 per kg, daging ayam Rp 33.000 per ekor, bawang merah Rp 18.000 per kg, dan cabai merah keriting Rp 25.000 per kg. Komoditas yang dijual tersebut lebih murah daripada harga rata-rata di pasaran, yaitu beras medium Rp 11.000 per kg, daging ayam Rp 35.000 per ekor, bawang merah Rp 24.000 per kg, dan cabai merah keriting Rp 40.000 per kg.

Dewi mengungkapkan, bazar murah ini untuk memudahkan masyarakat sekitar untuk mengakses pangan yang mengalami kenaikan, terutama beras, juga cabai, telur, dan bawang. "Ini rangkaian serentak di empat provinsi. Di Jabar ada 3 titik, 16 titik di Jakarta, 2 titik di Jawa Tengah, dan beberapa titik di Yogyakarta," ucap Dewi di sela-sela bazar murah yang digelar di halaman Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Jumat, 12 Januari 2018.

Secara umum, ia menjelaskan, kenaikan harga komoditas pangan di Jawa Barat masih normal di bawah 10%, yaitu di angka 6,8%. Akan tetapi, kenaikan harga beras di Kota Bandung paling tinggi sekitar 18% dibandingkan dengan 26 kota/kabupaten lain di Jabar.

"Selain Kota Bandung, yang tinggi itu Kota Tasikmalaya, Kota Cirebon, dan Kota Sukabumi. Kami fokusnya ke beras karena di setiap kota sebagai penyumbang inflasi," ucapnya.

Dia menerangkan, inflasi komponen bergejolak (volatile food) adalah yang menghambat inflasi pada 2017, tetapi juga memengaruhi. Hal tersebut yang coba dikendalikan. Saat ini, inflasi Jabar sekitar 3,63 dibandingkan dengan tahun lalu 3,61, tetapi di bawah target 4+1. 

Surplus

Lebih lanjut, Dewi meyakinkan bahwa bahan pangan di 27 kabupaten dan kota di Jabar aman dan mencukupi. Untuk beras, ketersediaan makanan pokok itu mengalami surplus sekitar 3 juta ton karena masih panen di Jabar selatan. Diperkirakan, sebanyak 90.000 hektare sawah akan panen Janurari 2018 ini dengan prediksi produksi sekitar 330.000 ton beras.

"Jabar tidak paceklik, masih menghasilkan 2 juta ton gabah atau 8 juta ton beras. Masih surplus 3 juta ton. Panen tertinggi di nanti pada Maret-April, tapi setiap bulan ada saja yang panen di Jabar selatan. Tapi, produksi petani tidak dijual semua, ada yang disimpan untuk stok atau ada pula yang dijual ke daerah lain," katanya.

Untuk daging ayam, menurut dia, stok untuk Jabar aman. Bahkan, produksi dari Jabar mampu memasok kebutuhan provinsi lain. Begitu pula dengan telur, pasokannya lancar sehingga harga berangsur turun serta bawang dan cabai yang persediaannya dinilai cukup. 

"Bahan baku ada, mungkin karena hujan dan distribusi (sehingga harga mahal)," tutur Dewi.

Eli Juartini (59), warga Kelurahan Pasirkaliki Kecamatan Cicendo Kota Bandung, mengaku berterima kasih dengan adanya bazar murah ini. Meski pembelian beras dibatasi 10 kg per orang, Eli menilai harganya sangat murah dibandingkan dengan harga di pasar yang mencapai Rp 13.000 per kg.

"Saya hanya beli beras 10 kg karena di pasar mahal sampai Rp 13.000 per kg. Terima kasih banget, kita juga bukan orang yang punya lebih," ucapnya.

Dia meminta pemerintah melakukan sosialisasi lebih gencar karena banyak masyarakat yang belum tahu bazar murah ini. Dengan adanya gebrakan ini, dia berharap bahan pokok di pasar ikut turun mengikuti pemerintah.***

Baca Juga