Wiwiek Sisto Widayat dan Sejumput Asa bagi Tatar Priangan

Wiwiek Sisto Hidayat/ADE BAYU INDRA/PR

KEPALA Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat Wiwiek Sisto Widayat membagi sejumput kisah, kesan, dan asa mengenai wilayah ini sejak menginjakkan kaki di Tatar Pringan pada Mei 2017..

”Dari hasil berkeliling ke berbagai daerah di sini. Jawa Barat secara keseluruhan itu dan Bandung khususnya, suasananya nyaman sekali. Udaranya segar, lalu lintasnya tidak terlalu macet. Demo juga tidak terlalu banyak. Kemudian baik masyarakat maupun pimpinan daerahnya pun enak diajak berkomunikasi dengan respons kerja sama yang sangat baik,” ujar pria yang akrab disapa Wiwiek ini. Ia ditemui di Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Barat Jumat, 29 Desember 2017 lalu.

Lahir di Sukoharjo, 54 tahun lalu, Wiwiek memulai perjalanan kariernya di Bank Indonesia sejak 1991. Lebih dari dua dekade perjalanan kariernya dihabiskan Wiwiek di Direktorat Riset dan Moneter bank sentral.

Tidaklah mengherankan jika pria penikmat kopi ini begitu akrab dengan berbagai permasalahan perekonomian. Berbagai riset dan kajian perekonomian, seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan baginya.

Berbicara tentang Jabar, Wiwiek menilai siapa pun akan sepakat tentang besarnya potensi yang dimiliki daerah ini. Bahkan, kondisinya unik. Pasalnya di satu sisi Jabar kuat di industri peng­olahan, di lain sisi sektor pertanian juga dominan. Lanskap pariwisatanya pun tak jauh berbeda. Mulai dari gunung hingga pantai yang mampu memanjakan mata para wisatawan tersaji indah. Hingga tak bisa dinafikan bahwa Jabar memiliki potensi yang cukup lengkap.

Menyambangi 13 daerah

Menginjak bulan kedelapan bertugas di Jabar, dari total 27 kabupaten/kota di wilayah ini, Wiwiek secara khusus menyambangi 13 daerah. Bahkan, sejumlah daerah di wilayah Jabar bagian selatan yang memakan waktu tempuh cukup panjang pun telah ia jabani. Sebut saja di antaranya Kecamatan Surade di Sukabumi Selatan dan objek wisata Geopark Ciletuh.

Bukannya tanpa alasan, dengan mendatangi daerah-daerah, ia dapat memotret langsung kondisi di masing-masing daerah. Baik potensi maupun kendala yang dihadapi. Dengan demikian, ia berharap bersama berbagai pemangku kepentingan, mampu menggali dan memanfaatkan potensi sekaligus mencari solusi dari berbagai kendala yang dihadapi.

Ia merinci, membahas Jabar dari sisi ekonomi, maka terlihat perbedaan yang sangat mencolok antara utara dan selatan. Baik dari segi ekonomi, topografi, maupun kebudayaannya. Jika me­rujuk pada sumber pertumbuhan dan PDRB ada perbedaan yang kentara antara bagian utara dan selatan ini.

Digambarkan Wiwiek, Jabar bagian utara didominasi oleh in­dustri yang cukup maju atau sektor manufaktur. Adapun Jabar bagian tengah ditopang oleh perdagangan besar dan menengah, sedangkan Jabar bagian selatan lebih dominan di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Akibatnya, sumber pertumbuhan ekonominya pun tidak bisa disamakan.

”Jika kita berbicara Jabar, kesenjangan merupakan salah sa­tu tantangan yang menjadi sorotan karena masih cukup tinggi, terutama bagi Jabar bagian selatan,” ujar Wiwiek.

Sinergikan Program

Kesejahteraan masyarakat selatan Jabar

Oleh karena itu, salah satu kebijakan yang ditekankan BI pada 2018 adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat selatan Jabar dan mengatasi ketimpangan yang ada.

Langkah yang dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah (Rakorpusda) belum lama ini. Mulai dari mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Jabar yang akan mendukung tumbuhnya sektor-sektor ekonomi potensial. Kemudian mendorong berkembangnya sektor ekonomi potensial daerah sebagai sumber pertumbuhan baru yang disesuaikan dengan karakteristik daerah. Seperti ekowisata di Pangandaran, Geopark Ciletuh, Rancabuaya, dan daerah sekitarnya, dari sektor pertanian, teh, kopi, kakao, dan jagung.

”Khusus untuk Jabar bagian selatan difokuskan pada optimalisasi pengolahan hasil pertanian yang berdaya saing tinggi. Melalui industri berbasis pertanian serta pengembangan sektor pariwisata, termasuk sektor maritim, sebagai quick wins untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi Jabar bagian selatan,” kata Wiwiek.

Meskipun menyadari akan dibutuhkan waktu yang tidak singkat, Wiwiek berharap berbagai strategi yang dilakukan untuk mendorong kemajuan Jabar bagian selatan. Sekaligus memangkas kesenjangan yang ada, mampu menghasilkan catatan positif.

Selain memberikan penekanan pada peningkatan di Jabar bagian selatan, untuk mendorong perekonomian wilayah ini, BI juga akan mengidentifikasi pesantren yang memiliki kegiatan unggulan yang bisa dikembangkan. Diungkapkannya, ada 9.000 pesantren yang tersebar di seluruh penjuru Jawa Barat. Serta mencari komoditas pangan unggulan yang bisa didorong agar lebih maju lagi seperti bawang merah dan cabai merah.

”Kami berharap ke depan khususnya pertumbuhan ekonomi Jabar akan semakin lebih baik lagi,” ujarnya.

Speciality coffee

Di luar berbagai kebijakan tersebut, sebagai penikmat kopi, Wiwiek mengutarakan keinginannya untuk mengembangkan kopi Jabar. Apalagi ternyata Jabar memiliki begitu banyak ragam dan varian specialty coffee yang telah diakui di dunia internasional. Specialty coffee adalah kopi yang memiliki kualitas aroma dan rasa yang istimewa.

”Tetapi di mana bisa membeli kopinya, itu yang jadi persoalan. Makanya, salah satu rencana yang dipersiapkan bersama pemerintah daerah adalah membangun satu tempat yang me­nyediakan beragam kopi Jabar. Jadi, orang-orang tidak kesulitan saat hendak memperoleh kopi Jabar ini. Hal ini telah dilakukan Yogyakarta dan harapannya bisa direplikasi di sini,” kata Wiwiek. ***

Baca Juga

Ekspor Meningkat, Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 6,02 Persen

BANDUNG, (PR).- Didorong kinerja industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga, Badan Pu­sat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat perekonomian Jawa Barat selama triwulan I-2018 tumbuh sebesar 6,02%.

Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas Gubernur BI Baru

JAKARTA, (PR).- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritasnya dalam jangka pendek. Untuk mencapai  hal itu, Bank Indonesia akan mengkombinasikan kebijakan suku bunga dan intervensi ganda.

Atasi Rupiah Melemah, BI Akan Sesuaikan Suku Bunga

JAKARTA, (PR).- Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menegaskan bahwa BI mempersiapkan langkah kebijakan moneter yang tegas. Hal itu akan dilakukan secara konsisten untuk melakukan stabilisasi Rupiah.