Libur Panjang, Okupansi Hotel Meningkat Meski di Bawah Target

Okupansi Hotel/USEP USMAN NASRULLAH/PR
TAMU hotel dengan gawainya memotret suasana pagi Kota Bandung dari kamarnya di Jln. Braga, Kota Bandung, Kamis 21 Desember 2017). Musim liburan sekolah okupansi hotel terus meningkat yang diperkirakan puncaknya hingga tahun baru 2018.

BANDUNG, (PR).- Tingkat okupansi hotel selama libur Natal dan tahun baru meningkat signi­fikan. Secara umum, rata-rata keterisian kamar hotel menyentuh kisaran target yang ditetapkan meski berada di batas bawah perkiraan.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar Herman Muchtar memaparkan, jika dibanding­kan dengan periode liburan sebelumnya, tingkat okupansi saat libur Natal dan tahun baru jauh lebih baik. Catatan positif tersebut tak lepas dari masa libur yang cukup panjang, sekitar 10 hari dan bertepatan dengan masa liburan sekolah.

Dipaparkannya, okupansi hotel pada 25-26 Desember mencapai angka 80 persen dari target 85 persen. Sementara itu, okupansi hotel pada malam tahun baru tercatat sebesar 92 persen dari target 95 persen.

"Jika kita berbicara rata-rata secara umum cukup baik okupansi pada perio­de liburan kali ini. Bahkan selama tanggal 27-30 Desember kamar yang terisi mencapai 56 persen dari target 60 persen karena masih dalam situasi libur­an sekolah banyak yang berkunjung pada periode tersebut. Dengan demikian, momen libur kali ini tepat sekali,” katanya di Bandung, Senin, 1 Januari 2017.

Akan tetapi, Herman menjelaskan, ang­ka yang ia paparkan merupakan ang­ka rata-rata secara umum. Artinya de­ngan kondisi tersebut ada hotel yang oku­pansinya diatas angka rata-rata bahkan untuk hotel yang berada di lokasi keramaian okupansinya bertahan baik pada 25-31 Desember. Di sisi lain juga terdapat hotel yang okupansinya di bawah catatan tersebut.

Adanya hotel yang berada di bawah angka rata-rata okupansi, dikatakan Herman, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari terus bertambahnya jumlah hotel baru dengan beragam fasilitas dan promosi yang ditawarkan sehingga memperketat persaingan serta faktor keberadaan titik keramaian yang berada di sekitar lokasi hotel.

“Dari sisi konsumen, tentu akan tertarik untuk mencoba yang baru apalagi dengan fasilitas yang lebih lengkap. Belum lagi, misalnya lokasinya yang dekat dengan titik keramaian atau pusat perbelanjaan. Apalagi saat ini tak sedikit yang datang lebih memilih mengguna­kan kereta api sehingga lokasi yang mu­dah dijangkau menjadi pilihan,” ujarnya.

Disinggung dari sisi asal kota yang menjadi tamu hotel di Bandung selama periode liburan lalu, Herman menutur­kan, Jakarta masih mendominasi. Kemudian disusul oleh wisatawan dari kota yang memiliki penerbangan langsung dengan Bandung. Apalagi saat ini penerbangan domestik dari dan menuju kota ini semakin bertambah.

“Dengan telah terkoneksinya Bandung dengan sejumlah daerah di nusantara melalui penerbangan langsung menyebabkan akses ke Tatar Priangan kian mudah. Kita berharap daerah-daerah ini­lah yang menjadi sasaran promosi untuk meningkatkan kunjungan wisata­wan kemari sehingga pada kelanjutannya akan berdampak positif terhadap okupansi hotel,” katanya.

Dipaparkan Herman, setelah menca­tatkan angka yang cukup positif saat periode libur lalu, berdasarkan pola historis yang ada maka okupansi hotel di Bandung akan anjlok pasca liburan. Bahkan, ia memperkirakan selepas tanggal 7 Januari, tingkat keterisian kamar hanya akan menembus angka 30 persen.

Prediksi 2018

Disinggung mengenai optimisme ki­nerja industri perhotelan pada 2018, Herman mengaku belum melihat per­ubahan yang berarti. Dengan demikian, dia memprediksi kondisinya tidak akan jauh berbeda dibandingkan catatan sepanjang 2017 lalu.

“Hingga 6 Januari kami berharap masih bisa di angka 45-50 persen. Namun yang juga menjadi perhatian adalah bagaimana okupansi setelah 7 Januari,” ujarnya.

Oleh karena itu dia berharap agar pemerintah Jabar khususnya wilayah Bandung untuk menciptakan berbagai atraksi wisata untuk menarik kunjungan wisatawan, terutama wisatawan nusantara dari daerah yang telah terkoneksi dengan penerbangan langsung. Strategi tersebut menurutnya akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Bandung yang nantinya akan berdampak pada tingkat okupansi hotel di wilayah ini. Khususnya pada hari kerja yang dari sisi okupansi pada masa tersebut relatif rendah.***

Baca Juga

Hotel di Bandung Tak Sisakan Kamar Kosong

BANDUNG, (PR).- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mencatat, tingkat okupansi hotel saat libur perayaan global di bulan Desember sudah mencapai 100 persen.