Jusuf Kalla Ungkap Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lebih Lambat

Pembukaan pasar saham/ANTARA FOTO
WAKIL Presiden Jusuf Kalla menyampaikan arahan saat membuka perdagangan saham 2018 di BEI, Jakarta, Selasa 2 Januari 2018. Wapres berharap pasar modal Indonesia dapat menghasilkan efek berganda (multiplier effect) yang lebih besar ke perekonomian nasional guna menjaga momentum perekonomian di tahun 2018. *

JAKARTA, (PR).- Wakil Presiden Jusuf Kalla menghimbau agar dana yang masuk ke pasar modal juga bisa diinventasikan ke sektor riil. Dengan demikian, hal itu bisa lebih mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dia mengatakan, ‎hampir semua indikator ekonomi nasional mengalami perbaikan. Meskipun demikian, kenyataannya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak secepat negara lainnya.

"Indikator ekonomi seperti inflasi dan hutang terkendali, politik nasional stabil. Bahkan harga komoditas yang dulu selalu dikambinghitamkan pun sekarang sudah membaik. Sekarang semua kondisi dan faktor-faktor ekonomi positif. Jadi apa masalahnya?" ujar dia saat membuka perdagangan pertama Pasar Modal Indonesia tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 2 Januari 2018.

Dia mengatakan, pasar modal di Indonesia memiliki capaian yang sangat tinggi pada 2017. Meskipun demikian, saat ini 60 persen dari investor tersebut masih dimiliki oleh asing. Dengan demikian, ‎keuntungan dari pasar modal di Indonesia kemungkinan besar dibawa kembali ke luar negeri.

Oleh karena itu, Kalla meminta agar dana yang masuk ke pasar modal bisa masuk diinvestasikan juga ke sektor riil. Dengan demikian, ekspansi para emiten tersebut mampu memberikan dorongan bagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Itu harapan kita karena letak masalah ekonomi Indonesia adalah masih minimnya investasi di sektor riil. Jangan seperti dulu, segala macam dibawa keluar," ujar Jusuf Kalla.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian‎ Darmin Nasution mengatakan, terdapat beberapa negara yang sebelumnya mengalami pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari Indonesia justru mengalami percepatan pada 2017. Negara-negara tersebut di antaranya adalah Malaysia dan Singapura.

Menurut Darmin, hal itu disebabkan karena ‎negara-negara tersebut memiliki sektor industri yang jauh lebih besar. Dengan demikian, saat kondisi ekonomi global membaik, negara-negara itu dapat dengan cepat memanfaatkan momentum. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui peningkatan ekspor.

Komoditas sumber daya alam

Hal ini berbeda dengan Indonesia yang komponen ekspornya masih tertumpu pada komoditas sumber daya alam sehingga perbaikan pertumbuhan ekonominya lambat.

Darmin mengatakan, pemerintah berupaya untuk mendorong sektor industri manufaktur. "Kami sudah melakukan koordinasi dengan Kementrian Perindustrian, industri apa yang fokus dikembangkan. Kalau bertahan dengan komoditas sumber daya alam, kita tidak akan bisa mengejar (target pertumbuhan ekonomi)," ujar Jusuf Kalla.

Kepala Badan Koordinasi‎ Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan pemerintah berupaya membenahi hambatan yang menghalangi pertumbuhan di sektor yang potensial untuk investasi. Hambatan tersebut di antaranya adalah bandara, pelabuhan, dan kemacetan lalu lintas.

Menurut Lembong, dua sektor yang paling potensial untuk berinvestasi adalah e commerce dan pariwisata. Sebab dua sektor tersebut memberikan sumbangsih paling tinggi terdapa pertumbuhan investasi. "Untuk e commerce memang masih kecil, namun pertumbuhannya luar biasa sebesar 60-80 persen per tahun. Sementara untuk pariwisata mencapai 35-45 persen per tahun," ujar dia.***

Baca Juga

Inflasi 2017 Capai 3,61%

JAKARTA, (PR).- Badan Pusat Statistik merilis indeks harga konsumen Indonesia tahun kalender 2017.

Pinjaman untuk Infrastruktur Daerah Dipercepat

JAKARTA, (PR).- Pemerintah pusat berupaya mempercepat pengajuan pinjaman daerah untuk pembangunan infrastruktur. Hal itu diantaranya dengan penandatanganan noktah kesepahaman antara tiga kementrian untuk mengurangi hambatan dan masalah dalam pengajuan p‎injaman pemerintah daerah.

Kenaikan Harga Minyak Dunia Picu Kenaikan Inflasi

JAKARTA, (PR).- Inflasi Indeks Harga Konsumen 2018 diperkirakan mencapai 4 persen atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 3,64. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia dan kenaikan harga bahan makanan.