Awal Tahun Penuh Gejolak, IHSG 2017 Ditutup dengan Kenaikan Level

Rekor tertinggi/ANTARA FOTO
KARYAWAN melintas di bawah monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa 19 Desember 2017 IHSG kembali mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa dengan ditutup naik 33,70 poin atau 0,55 persen sehingga menjadi 6.167,67 setelah sebelumnya juga sempat rekor di level 6.113,653 pada Kamis 14 Desember 2017.*

JAKARTA, (PR).- Indeks Harga Saham Gabungan atau ISHG 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. Angka tersebut mengalami peningkatan bila dibandingkan pada penutupan perdagangan bursa saham tahun 2016 sebesar 5.296,71 poin.

Presiden Joko Widodo meresmikan langsung penutupan perdagangan bursa saham itu di Bursa Efek Indonesia, Jumat, 29 Desember 2017. Dia didampingi juga oleh Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Direktur Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio dan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso.

“Ini angka yang di luar perkiraan kita. Dulu, banyak yang menyampaikan bisa mencapai 6.000 saja sudah untung, sudah senang,” kata Joko Widodo ketika memberikan sambutannya.

Dia mengatakan, pada awal tahun 2017, terdapat sejumlah risiko terkait kondisi ekonomi dan geopolitik secara global. Sejumlah pihak, katanya, mewanti-wanti akan adanya kenaikan suku bunga dolar AS oleh Bank Sentral Amerika yang dampaknya akan membuat mata uang lain rontok. Lalu, stimulus fiskal besar-besaran oleh Presiden AS Donald Trump yang akan membuat modal berbondong-bondong kembali masuk ke AS.

Sentimen proteksionisme juga muncul ketika akan meningkatkan risiko terjadinya perang dagang. Dari sisi politik, katanya, kelompok garis di beberapa negara di Eropa turut mewarnai jalannya pemilihan umum.
 

Yang ditakutkan tak terjadi

Namun demikian, kekhawatiran itu ternyata tidak terjadi. Menurutnya, dolar AS justru melemah sepanjang tahun 2017. Arus modal ke negara-negara berkembang, termasuk ke Indonesia, dikatakannya bahkan mencapai sebuah rekor.

Begitupun dengan suasana pemilihan umum di Eropa, kekhawatiran kepada kelompok garis keras yang memenangi pemilu tidak terjadi. Bahkan, Prancis kini dikatakannya dipimpin oleh tokoh reformis, yakni Emmanuel Macron.

“Coba kita bayangkan, andaikata di awal tahun kita ketakutan menghadapi risiko-risiko yang digambarkan tadi, kemudian semua saham, semua properti dijual dan kita hanya pegang cash, berapa keuntungan yang hilang? berapa keuntungan kita yang gagal?” katanya.

Menurut Joko Widodo, poin pentingnya adalah tidak termakan oleh rasa takut. Risiko tetap ada, namun di sana juga ada peluang.

“Memang untuk jualan, untuk dapat lebih banyak like di situs internet, lebih seru, lebih asyik kalau yang dijual itu berita yang nakut-nakutin. Semuanya kan senangnya seperti itu,” tuturnya.

Tapi masalahnya, kata dia, kalau sampai terjebak pada ketakutan akan resiko, peluang akan hilang. “Kita akan kehilangan kesempatan secara cepat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT BEI Tito Sulistio mengatakan, dua tahun terakhir jumlah investor meningkat 44%. Berdasarkan catatan terakhirnya, jumlah investor mencapai 1,12 juta.

Begitu juga dengan nilai investasi domestik yang mengalami kenaikan. Sepanjang tahun ini, kata dia, nilai investasi investor domestik mencapai Rp 340 triliun. Selain itu, aktivitas pedagangan juga dikatakannya naik. “bursa berhasil memfasilitasi 37 perusahaan IPO di 2017," tuturnya.

Baca Juga