Awal 2018 Harga BBM dan Tarif Listrik Dijamin Tak Naik

Isi Bahan Bakar/USEP USMAN NASRULLOH/PR
KENDARAAN antre mengisi bahan bakar minyak di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Ciwidey-Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Selasa 26 Desember 2017.*

JAKARTA, (PR).- Pemerintah memutuskan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar tak mengalami kenaikan pada periode 1 Januari 2018 sampai 31 Maret 2018. Kebijakan itu juga berlaku bagi tarif listrik yang tidak naik pada periode yang sama.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan mengatakan, ‎pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak dan tarif listrik tersebut karena mempertimbangkan daya beli masyarakat. "Harga bahan bakar premium dan solar, serta tarif listrik sama dengan tiga bulan sebelumnya. Alasan satu-satunya adalah mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar dia saat konferensi pers di Kementrian ESDM, Rabu 27 Desember 2017.

Dengan adanya keputusan tersebut, ‎maka harga premium di luar Jawa, Madura dan Bali senilai Rp 6.450 per liter. Sementara harga solar subsidi senilai Rp 5.150 per liter.

Jonan mengatakan, pemerintah telah mengantisipasi harga batu bara yang mengalami tren peningkatan harga. Dengan demikian, hal itu belum berdampak pada penetapan tarif listrik ke konsumen.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar mengatakan, pemerintah menerapkan strategi efisiensi untuk mempertahankan tarif listrik tersebut.‎ Ia mengatakan, ada tiga strategi efisiensi yaitu teknologi dan knowledge, model bisnis, dan dari sisi cash flow.

Harga minyak dunia naik

Direktur Utama PT PLN (Persero), Sofyan Basir, mengatakan bahwa kenaikan harga batu bara tersebut tidak berpengaruh pada tarif listrik sampai tiga bulan mendatang.‎ "Harga batu bara kan sudah naik, mudah-mudahan tidak naik lagi. Kalau harganya turun, ya tarifnya bisa turun lagi," ujar Sofyan. 

Dia mengatakan, PLN berupaya untuk terus melakukan efisiensi. Hal itu di antaranya dilakukan di sektor perawatan operasional, zonasi transportasi, dan menaikkan faktor kapasitas kualitas pembangkit listrik.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina (Persero) Elia Massa Manik mengatakan, harga minyak dunia memang mengalami kenaikan. Pada November 2017, rata-rata harga minyak mencapai 50 dolar AS per barel. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 38 dolar AS per barel.

"Pengaruh minyak dunia ke harga BBM itu kan tergantung harga rata-rata. Kita lihat nanti tahun 2018 bagaimana perkembangannya," ujar dia. 

Kebijakan tepat

Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menilai bahwa pemerintah memang sudah seharusnya tidak menaikan harga BBM dan tarif listrik tahun depan. Pasalnya, perekonomian nasional belum sepenuhnya pulih dan konsumsi rumah tangga juga masih tertekan.

"Kebijakan tidak menaikkan BBM dan TDL penting untuk menjaga inflasi tahun depan. Kalau inflasi tinggi, ekonomi yang baru saja pulih bisa kembali tertekan. Konsumsi masyarakat dan sektor riil akan kembali melambat," katanya.

Perlambatan konsumsi rumah tangga yang terjadi sepanjang 2017, menurut dia, juga sejatinya terjadi karena keputusan pemerintah mencabut subsidi pelanggan listrik rumah tangga berkapasitas 900 VA yang termasuk kategori mampu. Akibatnya, daya beli kelompok masyarakat menengah tertekan.

Di sisi lain, menurut dia, saat ini harga minyak mentah relatif terjaga dan diprediksi masih akan berada di bawah level 60 dolar AS per barel tahun depan. Dengan demikian, kata Acuviarta, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM dan tarif listrik tahun depan.***

Baca Juga

Investor Muda Dominasi Pasar Modal

JAKARTA, (PR).- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor di pasar modal mencapai 1,1 juta sampai dengan 20 Desember 2017. Jumlah investor tersebut ternyata didominasi oleh investor muda.

Inflasi 2017 Capai 3,61%

JAKARTA, (PR).- Badan Pusat Statistik merilis indeks harga konsumen Indonesia tahun kalender 2017.