Hasil Survei: Benar, Penguatan E-Commerce Lemahkan Ritel

Belanja online/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Hasil survei terbaru Lembaga Riset Telematika Sharing Vision menunjukkan, penurunan daya beli masyarakat bukanlah penyebab bergugurannya ritel di Indonesia. Seperti halnya tren global, pelemahan ritel, khususnya yang bergerak di sektor fesyen, disebabkan adanya pergeseran gaya hidup, dari belanja konvensional menuju digital.

Demikian diungkapkan Chief Sharing Vision, Dimitri Mahayana, di The Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, akhir pekan ini. Ia memprediksi, tahun depan jumlah ritel fesyen yang berguguran di Indonesia akan semakin banyak seiring dengan semakin tingginya penetrasi e-commerce.

"Ekonomi dan daya beli masyarakat tidak turun, tapi (cara belanjanya) bergeser ke online. Ini terkonfirmasi dari hasil survei terbaru Sharing Vision pada Oktober-November tahun ini terhadap 808 responden yang pernah berbelanja online. Survei dilakukan di sejumlah kota besar," katanya.

Berdasarkan hasil survei tersebut, pergeseran pola belanja masyarakat dari konvensional ke digital (online) bervariasi untuk setiap kategori produk, mulai dari 3% sampai 60%. Untuk tiket pesawat, kereta api, dan sarana transportasi lain, menurut Dimitri, pergeserannya sudah mencapai 80%-90%.

Disusul pergeseran transaksi pulsa dan token prabayar ke online sebesar 60%; makanan dan minuman 33%; buku, hobi, dan koleksi 32%; kosmetik dan alat kecantikan 24%; handphone 16%; laptop 12%; alat elektronik 5%; serta groceries 3%. Sementara untuk produk fesyen dan mode, pergeserannya mencapai 22%.

"Hasil survei menunjukkan, nominal transaksi per kategori yang mereka lakukan dalam tiga bulan terakhir di toko online dan yang biasa mereka habiskan sebelumnya di toko offline mirip. Berarti ada transaksi yang hilang di toko offline. Tidak heran jika tutuplah beberapa toko fisik," tuturnya.

Tren terus meningkat

Ia memastikan, ke depan tren pergeseran tersebut akan semakin besar. Dengan kondisi tersebut, tahun depan iklim usaha konvensional yang tidak mengadopsi online akan semakim berat. Ritel di sektor fesyen dipastikan akan semakin banyak yang tutup, mengingat saat ini pergeseran transaksinya sudah mencapai 22%. 

"Khusus untuk supermarket dan minimarket, masih akan bertahan. Itu karena tren pergeseran transaksi groceries masih rendah, baru 3%," ujarnya.

Ia mengakui, nominal transaksi e-commerce di Indonesia memang masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan ritel konvensional. Jumlah netizen yang sudah berbelanja online pun baru mencapai 10 juta orang dari sekitar 120 juta pengguna internet di Indonesia. Namun, menurut Dimitri, pertumbuhannya sangat pesat.

"Pertumbuhan e-commerce di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan rata-rata global. Saat ini kontribusi e-commerce terhadap seluruh sektor perdagangan baru mencapai 2%-3%. Tahun depan akan naik menjadi 5%," tuturnya.

Potensi e-commerce di Indonesia tumbuh 39,6% per tahun. Tahun ini transaksinya diprediksi mencapai Rp 561,8 triliun dan diperkirakan akan menyentuh Rp 1.500 triliun pada 2020.

Tingginya potensi pertumbuhan e-commerce, menurut dia, juga karena hingga saat ini Gojek sebagai salah motor penggerak akselerasi belanja online, belum masuk ke sejumlah kota besar di Indonesia. Ia mengaku yakin, jika Gojek sudah masuk, pertumbuhan e-commerce di Indonesia akan semakin meroket.

Di Sleman, 89 Minimarket Terancam Disegel

Bisnis konvensional mati?

Namun, Dimitri memastikan, boomingnya tren belanja online tidak akan mematikan bisnis konvensional. Kedua sektor bisnis tersebut akan saling melengkapi dan akan mencapai kesetimbangan dengan prediksi kontribusi masing-masing mencapai 50%. 

"Itu juga masih butuh waktu. Untuk fesyen misalnya, e-commerce fesyen memerlukan waktu sekitar tiga sampai lima tahun lagi untuk mencapai kontribusi 50%. Selain karena penetrasi internet yang belum merata ke seluruh wilayah Indonesia, sebagian masyarakat juga masih sulit melepaskan kebiasaan belanja konvensional," ujar Dimitri.

Ia menilai, kondisi ini jangan dilihat dari sisi negatif. Menurut Dimitri, boomingnya online justru harus dilihat sebagai peluang oleh seluruh pelaku ekonomi, baik UMKM maupun pelaku usaha besar. Ke depan, mau tidak mau, suka tidak suka, semua sektor usaha harus go online, mengikuti tren era ekonomi digital.***

Baca Juga

Konstruksi PLTU Molor, Pasokan Listrik Aman

BANDUNG, (PR).- Keterlambatan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu 2 x 1.000 Mega Watt (MW) dipastikan tidak akan mengganggu