Ini Alat Penghemat Listrik yang Kian Laris di Industri

AI RIKA RACHMAWATI/PR

BANDUNG, (PR).- Permintaan alat penghemat listrik untuk pelanggan industri dan bisnis besar terus menanjak. Kondisi tersebut dipicu terus merangkaknya tarif listrik dari tahun ke tahun dan kian ketatnya persaingan usaha setelah pemberlakuan sejumlah perjanjian pasar bebas.

Demikian diungkapkan General Manager PT Imani Prima, Wahyun, di sela Seminar dan Gathering Asosiasi Chief Engineer Jawa Barat (Jabar) di The Trans Luxury Hotel, Jln. Gatot Subroto, Bandung, Sabtu 18 November 2017. Menurut dia, untuk memenangkan persaingan, pelaku usaha dan bisnis terus berupaya meningkatkan efisiensi, termasuk dalam penggunaan tenaga listrik.

"Lost tenaga listrik dari penggunaan equipment industri biasanya mencapai 30%. Sementara tagihan listrik industri besar bisanya mencapai Rp 500 juta hingga miliaran rupiah," tuturnya.

Umumnya, biaya listrik memberikan kontribusi antara 5% sampai 20% terhadap ongkos produksi, tergantung jenis usaha. Industri ban, semen, baja, serat sintesis, dan kimia adalah industri dengan konsumsi energi listrik terbesar.

"Pada 2000 kami melakukan riset untuk membuat alat penghemat listrik. Kami berhasil membuat alat yang bisa menghemat penggunaan energi listrik hingga 15%. Alat ini bisa digunakan untuk minimal 100 kilo Volt Ampere daya terpasang," ujarnya.

Alat tersebut, menurut dia, mulai dikomersilkan pada 2005. Ia mengklaim, respon pasar cukup bagus. Target penjualan tahunan yang mereka bidik untuk 10 Mega Volt Ampere daya terpasang bisa terealisasi.

Akan tetapi, menurut dia, seiring dengan terus meningkatnya tarif listrik, permintaan alat yang diklaim 100% produk anak bangsa tersebut terus meningkat. Tahun ini realisasi penjualan diprediksi mencapai 20 Mega Volt Ampere daya terpasang.

Go global

Wahyun mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus menggarap pasar lokal sambil mempersiapkan untuk memasuki pasar ASEAN. Mereka sedang dalam proses membuka kantor perwakilan di Singapura, sebagai pintu gerbang ke pasar regional dan global.

"Singapura memang bukan negara industri. Akan tetapi, ia pintu masuk strategis ke pasar global. Makanya, Singapura menjadi negara pertama yang kami bidik," tutur Wahyun.

Ia memprediksi, proses perizinan pendirian  kantor perwakilan di Singapura akan selesai pada tahun depan. Dengan demikian, pada awal 2018 alat penghemat listrik tersebut sudah bisa dipasarkan ke negara-negara di ASEAN, khususnya Vietnam, Myanmar, dan Malaysia.

"Kami optimistis, produk kami bisa diterima dengan baik di pasar ASEAN. Selain sudah mengantongi sertifikasi dari B2TKE BPPT, alat ini juga menyediakan fitur pemantauan penghematan secara realtime melalui aplikasi, baik laptop maupun selular," ujarnya.

Alat tersebut, menurut dia, tidak dijual dalam bentuk jadi, melainkan kostumisasi sesuai dengan kebutuhan klien. Wahyun mengatakan, rata-rata klien industri menggunakan hingga 10 unit alat penghemat listrik.***

Baca Juga

Warga Terdampak PLTU Indramayu Diberikan Program Pelatihan

BANDUNG, (PR).- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Jawa Bagian Tengah (JBT) I menggelar pelatihan pengelasan bagi warga Desa Sumuradem dan Desa Patrol Baru, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu.

Kualitas SDM TI di Indonesia Meningkat

BANDUNG, (PR).- Kualitas sumber daya manusia (SDM) teknologi informasi (TI) di Indonesia terus meningkat. Gap kemampuan antara SDM TI di dalam dan luar Pulau Jawa pun kian berkurang, seiring dengan semakin derasnya arus informasi.

Telkom Akan Buka 35 Digital Grapari

BANDUNG, (PR).- PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom) menargetkan untuk membuka 35 Digital Grapari Telkom Group di seluruh Indonesia hingga akhir tahun depan.