Diduga Masih Produktif, Empat Sapi Betina Nyaris Disembelih

Memeriksa Sapi/ASEB BUDIMAN/PR
TIM Upsus Siwab memeriksa dokumen dan kondisi sapi betina yang diduga masih produktif, tetapi akan dipotong di RPH Pagaden, Kabupaten Subang, Selasa, 10 Oktober 2017.*

SUBANG, (PR).- Tim Supervisi Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau (Upsus Siwab) menemukan lima sapi betina yang akan dipotong saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) Rumah Potong Hewan Pagaden, Kabupaten Subang, Selasa, 10 Oktober 2017 malam. Kendati kelima sapi betina itu diklaim terjangkit gangguan reproduksi permanen, Tim Upsus Siwab menilai empat ekor di antaranya masih bisa disembuhkan sehingga agar dikembalikan kepada daerah asalnya, Jawa Tengah.

Kepala Subdirektorat Pengawasan Sanitari dan Keamanan Produk Hewan Agung Suganda mengaku menyangsikan kelima sapi betina itu mengalami gangguan reproduksi permanen. Dari postur sapi betina itu, dia menilai sapi betina itu masih potensial karena usianya baru lima tahun dan masih bisa beranak hingga usia delapan tahun.

"Di RPH ini ditemukan lima sapi betina, tak ada jantan satu pun. Kelimanya gangguan reproduksi pencernaan. Apa benar?" ujar Agung, Rabu, 11 Oktober 2017.

Dari Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR) dari daerah asalnya, Pati, Jawa Tengah, 4 sapi terkena kista dan 1 sapi mengalami atropi ovarium. Namun, Agung mengaku, tidak yakin semua sapi betina tersebut sakit permanen.

"Yang empat masih bisa disembuhkan dengan manajemen pakan. Ini sapi-sapi potensial untuk beranak. Perawakannya juga masih bagus. Ini sayang banget, sapinya mungkin masih produktif," tutur Agung.

Untuk menjaga populasi sapi betina agar tidak mudah dipotong begitu saja, Agung meminta Kabid Keswan Kesmavet Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat Arif Hidayat dan Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Subang Rahmat Faturahman untuk menolak empat sapi yang terkena kista karena dinilai masih bisa disembuhkan. Dengan ketegasan ini, diharapkan menjadi pelajaran agar tidak ada lagi pedagang atau peternak yang memotong sapi betina produktif

Kabid Keswan Kesmavet DKPP Jabar Arif Hidayat menyatakan, pelaku sudah melakukan hal serupa dan pernah ditolak sebelumnya. "Ini orang yang sama yang pernah ditolak. Dulu, tidak ada kesesuaian dokumen. Di dokumen jantan, nyatanya betina," ujarnya heran.

Omod, seorang pemotong yang menerima  sapi asal Pati Jateng, menampik kelima sapi betina itu datang atas permintaannya. Menurut dia, kelima sapi itu dikirim langsung oleh pedagang atau pemilik peternak dari Pati Jawa Tengah.

Omod mengaku, dia berani menerima kelima sapi betina itu karena dalam SKSR tertera sudah tidak produktif. Meski demikian, dia tak merugi jika memang kembali ditolak karena belum terjadi transaksi dengan pemilik ternak.

"Dari sananya ada suratnya (SKSR). Kalau ini ditolak, ya kita kembalikan karena belum bayar. Kalau saya ditolak, yang lain juga ditolak," ucapnya.***

Baca Juga

Disidak Polisi, Jagal Sapi Waswas

SUBANG, (PR).- Semalam, Selasa, 10 Oktober 2017, Tim Supervisi Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau (Upsus Siwab) Kementerian Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat melakukan inspeksi