Pakaian dan Alas Kaki Asal Bandung Tembus Las Vegas

Ilustrasi/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Produk alas kaki dan pakaian jadi Indonesia dipamerkan dalam "Sourcing at Magic" di Las Vegas, Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan yang ikut serta itu berasal dari Bandung. Ajang itu merupakan bagian dari rantai pasok global untuk industri pakaian jadi, alas kaki, dan mode di Las Vegas, Amerika Serikat pada 13-16 Agustus 2017 lalu.

Keikutsertaan Indonesia dalam pameran internasional tersebut merupakan bagian dari proyek Bantuan Perdagangan dan Sektor Swasta Kanada-Indonesia (TPSA). Proyek itu merupakan kerja sama antara Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI dan Dewan Konferensi Kanada.

"Perusahaan-perusahaan Indonesia yang kompetitif dan mampu memadukan tradisi kerajinan dengan teknik modern kami pilih untuk mengikuti pameran kali ini. Kami mendorong semua pihak dalam rantai pasok alas kaki dan pakaian jadi internasional menjelajahi dan menemukan peluang baru dalam pengadaan bersama perusahaan-perusahaan Indonesia ini," kata perwakilan TPSA, Rony Soerakoesoemah seperti diberitakan Kantor Berita Antara, Jumat 8 September 2017.

TPSA memfasilitasi 5 produsen alas kaki yakni Main Street, Queen Pacific Sukses Abadi, Fortuna, Top Torch International, dan Venamon. Tiga nama terakhir berasal dari Bandung. Selain itu juga ada 6 perusahaan pakaian jadi yaitu Bule Bule Garment, Dekatama Centra, Sakura Garment, Tiga Selaras Bersama, World KNK Surya Anugerah, dan Unique Busana Lestari, untuk berpartisipasi dalam pameran tersebut.

Kesebelas perusahaan tersebut telah dipilih dan dilatih oleh para konsultan ahli sebagai bagian dari program TPSA senilai 12 juta dolar Kanada yang berjalan hingga 5 tahun. Berbekal keunggulan dalam hal rancangan dan fleksibilitas untuk menghadapi tantangan persaingan ritel yang ketat sekarang, perusahaan-perusahaan asal Bandung, Jakarta, dan Solo itu mengusung berbagai rancangan modern yang variatif dan memiliki banyak pilihan menarik bagi konsumen global.

"Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya menerapkan proses pengolahan yang ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan partisipasi perempuan dalam semua tahapan kegiatan usaha, sehingga memungkinkan keberadaan sumber ilham, pendidikan, inovasi, dan sumber daya yang mengagumkan. Hal ini membuat proposisi nilai yang ditawarkan sangat menarik untuk memajukan bisnis ritel," tutur Rony.

Persaingan internasional

Sepanjang acara pekan itu, setiap perusahaan bertemu dengan calon pembeli dari Kanada dan bertemu perwakilan perusahaan internasional yang tengah mencari sumber pengadaan alternatif, terutama dari Tiongkok. "Sebagian perusahaan kita berhasil mendapatkan order pembelian, namun yang jelas semua perusahaan menerima pesanan untuk mengirimkan sampel yang akan menjadi ujian pertama untuk mengetahui penerimaan atas produk mereka dari segi mutu dan desain," ujarnya.

Sepanjang penyelenggaraan acara, setiap perwakilan berkesempatan mengunjungi stan pameran peserta dari lebih dari 40 negara untuk mengenal produk dan mempelajari rancangan stan mereka, yang semuanya merupakan bagian dari proses pembelajaran dan pekerjaan rumah untuk mempersiapkan diri dalam rangka mengikuti ajang pameran Magic tahun depan.

Setelah berpartisipasi dalam salah satu pameran dagang terbesar di dunia, perusahaan-perusahaan Indonesia itu kini berharap dapat terus mengembangkan produk sekaligus perusahaan mereka untuk menghadapi persaingan di taraf internasional. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia telah mengekspor produk tekstil dan pakaian jadi senilai lebih dari 11 miliar dolar AS.

Negara tujuan ekspor alas kaki Indonesia antara lain AS (31 persen), Uni Eropa (27 persen), dan Jepang (7 persen). Ekspor dari Indonesia mengalami tren positif dalam kurun beberapa tahun terakhir dipengaruhi banyaknya perusahaan yang memproduksi merek terkenal dan harga produksi Indonesia yang dinilai kompetitif dibandingkan Tiongkok.***

Baca Juga

Wakaf Produktif ala Warung Nasi Ampera

BANDUNG, (PR).- Selama ini, wakaf hanya dikenal dan ditujukan untuk masjid, sekolah, hingga sarana ibadah lainnya. Seiring perjalanan waktu, muncul kembali konsep wakaf produktif yang sebenarnya sudah dijalankan sejak zaman Rasulullah.

Cegah Gejolak, Data Produksi Beras Harus Dibenahi

JAKARTA, (PR).- Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas, mengatakan, klaim Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyatakan adanya surplus beras sebanyak 17,6 juta pada akhir 2017 lalu, telah membuat pemerintah t

Google Flights Dapat Memprediksi Jadwal Penundaan Penerbangan

GOOGLE meluncurkan beberapa fitur baru pada Google Flights untuk membantu orang-orang mengatasi beberapa hal dalam perjalanan yang menggunakan penerbangan, yakni “delay” atau penundaan dan masalah mengenai tarif Basic Economy yang lebih mu