Ekspor Teh ke Eropa Terhambat Antrakuinon

Petani teh/TITO ROHMATULLAH
SEJUMLAH petani memetik daun Teht menggunakan mesin pemetik di Kompleks Perkebunan Teh Sukawana, Lembang, Kabupaten Bandung, Kamis 27 Juli 2016.*

SOLOK SELATAN, (PR).- Ekspor teh Indonesia dilarang masuk ke Eropa akibat melebihi ambang batas zat antrakuinon sebesar 0,02 persen. ‎Hal itu menyebabkan volume ekspor teh di Indonesia anjlok.

Direktur PT Mitra Kerinci Yosdian Adi Pramono (RNI Group) mengatakan, ekspor teh di perusahaannya turun 75 persen. Hal itu‎ karena produk ekspor tehnya dilarang masuk ke Eropa yang menerapkan kebijakan ambang batas zat antrakuinon pada tahun lalu. Setiap teh yang masuk ke Eropa harus diuji dulu oleh laboratorium Eurofin. "Tahun lalu kami sempat tidak boleh masuk karena kandungan antrakuinon di teh sebesar 0,04 persen," ujar Yosdian kepada "PR" di Perkebunan Teh Mitra Kerinci, Desa Liki, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Jumat‎ 28 Juli 2017.

‎Menurut Yosdian, zat antrakuinon dinilai berbahaya karena menjadi pemicu kanker. Meskipun demikian, penerapan batas ambang sebesar 0,02 persen dipertanyakan. Sebab ambang batas kandungan zat tersebut dinilai tidak logis. "Untuk kentang yang baru dipanen saja, kandungan antrakuinonnya sudah 0,1 persen. Ini untuk teh batas ambangnya harus maksimal 0,02 persen. Jangan sampai pelarangan ini terjadi karena politik dagang," ujar dia.

Yosdian mengatakan, hampir semua negara produsen teh terdampak pada kebijakan tersebut seperti Srilanka, Tiongkok, dan Taiwan. "Sebenarnya ini bukan Indonesia saja, tapi teh dari negara negara lain juga‎ tidak bisa masuk," ujarnya.

Penerapan kebijakan tersebut menyebabkan stok komoditas teh di Eropa menjadi berkurang drastis. Akibatnya, harga teh di Eropa saat ini menjadi mahal. "Ini yang membuat Eropa kembali melakukan penelitian ulang terhadap ambang batas tersebu. Sekarang masih dilakukan penelitian ulang itu‎," ujar dia.

Menurut Yosdian, perusahaannya berupaya untuk menekan kandungan antrakuinon dalam teh yang diproduksinya. Diduga kandungan antrakuinon yang tinggi disebabkan oleh asap dalam pembakaran kayu yang terjadi dalam proses pembuatan teh. Namun sebenarnya aroma kayu tersebut merupakan nilai yang dicari oleh ‎pasar konsumen di Eropa.

"Sekarang kami sudah bisa menekan menjadi 0,01 persen dan berhasil memasukkan ekspor teh ke Perancis awal tahun ini. Namun ekspor teh akan bisa naik lagi jika kebijakan ambang batas itu ditinjau ulang," ujarnya.

Lobi ekspor teh ke Eropa

General Manager ‎Tenant dan Comercial PT Mitra Kerinci Yohanes Agung mengatakan, Dewan Teh Indonesia dan Asosiasi Teh Indonesia sudah mengajukan keberatan kepada Kementerian Perdagangan. "Kami juga bekerja sama dengan negara produsen teh lainnya untuk mengajukan lobi ke Eropa," ujar dia.

Selain ke Eropa, Yohanes mengatakan, Mitra Kerinci juga melakukan ekspor ke negara lainnya seperti Taiwan dan Maroko. Meskipun demikian, pengiriman utama lebih banyak ke Eropa khususnya Belanda yang menjadi pusat pelelangan teh dunia.***

Baca Juga

Impor Teh Vietnam Matikan Produk Lokal

PADANG, (PR).- Perkebunan teh Indonesia banyak yang tutup dan melakukan konversi lahan ke komoditas lain. Hal itu salah satunya disebabkan oleh impor teh Vietnam yang deras masuk ke Indonesia.

BI: Saat Ini Momentum Tepat Redenominasi Rupiah

JAKARTA, (PR).- Bank Indonesia mendorong agar Rancangan Undang-undang Redenominasi Rupiah bisa masuk Program Legislasi Nasional tahun ini. Saat ini dinilai merupakan momentum yang tepat karena kondisi ekonomi terkendali.

Anomali Cuaca, Petani Garam Sudah 1,5 Tahun Menganggur

JAKARTA, (PR).- Ribuan petani garam di Indonesia sudah tidak melakukan produksi selama 1,5 tahun. Ketergantungan tinggi pada alam menyebabkan petani tidak bisa melakukan proses produksi saat terjadi anomali cuaca.

Gara-gara Media Sosial, Pola Konsumsi Masyarakat Berubah

JAKARTA, (PR).- Media sosial terbukti telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Kebutuhan primer seperti sandang bahkan tergeser oleh rekreasi yang sebelumnya merupakan kegiatan mengisi waktu luang.