Peternak Ayam Khawatir Jagung Langka pada Juli-Agustus

SEJUMLAH petani jagung sedang mengupas jagung di pinggir kebun jagung mereka di Desa Cibodas, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Mjalengka, Minggu (21/2/2016).*
TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
SEJUMLAH petani jagung sedang mengupas jagung di pinggir kebun jagung mereka di Desa Cibodas, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Mjalengka, Minggu (21/2/2016).*

BANDUNG, (PR).- Peternak ayam khawatir kelangkaan jagung yang menjadi pakan ternak pada Juli dan Agustus. Kelangkaan jagung yang berkontribusi 50 persen terhadap pakan ternak akan berpengaruh pada harga pokok produksi hingga harga jual kepada konsumen.

Demikian dikeluhkan oleh Pengurus Asosiasi Pinsar Petelur Nasional (PPN) Jawa Barat, Awan Sastrawijaya, kepada Pikiran Rakyat. Menurut dia, keluhan masalah ketersediaan jagung untuk ternak sudah terjadi dalam dua tahun terakhir.

"Jagung 1-2 tahun terakhir, sebenarnya Juli-Agustus panen kurang sehingga untuk dapat jagung makin susah," kata Awan, Kamis 29 Juni 2017.

Dia menjelaskan, jagung membutuhkan masa penanaman sekitar 100 hari. Sebagai komoditas pertanian, jagung sangat tergantung cuaca dan curah hujan yang cukup serta aliran irigasi yang baik.

Peternak rugi

Apabila jagung yang berkontribusi 50 persen terhadap pakan langka, Awan menyatakan, kerugian peternak akan semakin besar. Harga dasar atau pokok dalam memproduksi telur akan tinggi yang kemungkinan besar akan berimbas pada harga jual kepada konsumen.

"Jagung langka, otomatis harga akan naik. Harga modal untuk telur akan tinggi," tutur Awan.

Apalagi, Awan mengungkapkan, mulai 3 Juli, harga pakan jadi pabrikan akan naik. Selama ini, sebagian peternak rakyat ada yang membuat pakan sendiri dan ada pula yang membeli pakan jadi dari pabrikan. Dengan kemungkinan besar jagung langka dan kenaikan pakan jadi membuat peternak semakin kebingungan untuk menyiasati produksi.

"Pakan jadi naik Rp 100 per kg. Dari sekitar Rp 5.200 per kg menjadi Rp 5.300 per kg. Satu ekor ayam itu konsumsi 120 gram pakan per hari yang 50 persen terbuat dari jagung. Sementara 50 persen lagi campuran lain, seperti dedak dan konsentrat," katanya.

Jagung Lokal

Sementara itu, Awang menyebutkan, jagung lokal malah diserbu pabrik pakan. Sebagai perusahaan raksasa, kebutuhan pakan mereka banyak yang didukung kekuatan finansial yang baik.

"Jagung lokal terserap industri besar. Beda dengan peternak rakyat yang relatif kecil dan finansial terbatas," ujarnya.

Idealnya, menurut Awan, pemenuhan kebutuhan dalam negeri diseimbangkan dengan keran impor agar pabrik ataupun peternak mendapat pasokan. Apabila kelangkaan terjadi, dia khawatir harga jagung akan melonjak drastis seperti tahun 2016 dari Rp 3.000-an menjadi sekitar Rp 7.000 per kg.

Dia menilai, klaim Kementerian Pertanian bahwa produksi jagung dalam negeri surplus hanya di atas kertas. Pasalnya, data Kementan, Badan Pusat Statistik, dan US Department of Agriculture itu berbeda-beda. Kenyataannya, peternak sulit memperoleh jagung karena diduga data surplus jagung tidak murni.

50 persen lebih mahal

"Datanya rancu. Data itu murni atau nggak. Jagung itu ada yang konsumsi manusia dan ternak. Yang dimaksud data kementan itu jagung manis dan tawar. Saya pikir itu yang perlu diperbaiki," katanya.

Saat ini, Awan menyebutkan, harga jagung untuk pakan ternak sebesar Rp 4.700 per kg, sedangkan harga jagung dunia Rp 3.200 per kg. Dengan demikian, harga jagung Indonesia 50 persen lebih mahal dari jagung dunia.

"Kalau harga pokok telur mahal, bagaimana masyarakat dapat telur murah. Sekarang, harga pokok mahal, tapi harga jual rendah," ujar Awan.***

Baca Juga

Sinergi BUMN Hadir di ITB

BANDUNG, (PR).- Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk bersinergi dengan PT Indonesia Asahan Aluminium dan ITB untuk berbagi dengan mahasiswa seputar peran strategis pemerintah dalam mewujudkan ekonomi berkeadilan.

Harga Bahan Makanan Terjaga, Inflasi Oktober Rendah

JAKARTA, (PR).- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis indeks harga konsumen nasional bulan Oktober 2017 mengalami inflasi sebesar 0,01 persen. Inflasi disumbang oleh kenaikan pada makanan jadi dan rokok kretek.