OJK Minta Layanan Perbankan Syariah Setara Bank Konvensional

Bank syariah/ADE BAYU INDRA/PR
PETUGAS bank melayani nasabah di Bank Syariah Bukopin, Jalan LRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis 13 Oktober 2016. Perbankan syariah mulai banyak dilirik nasabah. Hal itu yang berdampak positif pada market share bank syariah hingga mencapai 5,1 persen per September 2016.*

JAKARTA, (PR).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta industri perbankan syariah terus memperbanyak produknya sehingga setara dengan layanan perbankan konvensional. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melayani keuangan digital untuk menarik minat masyarakat dan pengembangan bisnis syariah di wisata halal. 

Kelompok Pengawas Spesialis Teknologi Informasi Departemen Perbankan Syariah OJK, Bayu Endrasasana, ‎mengatakan, dalam industri perbankan terdapat empat kategori namun perbankan syariah baru masuk dalam fase kategori dua.

 Menurut dia, perbankan syariah yang sudah masuk pada kategori dua, maka dapat melakukan kegiatan bisnis dengan layanan internet banking. Selain itu, dalam pengembangan bisnis, perbankan syariah bisa mengoptimalkan sektor halal.

 "Belum ada satu pun perbankan syariah masuk ke kategori tiga, kalau sudah kategori tiga, maka perbankan syariah bisa melakukan one stop shopping (produknya tidak terbatas)," kata Bayu dalam seminar Menuju Industri Keuangan Syariah yang Berkelanjutan di Era Digital, di Jakarta.

Pangsa pasar 

Dia menambahan, meski potensi pasar perbankan syariah sangat besar di Indonesia tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Saat ini pangsa pasar perbankan syariah baru mencapai 5,1 persen dari total keseluruhan industri perbankan di Indonesia.

 Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati mengatakan, pihaknya sedang membidik pengembangan wisata halal di Indonesia. Rencananya anak usaha PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk, ini akan mengembangkan dua pilot project wisata halal di Padang, Sumatera Barat dan Mataram, Lombok.

 "Dari bisnis kita dapat ujroh atau fee based income. Dari financing kita dapat bagi hasil. Kami juga akan galang bekerja sama dengan lembaga seperti travel biro untuk mengembangkan wisata halal tersebut. Dengan kerja sama melalui penyaluran pembiayaan ini, maka diharapkan wisata halal semakin berkembang," ujarnya saat ditemui dalam acara Milad BNI Syariah Ke-7 di Jakarta.

 Tak hanya menyasar pembiayaan ke lembaga, BNI Syariah akan menawarkan pembiayaan kepada individu yang terkait dengan wisata halal. Pihaknya akan menggandeng pemerintah lokal untuk menghidupkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat yang jadi tempat tujuan wisata.

Pembiayaan selama Ramadan

Dhias menambahkan, pembiayaan selama Ramadan ini mengalami kenaikan, bukan hanya konsumtif, tetapi juga  pembiayaan yang bersifat produktif, terutama di pembiayaan yang terhubung (linkage) dengan pihak lainnya seperti koperasi dan Baitul Mal wa Tanwil (BMT).

 "Jadi koperasi atau BMT, itu kan, di daerah banyak sekali anggotanya mengajukan pinjaman. Penarikannya luar biasa, terutama di bulan ini di 10 hari terakhir ini," ungkapnya.

 Penarikan pembiayaan yang telah disalurkan oleh anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sudah mencapai Rp 300 miliar. Padahal para periode biasanya, penarikan pembiayaan dalam sebulan hanya sekira Rp 50 miliar hingga Rp 70 miliar.

 Secara keseluruhan total pembiayaan yang telah disalurkan BNI Syariah sudah tumbuh 12 persen per akhir Mei 2017. Pertumbuhan ini diharapkan akan lebih tinggi tercermin dari penarikan pembiayaan oleh masyarakat.***

Baca Juga

Lembaga Keuangan Fiktif Menjadi Tantangan OJK

JAKARTA, (PR).- Tujuh Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) periode 2017-2022 telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis 6 Juli 2017.