Tingkat Kecelakaan Truk dan Angkutan Cukup Tinggi

Kecelakaan di To Purbaleunyi/JASA MARGA
PETUGAS mencoba memadamkan kebakaran truk setelah terlibat kecelakaan di KM 91 Tol Purbaleunyi, tepatnay di Dawuan Purwakarta, Kmais 18 Mei 2017.*

BANDUNG, (PR).- Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan angkutan dan truk sepanjang 2016-2017 hanya 2% dari seluruh pelanggaran. Akan tetapi, Kepala Subdirektorat Penegakkan Hukum Ditlantas Polda Jabar, Matrius, menyatakan, tingkat kecelakaan yang melibatkan angkutan truk cukup tinggi. Yakni sebanyak 20% dari total kecelakaan. 

Seperti diketahui, kecelakaan truk secara beruntun menewaskan empat jiwa di Jalan Tol Cipularang, Kamis 18 Mei 2017 malam. Insiden ini terjadi di kilometer 90+800 arah Jakarta. 

Untuk itu, Polda Jabar berusaha menekan angka pelanggaran dan kecelakaan truk dan angkutan barang ataupun orang. Saat ini, pihaknya tengah melaksanakan Operasi Patuh Lodaya 2017 yang dilaksanakan sejak 9 Mei 2017 sampai dengan 22 Mei 2017. Operasi tersebut merupakan persiapan kegiatan pengamanan arus mudik dan balik.

"Kami perkirakan sekitar 8 juta kendaraan, di mana 3 juta kendaraan mengarah ke Jawa Barat dan 5 juta terus ke arah timur," ungkap Matrius.

Menjelang operasi Ramadania atau pengamanan arus mudik dan balik, Matrius menegaskan akan menekan angka kecelakaan hingga 50% dari kejadian tahun lalu. Pada 2016, telah terjadi kecelakaan sebanyak 192 kecelakaan dengan korban meninggal tahun lalu 40 korban jiwa dalam dua pekan. 

"Untuk Operasi Patuh tahun ini, kami tekan hanya 86 kecelakaan. Tahun ini, kami targetkan tidak lebih dari 20 korban jiwa," ujar Matrius.

Distribusi komoditas

Sementara itu, industri kecil hingga besar menggenjot distribusi komoditas sejak awal Mei 2017. Sebelum kepolisian menghentikan operasional pengiriman barang beberapa hari menjelang Idulfitri. Sehingga lalu lintas dan tol pun dipadati truk dan angkutan industri.

Permintaan angkutan barang pun diperkirakan meningkat dari bulan-bulan sebelumnya mencapai 30% secara nasional dan 70% disumbang oleh Jabar.

"Peningkatan di jalan ini udah padat, 20%-30% peningkatannya. Kalau kita lihat di mana-mana, truk sudah berseliweran. Sejak bulan Mei ini sudah dimulai," ujar Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan saat dihubungi "PR", Jumat 19 Mei 2017.

Dia menerangkan, industri yang memanfaatkan jasa angkutan barang lebih banyak dari industri menengah dan kecil. Mereka mengantisipasi kebutuhan puasa dan Lebaran yang biasanya meningkat, terutama kebutuhan pangan pokok.

"Kemudian nanti juga ada penyetopan operasi sebelum Lebaran. Jadi ada beberapa hari truk tidak bekerja, berarti ada antisipasi untuk stok," ucap Tarigan.

Menurut dia, hal tersebut yang mendorong industri, pedagang, dan konsumen harus mempersiapkan itu. Selain industri menengah-kecil, industri besar dan kegiatan ekspor-impor pun memacu kegiatan pengiriman. 

"Industri juga sama mempercepat. Kegiatan ekspor impor juga sama. Jadi semua mereka memacu agar jangan sampai kecengklak pada masa penyetopan itu," katanya.***

Baca Juga