Ekonomi Global Melambat, BNI Syariah Tetap Catat Laba

Jajaran Direksi BNI Syariah/ISTIMEWA

JAKARTA, (PR).- Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah) selama triwulan III tahun 2016 mencatat peningkatan laba sebesar 37,42 persen dari Rp 156,62 miliar pada periode sama tahun 1015 menjadi Rp 215,23 miliar tahun ini. Pertumbuhan tersebut disokong ekspansi pembiayaan yang terjaga kualitasnya, kontribusi komposisi rasio dana murah, dan efisiensi operasional.

"Meskipun pertumbuhan ekonomi global melambat, namun BNI Syariah mencatat laba pada triwulan III tahun 2016 meningkat 37,42 persen dari Rp 156,62 miliar pada periode sama tahun 1015 menjadi Rp 215,23 miliar," kata Direktur Utama BNI Syariah, Imam Teguh Saptono di Jakarta, Kamis 20 Oktober 2016.

Dikatakan, BNI Syariah selama triwulan III/2016 mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 19,53 triliun, meningkat 15,09 persen dibandingkan periode sama tahun 2015 sebesar Rp 16,97 triliun. Kualitas pembiayaan terjaga baik dengan pembiayaan bermasalah (non performing financing -NPF) 3,03 atau meningkat dari tahun lalu yang mencapai 2,54 persen.

Namun secara industri diperkirakan NPF akan lebih dari 5 persen. "Kenaikan NPF ini karena ekonomi makro yang belum pulih, bahkan sejak tahun 2014 terjadi perlambatan ekonomi dan diperkirakan tahun 2017 baru mulai tumbuh," ujarnya.

Dari total pembiayaan tersebut, sebagian besar merupakan pembiayaan konsumer (53,46 persen), pembiayaan ritel produktif sebesar 22,55 persen, pembiayaan komersial sebesar 16,21 persen. Pembiayaan mikro sebesar 5,85 persen dan kartu pembiayaan Hasanah sebesar 1,93 persen.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 22,77 triliun atau meningkat dari tahun lalu yang mencapai Rp 18,93 triliun. Dengan komposisi dana murah (CASA) sebesar 47,42 persen mengalami peningkatan 43,76 persen dari tahun sebelumnya.

"Pada tahun 2016, pertumbuhan DPK kami yang paling tinggi dari tahun tahun sebelumnya," katanya.

Sementara pertumbuhan aset meningkat 17,88 persen dari Rp 22,75 triliun tahun lalu menjadi Rp 26,82 triliun tahun ini. Pertumbuhan aset ini didorong pertumbuhan pembiayaan sebesar 15,09 persen dan DPK sebesar 20,26 persen.

Dikatakan, hingga akhir tahun pembiayaan BNI Syariah akan mencapai pertumbuhan sebesar 13 persen. Sementara pada tahun 2017 diperkirakan pembiayaan akan mencapai 17 persen.

Sementara untuk DPK, dia memperkirakan sampai akhir tahun mencapai 15 persen sementara pada tahun 2017 mencapai pertumbuhan 12 persen. "DPK ini akan tumbuh karena banyaknya masyarakat yang menabung di umroh dan haji," ucapnya.

Sementara untuk laba BNI Syariah, diperkirakan, hingga akhir tahun akan mencapai Rp 260-270 miliar. Hal ini dikarenakan kebiasaan pada triwulan IV akan terjadi perlambatan bila dibanding dengan triwulan I-III.

"Biasanya pada triwulan IV perbankan juga selalu menganut sikap kehati-hatian dan juga melakukan alokasi peningkatan cadangan," tegasnya.

Sementara untuk peningkatan pendapatan, BNI Syariah akan melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan asuransi di tanah air. Dengan adanya kerja sama ini tentu akan mendapatkan fee base income yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan perusahaan.

"Strategi untuk mendapat fee base, kami akan kerja sama dengan beberapa perusahaan asuransi. Saat ini sudah dijajaki dan tinggal menunggu persetujuan dari OJK. Bila ini sudah disetujui maka secara langsung akan menambah pendapatan kami di tahun depan," kata dia.***

Baca Juga

1,8 Juta Ton Beras Impor Tak Tersalurkan dan Terancam Rusak

BOGOR, (PR).- Badan Urusan Logistik kesulitan menyalurkan beras impor yang mencapai 1,8 juta ton. Masyarakat dinilai belum membutuhkan beras impor, namun beras tersebut terancam rusak bila tidak segera disalurkan.

FishOn, Platform Navigasi ­bagi Nelayan Indonesia

POTONGAN lagu yang pasti kita kenal dengan baik ”Nenek Moyangku Seorang Pelaut!” ini pasti mengingatkan kita akan jati diri bangsa Indonesia sebagai ­negara maritim yang mempunyai potensi kelautan yang sangat besar.