Ingin Jadi Dokter? Daftar ke Daerah Ini

Ilustrasi/DOK PR

CIKARANG, (PR).- Keberadaan dokter dan tenaga medis rupanya sangat dibutuhkan di Kabupaten Bekasi. Meski berdekatan dengan ibu kota negara, daerah ini masih memerlukan diperlukan tambahan 401 dokter umum untuk melayani kesehatan bagi 3,6 juta penduduknya. Kekurangan ini dikhawatirkan akan memengaruhi penanganan medis pada pasien.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Bekasi Noor Aria Sofiana mengatakan, saat ini dokter di Kabupaten Bekasi baru berjumlah 1.399 orang. Sebanyak 360 orang di antaranya merupakan spesialis. Selain dokter umum, jumlah spesialis dan subspesialis pun tidak ideal.

"Jumlah ideal untuk dokter umum itu melayani 2.500 penduduk, artinya satu dokter berbanding 2.500 penduduk. Sedangkan spesialis itu idealnya melayani 10.000 penduduk. Maka tinggal dihitung saja kekurangannya,” kata Noor saat ditemui pada peluncuran pusat kesehatan jantung di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, Kamis 20 April 2017.

Diungkapkan Noor, persoalan kekurangan ini kerap terjadi di kota kecil, termasuk Kabupaten Bekasi. Jumlahnya masih terpusat di daerah kota besar sehingga tidak jarang untuk penanganan pasien didatangkan tenaga medis dari luar kota.

"Itu terjadi di Kabupaten Bekasi, kadang di suatu rumah sakit ada dokter tapi tidak mampu mencakup lonjakan pasien. Bukan tidak ada, tapi mereka kesulitan karena harus menangani begitu banyak pasien. Banyak yang justru berdomisili di Jakarta, atau Bandung. Maka ketika harus menangani pasien terhambat waktu karena jarak yang harus ditempuh," kata dia.

Dokter Spesialis

Kebutuhan ahli medis ini pun tak hanya terpaku pada dokter umum namun juga spesialis. Adapun rumah sakit yang tidak mampu mencukupi jumlah wajib spesialis. "Karena di Kabupaten Bekasi itu banyaknya rumah sakit tipe C dan D, maka cukup empat spesialis yang wajib dimiliki yaitu spesialis anak, penyakit dalam, obstetri ginekologi, dan bedah. Mereka punya tapi jumlahnya kurang jadi tidak men-cover," kata dia.

Penambahan jumlah ini, lanjut Noor, penting dilakukan setelah kini terjadi lonjakan pasien. Setelah dikeluarkannya program kesehatan, seperti BPJS, membuat masyarakat kini lebih sadar akan pentingnya memeriksakan kesehatannya.

Menurut Noor, persoalan kekurangan ini bisa diatasi dengan cara duduk bersama Dinas Kesehatan, pihak rumah sakit serta asosias profesi kesehatan lainnya. Dari pertemuan itu, nantinya dapat diketahui jumlah pasti petugas medis yang dibutuhkan.

“Kami sudah bicarakan dengan Dinas Kesehatan harus seperti apa, kita harus duduk bersama dengan para asosiasi seperti asosiasi bidan, perawat dan lainnya karena memang jumlahnya kurang memadai. Setelah diketahui jumlah petugas medis, yang dibutuhkan, maka dapat dikomunikasikan dengan dokter di daerah lain atau lulusan baru untuk bergabung di Kabupaten Bekasi. Saat ini pemetaan kesehatan di Kabupaten Bekasi belum diketahui,” kata dia.

Puskesmas

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Sri Eni mengakui kekurangan ini. Selain di rumah sakit, kekurangan juga terjadi di puskesmas. Untuk itu, Dinas Kesehatan ini tengah melakukan pemetaan di setiap fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas hingga klinik.

"Baiknya setiap puskesmas memiliki empat dokter. Begitupun yang terjadi di rumah sakit. Maka kami saat ini tengah meminta data di setiap rumah sakit, ada 46 rumah sakit, untuk mengetahui jumlah yang dibutuhkan. Memang benar setelah itu akan dikoordinasikan dengan asosiasi keprofesian lainnya," kata dia.***

You voted 'tidak peduli'.

Baca Juga

Ojek Konvensional Bekasi Bakal Gunakan Aplikasi

CIKARANG, (PR).- Perseteruan antara ojek konvensional dengan ojek berbasis aplikasi di Kabupaten Bekasi sepertinya segera terselesaikan. Sebuah aplikasi bakal disiapkan untuk para tukang ojek mendapatkan penumpang. Baik ojek modern maupun konvensional nantinya akan sama-sama berbasis daring.